Labirin Birokrasi
Napas Aris tertahan di balik panel kayu koridor unit isolasi. Di saku jaketnya, surat pernyataan Sinta terasa seperti logam panas. Layar ponselnya yang tersembunyi menunjukkan sisa waktu pembersihan data: 04:12:05. Setiap detik adalah langkah menuju penghapusan permanen jejak prosedur ilegal Ny. Ratna. Ia harus keluar dari gedung ini sebelum sistem penguncian total diaktifkan oleh Baskoro.
Langkah sepatu bot berat menggema di lantai marmer, mendekat dari persimpangan utama. Tim keamanan. Mereka tidak lagi berpatroli; mereka menyisir sistematis. Aris bergerak menuju lift karyawan, namun jemarinya berhenti tepat sebelum menempelkan kartu akses. Lampu indikator panel berkedip merah pekat. Aksesnya telah dinonaktifkan sepenuhnya. Baskoro tidak hanya memburunya; pria itu sedang memutus Aris dari setiap urat nadi digital rumah sakit.
"Cek setiap sudut. Direktur memerintahkan pembersihan area ini sekarang juga," suara berat petugas keamanan memecah keheningan.
Aris berbalik. Ia tidak bisa melawan empat orang dengan tongkat kejut. Pintu lift utama terkunci dari sistem pusat. Ia berbelok tajam ke tangga darurat, namun saat mencapai pintu baja, ia menyadari Baskoro telah menempatkan pos pemeriksaan di lobi utama.
Lantai marmer lobi terasa dingin, namun keringat mengalir di tengkuk Aris. Di balik pilar penyangga, ia membeku. Dr. Baskoro berdiri di pintu keluar utama, tampak seperti komandan perang. Dua petugas keamanan menghentikan setiap staf, memeriksa tas, hingga memindai kartu akses secara manual.
"Periksa semuanya," suara Baskoro tenang, tajam, dan mutlak. "Tidak ada yang meninggalkan gedung sebelum protokol pembersihan selesai. Jika ada yang membawa perangkat penyimpanan, segera amankan."
Aris meraba saku jasnya. Flash drive berisi rekaman CCTV prosedur ilegal Ny. Ratna terasa seperti bongkahan besi panas. Pintu keluar utama adalah satu-satunya jalan tanpa otorisasi digital, tetapi sekarang, itu adalah perangkap maut. Jika ia maju, Baskoro akan mengenalinya. Jika ia mundur, tim keamanan di koridor lantai bawah akan menemukannya.
Waktu tersisa: 03:58:12. Aris melirik ruang penyimpanan peralatan di dekatnya. Dengan gerakan cepat, ia menyulut korek api ke arah sensor asap di langit-langit. Detik berikutnya, sirene melengking membelah udara, memicu protokol evakuasi darurat.
Kekacauan pecah. Staf dan pengunjung berlarian menuju pintu keluar. Baskoro berteriak memerintahkan timnya untuk mengabaikan api dan fokus pada pintu keluar. Aris memanfaatkan celah itu, menundukkan kepala, dan menyelinap di antara kerumunan.
Namun, saat ia mencapai pintu darurat samping, ia mencoba menempelkan kartu aksesnya sekali lagi. Indikator tetap merah pekat. Akses Ditolak. Sistem telah mengenali identitasnya sebagai ancaman dan mengunci setiap jalur keluar yang terhubung dengan otorisasi staf.
"Dia di sana!" teriak suara dari ujung koridor.
Aris tidak menoleh. Ia membongkar panel kontrol manual di samping pintu dengan sisa tenaga, memutus kabel-kabel penguncinya secara paksa. Pintu baja itu berderit terbuka, membiarkannya keluar ke udara dingin malam Jakarta. Namun, saat ia melangkah keluar, ia menyadari kartu aksesnya telah mati total. Ia berhasil membawa surat pernyataan Sinta dan bukti digital, tetapi ia kini terisolasi di luar gedung yang terkunci rapat. Ia tidak bisa kembali masuk, sementara bukti fisik lainnya masih tertinggal di dalam, dan Baskoro baru saja memulai perburuan di balik dinding-dinding yang kini tertutup bagi Aris selamanya.