Dilema Perawat Senior
Sisa waktu pembersihan otomatis: 11 jam 29 menit.
Maya berdiri di depan pintu ruang kerja Dr. Baskoro. Bunyi kunci magnetik yang menutup di belakangnya terdengar seperti vonis. Di balik kaca buram, lampu studio siaran baru saja padam, menyisakan koridor rumah sakit yang pucat dan dingin. Jantungnya berdebar kencang—bukan karena takut, tapi karena ia tahu Baskoro tidak memanggilnya setelah siaran hanya untuk basa-basi.
Di dalam, Baskoro duduk di balik meja mahoni yang terlalu rapi. Ia tidak menatap Maya. "Budi sekolah di mana?"
Pertanyaan itu menghantam Maya lebih keras daripada ancaman fisik. Ia tetap berdiri, menolak duduk di kursi kulit yang tampak seperti jebakan. "Kenapa, Dok?"
Baskoro menggeser mouse. Monitor menampilkan foto anak laki-laki berseragam sekolah di depan gerbang. Foto itu terlalu baru. "Sekolah bagus butuh administrasi yang rapi. Rumah sakit ini punya cara memastikan orang yang tak disiplin kehilangan banyak hal sekaligus. Gaji. Nama baik. Masa depan anak."
"Anda mengancam saya?"
Baskoro menoleh, senyumnya tipis dan sopan. "Saya mengingatkanmu pada realitas. Kalau statusmu terganggu, sekolah tidak akan menunggu dramamu selesai. Aku hanya butuh kepatuhan. Laporkan setiap akses yang Aris pakai. Itu saja."
Nama Aris membuat napas Maya tercekat. Mereka sudah tahu. "Kalau saya menolak?"
Baskoro mendorong map tipis ke tepi meja. Di sana tertera formulir evaluasi internal dengan nama Maya. Tanda merah sudah siap dicetak. "Satu catatan ketidaksesuaian prosedur, asuransi anakmu hilang, beasiswanya dicabut. Kau harus menjelaskan pada guru-gurunya kenapa ibumu tidak lagi bekerja di sini."
"Beri saya waktu," desis Maya.
"Kita semua kehabisan waktu, Maya. Pergilah. Aku akan tahu kalau kau bohong."
Begitu keluar, Maya berjalan cepat menuju ruang ganti staf. Ia harus mengambil kartu akses cadangan sebelum Baskoro memutus aksesnya. Ia menunggu Raka, petugas keamanan, lewat sebelum menyelinap ke ruang ganti yang berbau antiseptik dan kopi basi.
Loker 402. Maya menghitung empat detik jeda CCTV yang pernah Dimas ajarkan. Ia jongkok, membuka panel belakang loker, dan merogoh celah sempit. Jari-jarinya menyentuh amplop plastik berisi kartu akses, salinan chart, dan flash drive yang Aris titipkan.
Suara langkah sepatu Raka terdengar di ambang pintu. "Pemeriksaan rutin."
Maya menahan napas, menekan punggungnya ke dinding besi. Raka masuk, senternya menyapu lantai. Cahaya itu berhenti tepat di loker 402. "Loker ini baru dibuka?"
Maya keluar setengah langkah, memegang gantungan seragam. "Ada apa, Pak? Saya baru selesai shift."
Raka menatapnya lama, matanya melirik saku Maya yang sedikit menonjol. "Ada pemeriksaan akses. Jangan tinggalkan barang pribadi di sini."
Begitu Raka pergi, Maya tidak membuang waktu. Ia berlari menuju atap. Angin malam menyambutnya, dingin dan tajam. Aris sudah menunggu di dekat pagar pembatas.
"Baskoro memanggilku," kata Maya tanpa basa-basi. Ia menyerahkan lipatan chart asli. "Dia mengancam Budi. Dia tahu segalanya."
Aris membuka lipatan kertas itu di bawah lampu atap yang berkedip. Matanya membelalak. Nama 7B hanyalah permulaan. Di bawahnya, barisan nama pasien dari berbagai unit tertulis dengan pola dosis yang identik. Label obat dicoret dan diganti dengan penenang umum. Inisial B-77-X tertera di setiap catatan koreksi.
"Ini bukan malpraktik," gumam Aris. "Ini sistem pemusnahan massal yang terorganisir."
Maya mengeluarkan potongan chart tambahan. "Ada lagi. Lihat di margin bawah."
Aris menunjuk baris kecil yang hampir tak terlihat: kode tanggungan karyawan dan revisi status pendidikan anak staf. "Mereka menggunakan sandera administrasi. Mereka tidak hanya membunuh pasien, mereka mengikat staf dengan ancaman masa depan keluarga."
Aris segera menghubungkan flash drive ke tabletnya. Progres unggahan ke server luar dimulai. 0%... 6%... 12%...
Layar tiba-tiba berubah merah. RISIKO INTERNAL TERDETEKSI.
"Aris?" suara Maya bergetar.
Sistem rumah sakit menolak unggahan. Ikon jam pengintai medis menyala merah terang. Angka 11 jam 29 menit di layar berkedip, lalu melompat turun drastis.
3 jam.
"Sistem mempercepat penghancuran arsip karena kita mencoba mengunggahnya," kata Aris, wajahnya pucat. "Mereka tahu kita punya bukti."
Di balik pintu akses atap, suara dentuman keras terdengar. Raka mendobrak pintu. Sekali. Dua kali. Engsel pintu mulai melengkung.
Maya menatap chart di tangannya, lalu ke pintu yang akan jebol. Ia menyadari satu hal: rumah sakit ini tidak hanya bisa menghapus kebenaran, mereka bisa menghapus hidup anaknya dalam hitungan jam.