Kembali ke Sarang Harimau
Lampu darurat di koridor estate menyala merah, membasahi dinding marmer dengan warna darah yang statis. Aris menekan panel utilitas yang sudah setengah copot di balik ruang kerja rahasia Bram. Bunyi kunci magnetik di sakunya berdenting pelan—suara yang seharusnya menjadi tiket kebebasan, namun kini terasa seperti lonceng kematian. Di layar jam dinding yang masih berfungsi, angka digital berkedip tanpa ampun: 96:00:12 menuju deklarasi hukum. Empat hari lagi, dan Clara akan hilang secara resmi dari silsilah keluarga, menyerahkan seluruh aset ke tangan Bram.
Aris menyentakkan penutup panel. Plastik tua di balik dinding renovasi mengelupas, memperlihatkan kabel-kabel baru yang ditanam di atas struktur lama—rapi, mahal, dan palsu. Dinding ini bukan sekadar tembok; ini adalah kulit kedua untuk menyembunyikan kejahatan. Tiba-tiba, pengeras suara estate mendesis.
“Perhatian,” suara Bram mengalun tenang, nyaris ramah. “Semua pintu sayap timur terkunci otomatis. Mohon tetap di posisi masing-masing. Ini hanya prosedur keamanan.”
Aris membeku. Nada itu terlalu siap. Bram tidak sedang panik; ia sedang mengarahkan. Aris menunduk ke terminal utilitas. Label “RUANG MODUL TERSEMBUNYI / AKSES EVAKUASI” hidup di layar. Ia segera mencabut panel kecil di bawah meja, menemukan jalur ventilasi yang menghubungkan ruang kerja ini langsung ke koridor servis lantai dua. Tidak ada pilihan lain.
Ia merayap melalui celah sempit yang berbau logam dan kabel sintetik hangus. Di koridor lantai dua, Aris tidak punya waktu untuk mengagumi arsitektur kolonial yang angkuh. Ia bergerak menuju ruang utilitas, tempat denah asli estate disimpan. Begitu pintu geser terbuka, ia menancapkan drive data ke terminal utama. Layar monitor menampilkan log akses yang membuat napasnya sesak. Daftar nama yang masuk ke area terlarang malam ini bukan sekadar pengawal. Aris memindai barisan nama: sepupu-sepupu jauh yang selama ini acuh tak acuh, kini dipanggil pulang dengan urgensi yang janggal. Bram tidak sekadar menyekap Clara; dia sedang mengumpulkan seluruh ahli waris di bawah satu atap, kemungkinan besar untuk memaksa penandatanganan surat kuasa kolektif sebelum deklarasi hukum mengunci nasib mereka semua.
Aris menyimpan salinan peta aliran orang tersebut ke dalam drive-nya. Ia harus bergerak ke studio siaran langsung internal. Begitu ia menyusup ke studio, pintu-pintu internal mengunci dengan bunyi klik yang presisi. Aris bersembunyi di balik rak kabel saat lampu ring studio menyala sendiri. Seorang pria dengan kemeja hitam—sutradara studio—muncul dari balik kaca kontrol dengan wajah pucat.
“Kalau kamu datang untuk drama, terlambat,” kata sutradara itu melalui interkom. “Bram sudah memindahkan semua feed ke server cadangan. Kamu terkunci.”
Aris melangkah keluar, menatap tajam ke arah kamera yang menyorotnya. “Saya tidak cari jalan keluar. Saya cari Clara.”
Sutradara itu tertawa getir. “Jangan sebut nama itu. Dia bukan lagi bagian dari pertunjukan.”
Aris berhasil mencuri drive cadangan dari meja sutradara sebelum keamanan otomatis menyudutkannya. Rekaman di dalamnya menunjukkan wajah Clara yang menahan tangis, membisikkan koordinat ruang di balik dinding timur. Bram benar-benar sudah tahu ia masuk, dan studio ini baru saja berubah menjadi kandang sempit.
Aris menembus dinding renovasi ke ruang tersembunyi yang lembap dan dingin di lantai dasar. Di sana, di sudut ruang yang hanya diterangi satu lampu gantung redup, ia menemukannya. Clara tergeletak di atas tikar tipis. Wajahnya pucat, namun matanya yang tajam langsung mengunci Aris.
“Kau terlambat,” bisik Clara parau. Ia menarik sebuah map plastik dari balik lipatan kain. “Bram tidak mengunciku di sini hanya untuk menyembunyikanku. Lihat ini.”
Aris membuka map itu, dan darahnya seakan membeku. Itu bukan sekadar data keuangan. Itu adalah dokumen pemindahan hak waris yang sudah ditandatangani paksa oleh kerabat lain yang kini juga disekap di estate ini. Jebakan ini bukan untuk satu orang; Bram sedang mengumpulkan semua ahli waris untuk menghabisi mereka sekaligus di sarang harimau ini. Saat Aris menopang tubuh Clara yang lemah, ia tahu mereka tidak lagi sedang mencari kebenaran—mereka sedang berpacu dengan maut sebelum pintu estate ditutup permanen.