Novel

Chapter 1: Data yang Seharusnya Mati

Aris menemukan rekam medis Ny. Ratna berisi anomali yang tidak cocok dengan kematian resmi, lalu menyalin fragmen data sebelum jam penutup rumah sakit terus menyusut. Saat ia memaksa Raka membuka log parsial ruang operasi, ia mendapat bukti awal prosedur ilegal, tetapi aksinya terlacak. Dalam koridor, Dr. Baskoro menekan Aris dengan sindiran yang jelas mengandung ancaman. Aris kemudian mendapati kartu aksesnya diblokir tepat setelah menyentuh file pasien tersebut, dan pesan Maya menutup bab dengan tawaran bukti bahwa Baskoro sudah mengawasinya sejak pagi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Data yang Seharusnya Mati

Jam digital di sudut layar Ruang Audit Medis menunjukkan 11 jam 59 menit 42 detik ketika Aris melihat nama Ny. Ratna muncul dua kali di sistem—sekali sebagai pasien yang sudah wafat, sekali lagi sebagai berkas yang masih aktif.

Itu tidak mungkin.

Aris menahan telapak tangannya di atas meja log, dekat pembaca kartu yang masih hangat dipakai staf malam. Monitor menampilkan lembar rekam medis dengan baris dosis vasopressor yang tidak cocok dengan catatan observasi kertas. Yang di layar berubah pelan, seolah ada orang di tempat lain yang sedang menghapus jejaknya sambil tersenyum. Ia menekan refresh sekali. Lalu berhenti. Kalau data itu bergerak, berarti ada tangan yang masih hidup di belakangnya.

Peringatan merah meledak di tengah layar:

WARNING: UNAUTHORIZED DATA ACCESS DETECTED.

Aris langsung mematikan speaker monitor sebelum alarm suara menyebar ke lorong. Di rumah sakit ini, satu bunyi saja cukup untuk memanggil satpam, kepala shift, dan orang-orang yang lebih dulu bertanya siapa yang bocor daripada apa yang salah. Ia tahu aturan tak tertulisnya: begitu sistem mencium akses di luar jalur, server tidak hanya mengunci. Ia mulai membersihkan dirinya sendiri.

Jam di layar berganti lagi. 11:59:41. Lalu 11:59:40.

Hitung mundur itu bukan ancaman abstrak. Di bawahnya, baris kecil muncul: arsip pasien, kamera koridor, log akses, semua akan dipindahkan ke sistem tertutup sebelum lewat dua belas jam. Setelah itu, jejaknya akan jadi milik orang lain.

Aris mencabut flash drive terenkripsi dari saku jasnya. Ia tidak punya wewenang penuh untuk menyalin seluruh berkas. Yang bisa ia ambil hanya potongan yang belum dipagari: metadata, sebagian instruksi obat, dan satu catatan prosedur yang tampak dipotong kasar di tengah kalimat. Fragmen. Bukan bukti utuh. Tapi cukup untuk tahu bahwa Ny. Ratna tidak mati dengan cara yang tertulis.

Ia menyalin file itu saat sistem mulai menolak aksesnya. Laju transfer tersendat dua kali, lalu hidup lagi. Setiap detik terasa seperti uang yang jatuh ke lantai dan tidak sempat dipungut. Begitu progress bar menyentuh ujung, layar berkedip, dan nama pengguna Aris masuk ke daftar audit merah.

Itu harga pertama.

Ruang server lantai empat lebih dingin daripada ruang jenazah. Pendingin udara memotong kulit, dan lampu putih membuat wajah orang tampak seperti lelah yang disembunyikan terlalu lama. Aris menemukan Raka di depan konsol utama, lengan baju digulung, satu tangan menempel di mouse, satu lagi memegang gelas kopi yang sudah dingin.

“Log pintu ruang operasi malam itu,” kata Aris tanpa basa-basi. Suaranya rendah, rapat, seperti ia sedang bicara di sisi tempat tidur pasien yang belum boleh bangun. “Sepuluh menit data mentah. Aku butuh jejak siapa yang keluar masuk sesudah Ny. Ratna dipindah.”

Raka menatap layar, lalu menatap Aris. Senyum tipisnya tidak muncul. “Kau datang di jam paling buruk.”

“Jam buruk sudah berjalan sejak jam penutup diaktifkan.” Aris melirik ke monitor kecil di dinding. 11:52:18. Waktu masih ada, tetapi menipis dengan cara yang bisa dilihat.

Raka mengembuskan napas pendek. “Baskoro pasang verifikasi dua lapis di terminal. Kalau aku buka log itu, sistem bukan cuma tahu aku yang sentuh. Dia kirim notifikasi ke ruang direksi. Besok pagi aku bukan teknisi lagi.”

“Besok pagi mungkin tidak ada kalau berkasnya sudah dibersihkan malam ini.” Aris mengeluarkan ponsel, membuka tangkapan layar transaksi kripto milik Raka yang ia dapat dari audit keuangan minggu lalu. Angka-angka kecil itu cukup untuk merusak orang yang sok tidak terlihat. “Dan kalau Baskoro tahu kau ikut menghapus rekaman CCTV minggu lalu, lisensimu selesai sebelum matahari naik.”

Wajah Raka turun satu tingkat. Bukan takut yang dramatis, hanya kalkulasi cepat: berapa banyak yang masih bisa ia selamatkan dari hidupnya sendiri.

“Berkas itu dari mana?”

“Dari sistem yang sama yang akan menenggelamkanmu kalau kita diam.”

Raka menatap ke pintu, memastikan tak ada bayangan lewat. Lalu ia mencondongkan badan, mengetik satu perintah pendek. Beberapa baris log muncul—namun tidak utuh. Ada blok waktu yang hitam, lalu satu entri akses ruang operasi pada pukul 01:14. Nama yang tercatat bukan dokter jaga.

“Ini cuma salinan parsial,” gumam Raka. “Bagian tengahnya sengaja dipotong. Kalau ada yang ambil file penuh, dia pasti pakai akun level atas.”

Aris membaca cepat. Di bawah entri itu, ada catatan tindakan yang terlalu singkat untuk disebut prosedur biasa: pemindahan pasien sebelum kode biru, pemberian obat yang tidak sesuai lembar instruksi, lalu tanda tangan digital yang disisipkan belakangan. Potongan itu cukup untuk menggeser cerita tentang kematian Ny. Ratna. Bukan gagal jantung biasa. Ada keputusan yang disembunyikan.

Ia menyalin fragmen itu ke flash drive. Saat bar transfer selesai, sebuah notifikasi sistem berbunyi pendek namun tajam.

DEVICE TAGGED.

Raka langsung menutup jendela log. “Sudah terlacak.”

“Berapa lama sebelum mereka cari sumbernya?”

“Kalau Baskoro yang lihat, tidak sampai lima menit.”

Aris menahan makian. Ia menyimpan flash drive ke saku dalam jas, merasakan tepinya menekan tulang rusuk. Benda kecil itu mendadak terasa seperti barang curian yang terlalu panas untuk dibawa pulang. Ia sudah berutang pada Raka satu risiko. Dan di rumah sakit ini, utang jarang berhenti pada rasa terima kasih.

Di koridor lantai empat, langkah Aris dipantulkan lantai vinil yang mengilap. Ia baru keluar dari ruang server ketika bel notifikasi internal berdenting pelan dari panel dinding. Bukan alarm. Lebih buruk: peringatan administratif. Seseorang sudah memeriksa pergerakan aksesnya.

Dr. Baskoro muncul di ujung koridor seperti keputusan yang sudah dibuat lebih dulu.

Direktur medis itu tidak tergesa. Kemejanya rapi, jasnya jatuh tanpa lipatan, dan wajahnya memegang ketenangan yang terlalu bersih untuk jam segini. Ia berhenti tepat di jarak bicara, cukup dekat untuk menekan, cukup jauh untuk tidak terlihat mengancam.

“Audit malam lagi, Aris?” tanya Baskoro. Suaranya halus. “Kau memang rajin. Jarang ada orang yang masih mau membetulkan data saat yang lain memilih tidur.”

Aris merasakan ponsel di saku vibrasi sekali, lalu diam. Ia tidak mengambilnya. “Saya hanya mengecek sinkronisasi laporan akhir, Dokter.”

“Menarik.” Baskoro menatap badge di dada Aris, lalu ke kartu akses yang terlihat setengah di saku. “Karena sistem baru saja mencatat seseorang menyentuh berkas Ny. Ratna tanpa otorisasi penuh. Dan kebetulan, orang itu lewat jalur yang sama denganmu.”

Tidak ada nada tinggi. Tidak perlu. Kalimat itu sendiri cukup untuk menekan kulit.

Aris menjaga wajahnya tetap datar. “Kalau ada anomali, saya akan laporkan ke unit yang tepat.”

“Jangan terlalu cepat percaya kata anomali.” Bibir Baskoro bergerak sedikit, seperti senyum yang diputus sebelum lahir. “Kadang yang disebut anomali hanyalah orang yang terlalu penasaran.”

Ia melangkah maju setengah langkah. Di bawah cahaya putih koridor, garis di bawah mata Baskoro tampak lebih tegas daripada sebelumnya, seakan ia belum tidur dan tidak perlu tidur. “Kau pasti paham maksud saya. Data bukan untuk semua orang. Ada hal-hal yang, demi ketertiban, lebih baik tetap di tempatnya.”

Aris menahan tatapan itu. “Kalau ketertiban dibangun dari berkas yang dipotong, Dokter, itu bukan ketertiban.”

Untuk pertama kalinya, mata Baskoro mengeras. Hanya sesaat. Cukup singkat untuk dilewatkan orang lain. Cukup jelas bagi Aris.

“Jaga nada bicaramu,” kata Baskoro. “Aku tidak ingin kariermu ikut hilang hanya karena kau salah memilih rasa ingin tahu.”

Ia pergi tanpa menunggu jawaban. Langkahnya tenang, tetapi Aris tahu koridor itu baru saja berubah fungsi: dari jalan biasa menjadi jalur pengawasan.

Aris bergerak cepat ke arah ruang arsip. Ia masih punya satu salinan, satu pintu, dan mungkin satu kesempatan sebelum sistem mengaitkan transaksinya dengan nama penuh. Di depan pemindai, ia menempelkan kartu akses. Lampu hijau sekejap mengambang, lalu berubah merah.

ACCESS DENIED. ID REVOKED.

Aris membeku. Layar kecil di samping pintu memutar ulang status kartu dengan dingin yang tidak manusiawi. Hak aksesnya dicabut setelah file itu disentuh. Tidak besok. Tidak nanti. Sekarang.

Di belakangnya, pintu otomatis ruang server menutup dengan bunyi teratur. Di depan, arsip tertutup. Di kiri, lorong menuju ICU penuh kamera. Rumah sakit ini sedang menutup dirinya seperti jepit logam.

Ponselnya bergetar sekali lagi.

Pesan dari Maya.

Aku punya rekaman CCTV yang membuktikan Baskoro sudah mengawasimu sejak pagi tadi. Kita harus bicara sekarang.

Aris menatap layar itu selama satu detik terlalu lama. Dengan kartu yang sudah mati di tangan, ia sadar masalahnya baru berganti bentuk. Ia bukan hanya dikejar oleh sistem. Ia sudah ditandai oleh orang yang mengendalikan sistem itu.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced