Pengakuan yang Terlambat
Bau apak kayu lapuk dan debu semen yang lembap menyergap Aris saat ia mendorong pintu gudang di pinggiran kota. Cahaya lampu jalan yang temaram menerobos celah dinding seng, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah kegelapan seperti jeruji besi. Di genggamannya, ponsel Aris bergetar—pesan terakhir dari koordinat yang ia ikuti selama dua hari terakhir.
"Jangan bergerak lebih jauh, Aris," suara Maya memecah kesunyian. Wanita itu berdiri di ambang pintu, tangannya tidak lagi terselip di saku, melainkan memegang sebuah alat perekam kecil yang ia arahkan ke sudut ruangan. Aris tida
Preview ends here. Subscribe to continue.