Novel

Chapter 2: Panggung Sensasi

Aris menemui Maya di studio siaran langsung dan mendapatkan bukti bahwa Dr. Baskoro telah mengawasinya sejak awal. Maya menuntut bukti fisik dari ruang arsip sebagai syarat kerja sama. Aris berhasil menyusup ke ruang arsip dan menemukan catatan tangan yang membuktikan prosedur ilegal, namun ia terjebak saat sistem pembersihan data dipercepat oleh Baskoro.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Panggung Sensasi

Jam digital di sudut ponsel Aris berkedip merah: 11:12:08. Waktu terus menyusut, memakan sisa napasnya di rumah sakit ini. Aris menempelkan punggung ke dinding lorong servis yang lembap, napasnya tertahan saat dua satpam melintas di depan pintu studio siaran langsung. Kartu aksesnya sudah mati—sistem pusat telah menendangnya keluar tepat sepuluh menit lalu, menandai namanya sebagai liabilitas.

Pesan dari Maya di layar ponselnya hanya satu baris: Masuk lewat pintu produksi. Jangan bawa orang.

Aris menyelinap melalui celah sempit di balik panggung yang disamarkan oleh banner sponsor obat. Di dalam, studio itu bukan sekadar tempat siaran; itu adalah pusat kendali narasi yang dingin. Di bawah lampu sorot yang menyayat mata, Maya berdiri dengan headset melingkar di leher, satu tangan memegang tablet produksi. Matanya tajam, memindai Aris seolah menilai apakah pria di hadapannya adalah aset atau beban.

"Kau terlambat, Aris," suara Maya dingin, tanpa basa-basi. Ia menekan tombol play pada monitor utama. Layar menampilkan rekaman CCTV koridor lantai tiga pukul 08:15 pagi. Aris terlihat berjalan cepat menuju ruang arsip, namun di sudut layar, sosok Dr. Baskoro berdiri di balik pilar, tangannya terlipat, matanya mengikuti setiap langkah Aris hingga ia menghilang. Seorang petugas keamanan berdiri di sampingnya, menerima instruksi lewat gestur tangan yang tajam.

"Dia memantaumu sejak kau membuka file pertama Ny. Ratna," lanjut Maya. "Baskoro tidak sekadar mengawasi. Dia sedang memetakan seberapa jauh kau bisa bergerak sebelum kau menjadi liabilitas yang harus dibersihkan."

Aris merasakan dingin merambat di tengkuknya. Kartu aksesnya sudah mati—sistem telah menendangnya keluar tepat sepuluh menit lalu. Ia bukan sedang melawan kegagalan sistem, melainkan eksekusi prosedural yang disengaja.

"Kenapa kau memberiku ini sekarang?" tanya Aris, suaranya parau.

"Karena aku butuh bukti fisik yang tidak bisa dihapus dari server," jawab Maya. "Jika kau ingin reputasi Baskoro hancur, kau harus mengambil catatan tangan asli perawat di ruang arsip fisik. Itu satu-satunya bukti yang tidak tersentuh sistem digital yang sedang dia bersihkan."

Aris menyadari bahwa Maya bukan sekadar sekutu; ia adalah pemain yang haus akan sensasi, menjadikannya aliansi yang berbahaya. Namun, Aris tidak punya pilihan. Tanpa kartu akses, ia menggunakan teknik yang diajarkan Raka—menempel pada arus staf yang sibuk, menahan kepala tetap rendah, dan tidak pernah berhenti di bawah sensor kamera terlalu lama. Ia berhasil masuk ke ruang arsip yang dingin, tempat aroma kertas tua dan disinfektan menyengat.

Di ujung ruangan, sebuah monitor kecil menampilkan hitung mundur sistem pembersihan data: 11:40:02. Aris menuju rak bertanda 'RAWAT INAP VIP—NY. RATNA'. Tangannya gemetar saat membuka map kuning tersebut. Benar saja, berkas digital yang ia akses tadi pagi hanyalah topeng; di dalamnya, catatan tangan perawat menunjukkan prosedur ilegal yang tidak tercatat dalam sistem resmi.

Saat ia mencoba memotret catatan tersebut, lampu neon di langit-langit berkedip sekali, lalu mati total. Layar panel kontrol menyala merah: ACCESS DENIED. SYSTEM PURGE INITIATED. Jam penutup di pojok layar menyusut drastis. Baskoro tidak hanya menghapus data; ia mempercepat siklus pembersihan untuk menjebak siapa pun yang masih berada di dalam jaringan.

"Sudah kubilang, Aris. Kamu terlalu lambat untuk permainan ini," suara berat Baskoro menggema dari pintu masuk yang terkunci otomatis. Direktur medis itu berdiri di sana, siluetnya memanjang di bawah lampu koridor yang mulai padam satu per satu. Aris menyambar flash drive berisi salinan parsial itu, namun pintu akses keluar sudah terkunci rapat. Alarm ruang arsip meraung nyaring, menandakan bahwa sistem pembersihan data telah dipercepat oleh perintah langsung dari kantor direktur. Aris sadar, ia bukan hanya terjebak di ruang arsip—ia terjebak di dalam perangkap yang sengaja disetel untuk mengakhiri karier dan nyawanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced