Jejak Digital yang Dihapus
Aris melangkah masuk ke kantor firma hukum Baskoro dengan napas yang masih memburu. Di layar ponselnya, angka digital itu berkedip dingin: 11 hari, 4 jam menuju deklarasi hukum hilangnya Clara. Jika tenggat itu terlewati, Om Bram akan mengunci seluruh aset keluarga, mengubah hilangnya Clara menjadi sekadar catatan kaki administratif. Aris tidak datang untuk meminta perlindungan; ia datang untuk menagih janji atas kebenaran yang mulai terkubur.
Di dalam tas kulitnya, buku besar hitam itu terasa berat, seolah setiap angka di dalamnya adalah beban fisik yang menariknya ke bawah. Di saku celananya, ponsel menyimpan rekaman suara Clara—bukti bahwa ada seseorang di dalam struktur keluarga yang sengaja memanipulasi alur dokumen.
Ruang tunggu itu terlalu sunyi, terlalu steril. AC menderu pelan, mendinginkan udara yang sudah terasa tegang. Seorang resepsionis menatapnya dengan pandangan menilai, seolah Aris hanyalah noda di atas lantai marmer yang mengilap.
“Bapak punya janji?”
“Katakan pada Pak Baskoro, ini soal Clara. Dan soal proyek D-17,” jawab Aris datar. Ia tidak punya waktu untuk basa-basi.
Begitu nama proyek itu disebut, resepsionis itu membeku. Ia menekan interkom dengan gerakan kaku. Tak sampai semenit, pintu ruang belakang terbuka. Baskoro muncul, mengenakan setelan abu-abu yang terlalu rapi, wajahnya menyimpan kelelahan yang tak bisa disembunyikan oleh riasan profesional. Ia memberi isyarat agar Aris masuk sendirian.
Saat Aris melangkah, ia sempat melirik ke arah lobi. Seorang pria berjaket gelap sedang berpura-pura membaca koran, namun matanya tidak pernah lepas dari punggung Aris. Pengamat itu tidak datang untuk mencari keadilan; ia datang untuk memastikan Aris tidak keluar dari sini dengan membawa apa pun.
Begitu pintu ruang konsultasi tertutup, Aris langsung mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara Clara. Suara itu tipis, bergetar, namun tajam: “Periksa berkas di dinding barat. Jika mereka memindahkannya lebih dulu, mereka akan menyusun kematian hukum sebelum tubuhku ditemukan.”
Baskoro memejamkan mata. “Dari mana kau dapatkan ini?”
“Itu tidak penting,” potong Aris. Ia membanting buku besar hitam ke atas meja. Suara dentumannya memecah kesunyian. “Kenapa nama Clara dihapus dari jadwal inventaris dokumenmu? Siapa yang memerintahkan itu?”
Baskoro terdiam, rahangnya mengeras. “Jadwal inventaris bukan urusanmu, Aris. Kau tidak tahu apa yang kau hadapi.”
“Aku tahu Raka S. memalsukan denah estate. Aku tahu buku ini mencatat aliran dana ilegal ke proyek D-17. Dan aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.” Aris mencondongkan tubuh, menatap tajam ke balik kacamata Baskoro. “Bram tidak akan membiarkanmu tetap netral selamanya. Dia akan membuangmu begitu kau tidak lagi berguna.”
Baskoro menarik napas panjang, matanya melirik ke arah lemari arsip, lalu ke pintu. Ia sedang menimbang harga nyawanya. “Berkas itu… ada lampiran perubahan wasiat yang hilang. Versi yang seharusnya ditandatangani Clara, tapi lenyap dari sistem minggu lalu. Bersamaan dengan pembatasan akses administratifku.”
“Raka?”
Baskoro tidak menjawab, namun keheningannya adalah konfirmasi yang cukup. Aris kembali memutar rekaman lain—potongan suara Clara yang ia simpan sebagai alat tawar terakhir: “Jika dokumen itu masih di tangan pengacara, berarti mereka belum sempat memutus jejaknya.”
“Jangan mainkan itu di sini!” desis Baskoro, wajahnya pucat pasi.
“Kenapa? Takut Bram mendengarnya?”
“Karena kau tidak paham siapa yang sedang kau tarik ke dalam lubang ini!” Baskoro membuka laci mejanya dengan tangan gemetar, mengeluarkan map krem tipis. “Ini hanya ringkasan. Berkas aslinya sudah dipindahkan dari jalur resmi. Dan dengarkan ini baik-baik, Aris: Bram tidak akan menunggu dua belas hari. Dia sedang mempercepat deklarasi hukum itu.”
Aris merasakan punggungnya dingin. “Berapa lama lagi?”
“Kurang dari itu. Dia sedang menyiapkan skenario agar Clara dinyatakan meninggal secara hukum lebih cepat.”
Sebelum Aris sempat bertanya lebih jauh, ponsel Baskoro bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar: Sudah cukup. Hentikan.
Baskoro mematikan layar ponselnya dengan panik. Aris sudah melihatnya. “Bram?”
“Ini soal bertahan hidup, Aris. Bukan soal kebenaran lagi,” bisik Baskoro. Ia menyerahkan lembar lampiran itu. Di sana, tertulis permohonan percepatan deklarasi yang diajukan secara ilegal. “Ini bukti pemalsuan. Tapi kalau kau membawanya ke publik, kau akan dihancurkan sebelum sempat bicara.”
“Lalu apa sarannya?”
“Cari tempat di mana Bram paling takut terlihat,” bisik Baskoro. “Studio siaran langsung. Jika ada jejak yang tersisa, itu ada di sana, di balik panggung yang dia bangun untuk menutupi kebusukannya.”
Aris mengambil map itu. Saat ia berbalik untuk pergi, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor anonim: Jangan ke studio dulu. Bram sudah siapkan layar untuk membunuh nama kamu.
Aris berhenti di ambang pintu. Ia sadar, Bram tidak hanya sedang menghapus jejak Clara; ia sedang menyiapkan panggung untuk menjebak Aris. Permainan ini telah berubah. Bukan lagi sekadar mencari bukti, melainkan bertahan hidup sebelum namanya sendiri dihapus dari sejarah keluarga.