Di Ujung Tanduk
Bau cengkeh dan debu tua di ruang tamu Pakde Salim terasa mencekik. Aris duduk kaku di kursi rotan yang berderit setiap kali ia bernapas. Di hadapannya, Maya berdiri mematung, jemarinya mencengkeram tas kurir berisi buku kas yang kini menjadi senjata sekaligus kutukan mereka. Pakde Salim, dengan mata yang meredup karena pengkhianatan, menatap Aris seolah ingin menguliti rahasia yang ia simpan.
“Jangan menguji kesabaranku, Aris,” suara Maya rendah, tajam seperti silet. “Bapakmu tidak hanya mencuri uang. Dia menghancurkan hidup keluargaku dengan skema ‘bunga yang tid
Preview ends here. Subscribe to continue.