Kunci yang Terkunci
Lampu panel akses di sisi pintu ruang arsip berkedip merah, lalu berubah menjadi statis. Aris tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa kartu aksesnya bukan sekadar diblokir—sistem telah mencabut semua otoritasnya dari jaringan rumah sakit. Di layar kecil dekat pintu, angka digital yang tadinya menunjukkan sisa waktu 11 jam, kini melompat drastis ke angka 8:00:00. Hitung mundur itu berdetak lebih cepat, seolah-olah waktu itu sendiri sedang memburu napasnya.
"Sial," desis Aris. Ia mencengkeram map tipis berisi catatan tangan perawat yang ia temukan di rak nomor empat belas. Map itu terasa berat, bukan karena kertasnya, melainkan karena beban pengkhianatan yang tertulis di sana. Ia membuka lembaran itu sekali lagi di bawah cahaya neon ruang arsip yang dingin. Di sana, stempel resmi rumah sakit tampak tidak wajar. Tinta ungu itu terlalu segar, terlalu simetris, dan saat ia menggesekkan ibu jarinya, terasa sedikit lengket. Stempel itu ditempel ulang. Seseorang telah memindahkan dokumen asli Ny. Ratna dan menggantinya dengan salinan yang sudah dimanipulasi sebelum catatan kematian resmi dikeluarkan.
Suara dengung dari sistem ventilasi tiba-tiba berhenti, digantikan oleh bunyi klik mekanis yang tajam dari pintu keluar. Pintu itu terkunci rapat dari pusat kendali. "Aris?" Suara Dr. Baskoro memecah keheningan melalui interkom yang terpasang di langit-langit ruangan. Suaranya tenang, tenang yang mematikan.
Aris tidak menjawab. Ia tahu Baskoro sedang memantaunya melalui kamera sudut ruangan. Ia menekan tombol panggil internal ke unit perawat, jalur terakhir yang tersisa sebelum blokir total. Setelah dua nada sambung, suara Sinta terdengar, rendah dan gemetar.
"Jangan lama," bisik Sinta. "Namamu sudah lewat di log dua kali. Mereka mencarimu."
"Aku butuh akses arsip fisik sekarang, Sinta. Aku punya bukti bahwa dokumen Ny. Ratna dipalsukan," desak Aris. "Baskoro mempercepat pembersihan data. Kalau ini hilang, tidak ada lagi yang bisa mengungkap prosedur ilegal di ruang operasi itu."
"Aku tahu," suara Sinta retak. "Aku tahu karena aku yang diperintahkan memindahkan map itu ke ruang arsip cadangan. Mereka mengancam keluargaku, Aris. Baskoro... dia bukan sekadar dokter. Dia pemilik sistem ini."
"Berikan aku kode otorisasi daruratmu," potong Aris. "Ini satu-satunya cara kita keluar dari sini dengan bukti yang valid."
Sinta terdiam cukup lama hingga Aris mengira sambungan telah putus. Lalu, serangkaian angka muncul di layar perangkat internalnya. "Gunakan itu. Tapi ingat, begitu kau memakainya, sistem akan tahu siapa yang memberikan akses. Aku sudah tidak punya jalan kembali."
Aris memasukkan kode tersebut. Lampu panel berubah hijau sekejap, cukup untuk membuka kunci pintu setengah jalan. Ia bekerja seperti orang kesurupan, menyandingkan catatan tangan perawat dengan halaman arsip cadangan. Baris pertama sudah cukup membuat tengkuknya panas. Tanggal masuk dan jam observasi di catatan tangan tidak cocok dengan stempel arsip resmi. Ada selisih waktu dua jam yang sengaja dikosongkan untuk menutupi prosedur ilegal yang terjadi di ruang operasi. Di bawah daftar tindakan, ada instruksi tertulis untuk memindahkan pasien ke jalur observasi tertutup sebelum dicatat sebagai kematian umum.
Begitu ia memotret memo internal tentang penghancuran dokumen manual yang mengarah ke perintah langsung direktur medis, Aris meraih ponselnya. Ia harus mengirim fragmen ini ke Maya sebelum sistem pembersihan menelan jejak digitalnya. Ia menekan panggilan ke Maya. "Maya, aku punya buktinya. Ini bukan kesalahan medis, ini pembunuhan administratif yang ditutup-tutupi Baskoro."
"Kirim sekarang," sahut Maya cepat. "Tapi dengar, Baskoro sudah memblokir akses gedung. Kau harus keluar lewat lorong servis sebelum alarm gedung berbunyi."
Belum sempat Aris membalas, sirene pendek melengking dari langit-langit. Itu bukan alarm kebakaran, melainkan tanda bahwa sistem pembersihan data telah dipercepat ke fase kritis. Angka di monitor jatuh ke 05:00:00. Pintu logam di belakangnya bergetar hebat, seseorang mencoba mendobrak dari luar. Aris tahu ia tidak akan keluar tanpa menukar sesuatu yang lebih besar. Ia menyimpan fragmen data itu ke cloud terenkripsi, lalu berlari menuju pintu yang mulai terbuka paksa. Alarm ruang arsip berbunyi terus-menerus, menandakan bahwa sistem pembersihan data telah dipercepat ke titik nol.