Detik-Detik Terakhir
Sisa waktu pembersihan data: 03:58:12.
Hujan Jakarta menghantam aspal parkir belakang rumah sakit, menciptakan tirai air yang menyamarkan siluet Aris. Ia berdiri di bawah tangga darurat, napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar. Kartu aksesnya—satu-satunya kunci menuju kebenaran—baru saja ditolak oleh panel pintu belakang. Bunyi bip pendek itu adalah vonis: ia bukan lagi bagian dari sistem. Ia adalah ancaman yang harus dihapus.
Di dalam jaketnya, flash drive berisi fragmen CCTV dan surat pernyataan Sinta terasa seperti logam panas. Ia tidak bisa pergi. Jika ia menyerah sekarang, Ny. Ratna hanya akan menjadi statistik yang hilang dalam pembersihan data otomatis.
Aris menatap jendela ruang server di lantai dua. Raka ada di sana. Ia mengetuk kaca tiga kali—kode yang mereka sepakati. Raka muncul, wajahnya pucat pasi, matanya memindai kamera pengawas di sudut atap. Setelah ragu sejenak, Raka menekan keypad internal. Klik. Pintu darurat terbuka sedikit.
Aris menyelinap masuk, disambut bau disinfektan dan debu kabel yang menyesakkan. Lorong itu gelap, hanya diterangi lampu darurat merah. Ia bergerak seperti bayangan, menghindari sapuan kamera yang berputar perlahan. Di ujung koridor, Raka menunggu di ambang pintu ruang server.
“Kau gila,” desis Raka saat Aris masuk. “Direksi sudah menaikkan prioritas pembersihan. Bukan cuma file, tapi log akses. Kalau namamu muncul di sini, mereka bisa mengklaim kau yang korup sejak awal.”
Aris meletakkan surat Sinta di atas meja logam. “Kalau kita gagal, surat ini akan dianggap palsu. Tapi kalau kita berhasil, ini adalah bukti pembungkaman.”
Monitor di dinding menyala merah: AKSES PENGUNGAHAN PUBLIK DIAWASI.
“Maya masih siaran,” ujar Raka, jemarinya menari di atas keyboard. “Dia mengalihkan koneksi ke jalur publik. Kalau dia bisa menahan Baskoro cukup lama, dunia luar akan melihat file ini.”
Aris memasukkan flash drive. Bilah progres unggahan muncul: 2%... 7%... lalu berhenti.
“Mereka menyerang dari luar,” Raka membelalak. “Flood ke server publik. Mereka mencoba memutus unggahan sebelum mencapai mirror.”
Suara langkah sepatu bot yang teratur terdengar di lorong. Keamanan internal.
“Pakai jalur aman,” perintah Aris.
“Itu akan meninggalkan jejak log yang bisa melacakku langsung ke direksi,” bantah Raka.
“Kalau kita tidak melakukannya, tidak ada yang tersisa untuk dilacak.”
Langkah kaki di luar semakin dekat. Aris menatap pintu yang mulai bergetar karena gedoran keras. “Lakukan, Raka.”
Raka mencabut kabel jaringan cadangan. Seluruh sistem di ruang itu mati, menyisakan daya hanya untuk jalur unggah. Progres melonjak: 44%... 63%... 83%.
“Buka! Keamanan internal!” teriak suara dari balik pintu.
Aris menahan napas. 94%. Ia mengklik tombol kirim. Bilah berubah hijau. Unggahan selesai.
Dalam hitungan detik, notifikasi media sosial meledak di ponsel Aris. Nama Baskoro menjadi tren. Namun, kemenangan itu singkat. Layar server publik tiba-tiba menggelap. Error. Serangan DDOS rumah sakit mulai menenggelamkan file tersebut.
Pintu ruang server jebol. Dua petugas keamanan menerobos masuk, senjata mereka terarah. Di belakang mereka, Dr. Baskoro melangkah masuk dengan tenang, jas putihnya bersih dari noda, kontras dengan kekacauan di ruang server. Ia menatap Aris dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya.
“Kau sudah membuat keributan yang cukup, Aris,” suara Baskoro tenang, mematikan. “Sekarang, mari kita bicara tentang harga diammu.”