Novel

Chapter 5: Permainan Citra

Aris menyusup ke ruang kendali studio untuk membocorkan data dari buku besar, namun ia terjebak dalam skenario yang sudah disiapkan Bram. Bram memutar balik narasi di siaran langsung, memfitnah Aris sebagai pemeras. Aris berhasil melarikan diri dengan bukti fisik, namun menyadari bahwa Clara telah meninggalkan jejak digital yang masih dipantau oleh pihak tak dikenal.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Permainan Citra

11 hari 4 jam sebelum deklarasi hukum hilangnya Clara.

Aris tahu pintu samping Studio 7 itu jebakan begitu melihatnya terbuka terlalu lebar. Di lorong servis, udara Jakarta masih basah oleh hujan, bercampur bau besi panas, kopi sachet yang tumpah, dan kabel yang baru saja digulung asal. Lampu darurat merah membuat dinding tampak seperti luka yang belum dijahit. Di ujung lorong, seorang pria berjaket gelap berdiri terlalu diam, ponselnya terangkat setengah—bukan sedang memotret pintu, melainkan wajah Aris yang mendekat.

Dia bukan kru. Dia pengawas.

Aris merapat ke dinding, map berisi lampiran permohonan percepatan deklarasi ilegal diselipkan di bawah jaket. Buku besar hitam di balik lipatan kain itu terasa menekan rusuknya seperti benda hidup. Benda itu bukan lagi sekadar bukti; malam ini ia bisa berubah jadi alasan Aris ditangkap, dituduh, lalu dibungkam sebelum sempat bicara.

Ponselnya bergetar. Masuk lewat pintu itu. Jangan ke ruang utama. Bram sudah siapkan wajahmu untuk kamera.

Nomor tak dikenal. Aris mematikan layar, memasang wajah datar, lalu melangkah seperti orang yang datang terlambat untuk rapat produksi. Ia harus sampai ke ruang kendali lebih dulu. Jika Bram mengunci semua akses, malam ini akan berakhir dengan narasi yang Bram tulis sendiri.

Di balik kaca studio, hitung mundur host acara terdengar hangat dan palsu. “Lima, empat, tiga—” Suara itu menetes ke lorong seperti parfum mahal di ruangan yang pengap. Studio ini dibangun untuk pertunjukan, bukan kebenaran. Aris menyelip di belakang troli properti, masuk melalui celah pintu yang sengaja dibiarkan menggoda.

Begitu melewati ambang, ia tahu ia sudah dikenali.

Seorang operator muda di pos internal menatap kartu akses Aris terlalu lama. Tatapannya ragu, seperti orang yang sedang memutuskan apakah ia sedang membantu saksi atau menjualnya. Pintu berdesis terbuka. Aris tak menunggu.

Ruang kendali sempit, dingin, dan bersih seperti ruang operasi. Enam monitor menampilkan sudut studio, grafik audio, dan satu feed utama yang sedang menyiapkan segmen keluarga “dermawan” tentang Clara. Di depan konsol, Deni—sutradara siaran langsung—sedang menyesuaikan level audio. Aris tahu pria ini bukan sekadar teknis. Dia pion Bram yang paling setia.

Deni menoleh. Tidak kaget. “Kamu terlambat.”

“Buka input cadangan,” perintah Aris.

“Kalau aku buka, aku kehilangan kerja.”

“Kalau kamu tutup, kamu kehilangan sisa nama baikmu.”

Jari Deni bergerak tipis di atas meja, bukan ke tombol yang diminta Aris, melainkan ke channel utama. Aris paham: ruang kendali ini sudah lama bukan netral. Ia mengeluarkan flashdisk berisi potongan data dari buku besar hitam—cukup untuk memancing pertanyaan publik, cukup untuk menahan narasi Bram selama beberapa menit.

“Aku cuma butuh sepuluh detik. Tayang data rekening dan potongan proyek D-17,” desak Aris.

Deni menekan mute di salah satu channel. “Data itu sudah bukan milikmu.”

Aris membeku. Deni memutar monitor kecil ke arahnya. Di layar, file yang Aris bawa terlihat jelas, tapi metadatanya telah diubah. Waktu unggah dimajukan. Nama pengambil file diganti. Beberapa nomor halaman dibuat meloncat. Bukti itu tampak meyakinkan bagi orang awam, tapi bagi Aris, itu berarti satu hal: Bram sudah lebih dulu menyentuh datanya.

“Sudah diedit,” gumam Aris.

“Bukan diedit,” jawab Deni. “Disiapkan.”

Aris tidak membuang waktu. Ia menancapkan flashdisk ke slot cadangan, memaksa folder tampil sebagai grafis sederhana: nomor rekening, tanggal transfer, jejak proyek renovasi D-17. Ia dorong file itu ke input siaran.

Satu monitor berkedip. Di studio utama, angka-angka hitam di atas latar putih muncul sekilas. Keberhasilan kecil itu memukul jantungnya, namun dua detik kemudian, lampu indikator menyala merah.

Deni menekan tombol. Siaran cadangan aktif.

Di layar monitor terbesar, wajah Bram muncul. Ia duduk di ruang yang tenang, mengenakan kemeja gelap rapi, senyumnya tipis dan iba. “Aris,” kata Bram, suaranya masuk ke ruang kendali dengan kelembutan yang memalukan. “Kalau kau ingin bicara, datanglah seperti keluarga. Bukan mencuri file lalu bermain hakim.”

Aris menoleh ke monitor. “Kau yang ubah datanya.”

Bram mengangkat alis. “Apa yang kau curi dari estate, kau sebut data. Tapi di depan publik, tanpa verifikasi, itu cuma potongan yang dipakai orang putus asa.”

Di feed utama studio, sebuah cuplikan disisipkan: foto Aris masuk ke estate, potongan dirinya keluar dari lorong servis, lalu gambar lampiran permohonan percepatan deklarasi yang ia pegang. Editannya rapi. Cukup untuk membuat orang percaya bahwa Aris masuk bukan untuk mengungkap, melainkan untuk mengambil sesuatu.

“Lihat,” kata Bram ke kamera. “Orang ini mencoba memeras kami dengan cuplikan data yang belum jelas asal-usulnya.”

Salah satu kru di balik kaca menoleh dengan wajah pucat. Deni menggeser kursinya, memberi ruang bagi keamanan yang mendekat. Aris tidak bisa menang di layar. Ia harus keluar.

Sebelum bergerak, salah satu panel data di sudut konsol memunculkan folder yang tak ia kenal. File mentah dari buku besar, versi asli, dengan tanda tangan digital Clara. Ia mematung. Clara pernah menyusun salinan lain. Dan kalau file itu muncul di sistem studio yang dikuasai Bram, berarti ada jalur yang belum mati.

“Dan soal Clara—jangan pura-pura jadi penyelamat,” suara Bram kembali menggelegar. “Berkasnya sudah hilang karena seseorang di lingkaran kalian sendiri tak bisa menjaga rahasia.”

Aris melangkah ke konsol. “Kau yang ambil berkas itu.”

“Buktikan.”

Pintu ruang kendali terbuka keras. Dua petugas keamanan masuk, diikuti pria berjaket gelap tadi. Aris menendang kursi ke arah mereka, menyambar map lampiran legal yang jatuh ke lantai, lalu menekan tombol darurat di samping pintu servis. Alarm berbunyi memekakkan.

Aris menerobos keluar, berlari menyusuri lorong yang kini dipenuhi lampu merah ON AIR. Di belakangnya, sepatu bot keamanan menghantam lantai. Ia menyelinap ke ruang penyimpanan properti, mengganjal pintu dengan batang besi. Napasnya pendek, tajam.

Ia menyalakan senter ponsel dan membuka buku besar hitam pada halaman yang ditandai tinta biru. Pola angka itu kini jelas: pengulangan nominal, jeda tanggal, dan nomor rekening luar negeri yang berputar di bawah proyek D-17. Di margin bawah, coretan pensil Clara: lihat di balik bayangan.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan baru:

Jangan percaya tampilan pertama. Bram sudah ubah angka-angkanya. Cari selisihnya.

Di luar pintu, suara langkah petugas berhenti. Seseorang memerintahkan pengepungan. Aris memadamkan senter. Dalam gelap itu, buku besar hitam terasa lebih berat—karena kini ia bukan cuma membawa bukti penggelapan, tetapi bukti bahwa dirinya telah dijadikan pemeras di depan kamera. Perang ini bukan lagi soal kebenaran, tapi soal siapa yang lebih dulu dipercaya publik sebelum tenggat waktu habis.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced