Novel

Chapter 9: Konfrontasi di Ruang Direksi

Aris tertangkap di ruang server saat Baskoro mencoba menyuapnya dengan melunasi utang keluarganya. Aris menolak, menyadari bahwa Baskoro hanyalah pion dari jaringan investor yang lebih besar. Di tengah konfrontasi, Sinta muncul membawa dokumen asli yang krusial.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Konfrontasi di Ruang Direksi

Sisa waktu pembersihan data: 03:20:00.

Aris tersungkur di lantai ruang server yang dingin, napasnya memburu. Dua petugas keamanan menekan bahunya ke rak besi, sementara di layar monitor utama, baris log bergerak liar. Kalimat merah menyala di sana: PEMBERSIHAN MANUAL DIAKTIFKAN OLEH DIREKSI.

Mereka tidak sekadar membungkam unggahan. Mereka sedang menghapus jejak dari dalam.

Dr. Baskoro melangkah masuk. Jas abu-abunya tampak kontras dengan kekacauan di ruangan itu. Ia tidak membawa pengawal tambahan; kehadirannya sendiri sudah cukup untuk membuat para petugas di sana tunduk. Baskoro berhenti tepat di depan Aris, menatapnya dengan ketenangan yang lebih tajam daripada ancaman fisik.

“Lepaskan dia,” perintah Baskoro. Suaranya rendah, tanpa emosi.

Petugas mundur, namun tetap waspada. Baskoro menatap Aris, seolah sedang menghitung harga yang harus dibayar untuk membungkam seorang auditor medis yang keras kepala.

“Kau sudah melangkah terlalu jauh, Aris,” ucap Baskoro pelan. “Kau mencuri file, mengunggah fragmen yang bahkan tidak kau pahami, dan sekarang kau terjebak di sini. Apa yang kau harapkan? Pahlawan?”

Aris mencoba berdiri, meski lengannya masih terasa nyeri. “Aku tahu Ny. Ratna dipindahkan secara ilegal. Aku tahu ini bukan kesalahan administrasi.”

Baskoro tidak membantah. Ia justru menoleh ke tablet kerja yang diletakkan di meja lipat portabel. Layar tablet itu menampilkan rincian utang keluarga Aris—pokok, denda, hingga bunga berjalan yang selama ini menghantui ibunya.

“Dua puluh empat jam,” kata Baskoro. “Semua lunas. Tak ada lagi telepon dari bank. Tak ada lagi cicilan yang membuat ibumu harus menjual cincin kawinnya. Tanda tangani pernyataan bahwa kau bertindak sendiri, bahwa unggahan tadi adalah manipulasi, dan kau bisa keluar dari sini sebagai staf yang khilaf.”

Aris menatap angka-angka itu. Itu adalah kebebasan yang selama ini ia impikan. Namun, di sudut matanya, ia melihat baris log sistem: Akses staf Aris diblokir permanen. Baskoro tidak menawarkan jalan keluar; ia menawarkan pengkhianatan yang akan membuang Aris ke jalanan tanpa martabat.

“Kau pikir ini akan selesai kalau aku diam?” tanya Aris.

Baskoro tersenyum tipis. “Kasus ini jauh lebih besar dari kau dan aku. Ada investor di atas semua ini. Mereka membeli reputasi dan akses data. Aku hanya orang yang memastikan meja ini tidak terbalik. Kalau kau menolak, kau akan ditahan atas pencurian data. Kartu aksesmu sudah mati. Seluruh gedung akan menutupmu seperti luka yang dijahit dari dalam.”

Alarm di langit-langit berbunyi dua kali. Hitung mundur di panel samping melonjak: 03:19:47. Waktu mereka menipis.

Aris melihat pintu akses di sisi kiri berkedip kuning—mode menunggu perintah. Ia harus menciptakan celah. Saat Baskoro lengah, Aris menghantam meja lipat hingga tablet itu jatuh dan pecah. Dalam kekacauan tersebut, ia menyambar flash drive dan map berisi surat pernyataan Sinta.

“Tahan dia!” teriak Baskoro.

Aris berlari, namun pintu magnetik terkunci rapat. Ia terpojok. Petugas keamanan mengepungnya. Namun, tepat saat Baskoro hendak memberikan perintah terakhir, pintu ruang server terbuka.

Sinta berdiri di sana. Napasnya terengah, seragamnya sedikit berantakan. Ia tidak menatap Baskoro, melainkan Aris. Dengan tangan gemetar, Sinta mengeluarkan dokumen asli yang selama ini ia sembunyikan di balik seragamnya—sebuah bukti yang akan mengubah segalanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced