Tembok yang Runtuh
Sisa waktu pembersihan data: 03:19:47.
Lampu panel di atas meja siaran berkedip merah. Di belakang kaca studio, monitor menumpahkan baris log yang melonjak tak beraturan. Sistem rumah sakit sedang dipaksa membersihkan dirinya sendiri. Alarm tidak berbunyi penuh; seseorang di kontrol sengaja menahannya agar studio tetap terlihat seperti acara bincang-bincang, bukan tempat eksekusi reputasi.
Maya berdiri membelakangi kamera, headset miring di leher. Ia tahu penonton tidak butuh hiasan panggung. Di sisi lain kaca, dua petugas keamanan menahan Aris dengan lengan dipelintir ke belakang. Kartu aksesnya sudah diblokir, tapi ia masih menggenggam flash drive kecil itu hingga ruas jarinya memutih.
Di depan lensa, Sinta berdiri kaku. Seragam abu-abunya berbau antiseptik. Ia tidak menatap kamera, melainkan menatap Dr. Baskoro yang baru saja melangkah masuk bersama dua staf manajemen. Baskoro tampak tenang, seolah ia datang ke rapat komite, bukan ke reruntuhan institusi.
“Matikan feed ini,” perintah Baskoro rendah.
Maya tidak menoleh. “Sudah terlambat, Dok. Penonton sudah melihat unggahan yang diserang DDOS. Sekarang mereka menuntut jawaban.”
Baskoro mengalihkan pandangan ke Sinta. “Bu Sinta, Anda perawat senior. Anda tahu prosedur. Jangan jadikan diri Anda bahan tontonan.”
Sinta menelan ludah, namun suaranya tetap tajam. “Saya pakai jalur internal selama tiga tahun. Laporan saya hilang. Keluhan saya dibalas mutasi. Pasien dipindahkan tengah malam tanpa persetujuan keluarga. Lalu namanya berubah di sistem.”
“Anda sedang stres,” potong Baskoro halus.
“Ny. Ratna bukan stres saya.” Sinta melangkah maju. “Saya catat semuanya. Bukan satu dua kejadian. Tahun demi tahun. Kapan pasien dipindah tanpa rekam jejak, kapan obat diganti, kapan jam jaga dipaksa menandatangani prosedur yang tidak mereka lakukan.”
Baskoro tersenyum tipis, meski garis di wajahnya mulai retak. “Anda membawa buku harian ke studio siaran? Itu bukan bukti, itu interpretasi emosional staf yang kecewa.”
“Bukan opini.” Suara Sinta dingin. “Ny. Ratna dipindahkan ke koridor belakang jam 02.14. Tanpa dokter jaga. Saya melihat troli yang digunakan bukan untuk pasien, tapi untuk membawa map steril yang sudah dibuka segelnya. Jam kematian dibuat cocok belakangan.”
Aris menatap Sinta. Itu bukan sekadar tuduhan; itu urutan kronologis yang mematikan.
Di ruang server, Raka muncul di monitor kecil. Wajahnya penuh bayang. “Aris, saya sudah cocokkan log asli. Akses ruang rawat Ny. Ratna dibuka pukul 02.11, ditutup manual pukul 02.18. Kamera lorong timur mati di rentang yang sama. Perintah pembersihan datang dari konsol direksi.”
Baskoro menoleh tajam ke monitor. “Matikan audio itu!”
“Tidak,” tegas Maya.
“Kalau sistem saya hancur, nama kamu ikut masuk laporan pidana,” ancam Baskoro pada Raka.
“Nama saya sudah masuk dari lama,” balas Raka. “Bedanya, sekarang saya tidak sendirian.”
Baskoro kembali menatap Aris. “Serahkan flash drive itu. Saya bisa hentikan proses disiplin. Saya bisa pastikan utang keluargamu lunas.”
Aris tertawa pahit. “Anda sudah bilang itu di ruang direksi. Berarti Anda cuma punya dua modal: ancaman dan uang orang lain.”
Sinta menarik napas panjang. “Saya belum bicara yang paling penting. Saya simpan catatan ini di tempat yang tidak bisa dihapus dengan satu klik.”
“Di mana?” desak Baskoro.
“Di tempat Anda tidak pernah mau cari.”
Sinta merogoh lipatan seragamnya. Ia menarik keluar tumpukan kertas kusut—dokumen asli, bertanda tangan, dan bertanggal. Ia mengulurkannya pada Aris. Saat Aris meraih dokumen itu, lampu studio dan ruang server padam serentak. Generator utama jatuh.
Kegelapan menyelimuti ruangan. Petugas keamanan mengencangkan pegangan pada Aris, namun lantai bergetar. Pintu bawah tanah terbuka otomatis karena sistem pengunci gagal sinkron. Aris ditarik paksa ke arah kegelapan, dokumen asli masih dalam genggamannya. Pintu menutup rapat, mengunci mereka di ruang bawah tanah yang sunyi.