Novel

Chapter 11: Setelah Jam Berhenti

Aris dan Sinta berhasil meloloskan diri dari kejaran keamanan rumah sakit di basement dengan memanfaatkan sisa daya sistem pintu otomatis. Mereka bertemu Maya di jalur siaran langsung dan berhasil menyerahkan dokumen asli malpraktik kepada pihak kepolisian di lobi. Meski berhasil mengungkap kebenaran, Aris kini harus menghadapi konsekuensi hukum atas tindakannya sendiri.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Setelah Jam Berhenti

Kegelapan di basement bukan sekadar ketiadaan cahaya; itu adalah jebakan yang dirancang dengan presisi. Di balik pintu baja ruang utilitas yang bergetar hebat akibat hantaman dari luar, Aris menyalakan lampu ponselnya. Cahaya putih yang tajam menyorot wajah Sinta yang pucat, namun matanya tetap fokus pada map transparan di tangan Aris.

"Jangan lepasin itu," bisik Sinta. "Kalau mereka ambil, habis kita."

Di luar, radio keamanan memuntahkan suara statik yang pecah. "...basement timur... target satu pria, satu perawat... jangan biarkan—" Kalimat itu terputus. Aris tahu itu bukan kepanikan biasa. Itu adalah perintah eksekusi dari atas.

Aris menatap panel di samping pintu akses darurat. Layarnya berkedip biru redup, menampilkan baris teks yang bergerak lambat: PURGE MODE: ACTIVE. Baskoro tidak hanya mematikan listrik; dia mematikan sistem agar pembersihan data manual berjalan tanpa hambatan digital. Sisa waktu di jam internal rumah sakit yang sempat ia lihat sebelum blackout adalah 03:19:47. Setiap detik adalah ancaman yang nyata.

"Baskoro pakai blackout buat menghapus semuanya," kata Aris dingin. "Dia tidak ingin ada jejak yang tersisa sebelum polisi masuk."

Benturan di pintu besi semakin keras. Logam berderit, memekakkan telinga. Aris tahu mereka tidak punya waktu untuk berdebat. Ia mencongkel penutup akrilik panel pintu otomatis. Jari-jarinya perih saat plastik tajam mengiris kulit, namun ia berhasil mengakses sirkuit di dalamnya. Ia menempelkan kartu aksesnya yang sudah diblokir, memaksa sistem membaca ulang siklus terakhir sebelum daya benar-benar mati.

Layar berkedip sekali. LOCKDOWN BASEMENT SECTOR C: FAILSAFE OVERRIDE READY.

"Sinta, lewat ventilasi," perintah Aris. Ia tidak menunggu jawaban. Ia menarik Sinta menuju celah sempit di langit-langit utilitas. Saat pintu baja di belakang mereka jebol dengan dentuman keras, Aris sudah menarik tubuhnya ke atas, menyisakan ruang kosong bagi keamanan rumah sakit yang kini hanya menemukan ruangan yang telah dikosongkan.

Mereka merangkak di antara pipa-pipa berdebu, napas memburu di tengah pengapnya udara basement. Aris memegang dokumen asli Sinta di balik jaketnya. Dokumen itu berisi catatan malpraktik Ny. Ratna yang tidak pernah masuk sistem digital—bukti bahwa pasien dipindahkan paksa ke ruang isolasi ilegal untuk dikosongkan sebelum waktu kematian resmi dicatat. Ini bukan kelalaian. Ini adalah efisiensi pembunuhan terencana.

Saat mereka mencapai ujung lorong servis, cahaya kamera studio yang menyilaukan muncul di balik tikungan. Maya berdiri di sana, napasnya memburu, kru siarannya masih mencoba mempertahankan sinyal yang tersendat.

"Aris!" teriak Maya. "Baskoro sudah memblokir semua pintu keluar utama. Tapi aku punya akses ke jalur kamera studio. Kalau kalian keluar lewat sana, kalian langsung muncul di depan polisi yang baru saja tiba di lobi!"

Aris menatap Sinta, lalu kembali ke Maya. "Jika kita masuk ke studio, kita tidak bisa kembali. Kita akan jadi umpan."

"Dunia sudah menonton, Aris!" balas Maya. "Berikan dokumen itu padaku, atau bawa sendiri dan tunjukkan pada kamera sekarang juga!"

Aris mengangguk. Ia memutar kunci panel pintu servis. Dengan satu tarikan paksa, pintu terbuka. Mereka berlari menuju cahaya studio, menyadari sepenuhnya bahwa begitu mereka melangkah ke sana, mereka bukan lagi penyelidik, melainkan bukti hidup yang tak bisa lagi disembunyikan oleh institusi mana pun.

Di lobi, polisi sudah menahan barisan. Baskoro berdiri di sana, jasnya rapi, namun wajahnya kehilangan topeng profesionalnya. Saat Aris menyerahkan dokumen asli ke tangan polisi, ia merasakan satu pintu terakhir di belakangnya menutup.

"Nama Anda akan kami catat sebagai saksi dan pelaku akses ilegal," kata petugas itu.

Aris tidak menjawab. Ia melihat Baskoro yang akhirnya kehilangan kendali. Saat ia berbalik untuk pergi, seluruh rumah sakit tenggelam dalam kegelapan total. Aris terjebak di ruang bawah tanah, namun di tangannya, kebenaran telah terlepas ke tangan yang tepat.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced