Pengkhianatan di Balik Layar
Ponsel Aris bergetar, memecah kesunyian ruang servis studio yang berbau debu dan kabel terbakar. Di layar, nama pemilik indekosnya muncul. Aris tidak mengangkat, tapi pesan suara itu masuk otomatis.
"Aris. Mereka tahu kamu di studio. Jangan lewat gerbang utama. Kepala keamanan sudah menyisir koridor belakang. Keluar sekarang, atau kamu tamat."
Aris membeku. Suara itu datar, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menjual lokasinya ke Om Bram. Ia menatap jam digital di dinding: 11 hari 4 jam menuju deklarasi hukum. Bram telah mempercepat tenggat waktu secara ilegal, dan setiap detik yang terbuang adalah kemenangan bagi paman yang ingin mengubur nama Clara—dan Aris—selamanya.
Ia menyambar tasnya, memastikan buku besar hitam dan drive D-17 masih terselip di balik jaket. Ia tidak lagi punya tempat untuk bersembunyi. Ia harus bergerak.
Aris mengintip dari celah pintu. Dua petugas keamanan melintas, bukan dengan langkah patroli, melainkan dengan gerak berburu yang terarah. Aris menunggu mereka menjauh, lalu menerobos keluar menuju ruang arsip siaran. Di dalam, ia menemukan folder bertanda nama Clara. Sebagian besar dokumen sudah dicabut, menyisakan satu lembar cue card dengan coretan stabilo: kalau sistem mati, cari selisihnya di belakang.
Jantung Aris berdegup kencang. Ia segera menghubungkan pola selisih angka di buku besar D-17 dengan catatan renovasi estate yang ia curi dari pengacara keluarga, Baskoro. Hasilnya bukan sekadar koordinat rekening luar negeri; itu adalah denah ruang tersembunyi di balik dinding estate yang selama ini dipalsukan oleh Bram.
Brak! Pintu arsip digebrak dari luar.
"Aris! Keluar!"
Aris tidak menjawab. Ia melompat keluar melalui pintu samping, menuruni tangga darurat menuju gang sempit Jakarta yang lembap. Ia berlari, napasnya memburu, menghindari sorot lampu jalan yang kuning dan redup. Di ujung gang, dua pria berjaket gelap—bukan satpam, melainkan pemburu bayaran—muncul dari balik bayangan.
Aris menendang gerobak sayur hingga melintang, menciptakan kekacauan yang memberinya celah untuk menyelinap ke lorong kontrakan. Namun, di ujung lorong, langkahnya terhenti. Seseorang berdiri di sana, menghalangi jalan.
"Bukan ke sana," suara pemilik indekosnya terdengar lelah.
Aris menatap pria itu dengan kebencian yang dingin. "Kamu menjualku, kan?"
Tak ada jawaban. Aris tidak membuang waktu. Ia berbalik, melompati pagar rumah kosong, dan mendarat di jalanan yang sepi. Di sana, sebuah sedan hitam tanpa plat menunggu dengan mesin menyala, seolah sudah tahu ke mana ia akan lari.
Sebelum ia sempat bertindak, ponselnya bergetar. Sebuah file suara terenkripsi masuk. Aris menekan tombol putar dengan tangan gemetar.
"Kalau kamu mendengar ini, berarti mereka sudah bergerak," suara Clara terdengar samar, tercekik. "Jangan cari aku di studio. Aku ada di estate. Di bawah hidung Bram."
Aris menatap sedan hitam itu. Lingkaran Bram telah menutup. Ia tidak lagi punya jalur aman. Ia harus kembali ke tempat yang paling berbahaya: estate keluarga.