Sandi Tersembunyi
Bau apek kasur busa dan sisa rokok kretek menyambut Aris saat ia membanting pintu kamar indekosnya di pinggiran Jakarta Barat. Napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti disayat beling setelah berlari dari kejaran petugas keamanan studio. Di layar ponsel yang retak, sebuah notifikasi pengingat berkedip merah: 11 hari, 4 jam menuju deklarasi hukum. Waktu bukan lagi sekadar angka; itu adalah vonis mati bagi warisan Clara dan kebebasannya sendiri.
Aris melempar tas berisi buku besar hitam ke atas meja formika yang goyang. Tangannya gemetar saat membuka aplikasi perpesanan terenkripsi. Sebuah pesan baru dari alamat anonim yang sama muncul: "Cari selisihnya pada catatan D-17. Jangan percaya siapa pun di lingkaran terdekat."
Aris menyambar buku besar itu. Jari-jarinya menelusuri deretan angka dengan tinta biru tua. D-17. Baris itu mencatat transaksi fiktif atas nama perusahaan cangkang yang seharusnya tidak memiliki hubungan dengan properti keluarga. Ia membandingkan angka-angka tersebut dengan salinan digital yang ia curi dari sistem studio—data yang telah dimanipulasi Bram. Selisihnya tidak masuk akal. Itu bukan kesalahan pembukuan; itu adalah koordinat rekening luar negeri yang disamarkan dengan kode perbankan.
Ia mulai menghitung, menyalin semuanya ke kertas struk fotokopi, lalu menandai blok tiga digit yang berulang. Saat ia memetakan selisih antarblok tersebut, sebuah pola koordinat perbankan muncul dengan presisi yang mengerikan. Ini adalah peta aliran aset yang sedang dikuras habis sebelum deklarasi hukum dilakukan.
Sebuah pesan suara tertunda bergetar. Ia menekan tombol play. Napas pendek Clara terdengar di antara desis statis. "Aris, jangan percaya pada apa yang mereka tayangkan di studio. D-17 bukan sekadar kode aset. Itu adalah celah di balik struktur biaya yang Bram manipulasi. Cari selisihnya di sana, atau kau akan kehilangan segalanya." Suara itu terputus, menyisakan dengung mesin server yang khas di latar belakang—bunyi yang hanya ada di ruang arsip pusat studio. Jantung Aris berdegup kencang. Clara tidak hanya hidup; dia sedang memantau sistem studio dari dalam, tepat di bawah hidung Bram.
Saat Aris hendak menutup laptop, layar memantulkan sosok pemilik indekos yang berdiri di ambang pintu. "Mas Aris, ada paket di depan," suaranya terlalu datar. Aris membeku. Ia menutup laptop dengan kasar, memasukkan drive berisi data dekripsi ke saku jaketnya, dan menyambar buku besar hitam.
"Bapak bilang jangan keluar, Mas. Om Bram sudah menunggu di bawah," ujar pria paruh baya itu. Matanya tidak lagi ramah; ada kilatan ketakutan sekaligus ketamakan. Aris tidak menunggu. Ia menerjang pemilik indekos, menabrak bahunya hingga pria itu tersungkur. Aris berlari ke gang sempit di belakang warung fotokopi. Namun, tepat saat ia mencapai ujung gang, ia melihat sebuah mobil tanpa plat terparkir di bawah lampu jalan yang redup. Seseorang di dalam mobil itu sedang memegang foto wajahnya. Aris menyadari dengan getir bahwa pengkhianatan tidak datang dari orang asing, melainkan dari lingkaran yang ia pikir bisa ia percaya.