Novel

Chapter 3: Buku Besar di Balik Dinding

Aris berhasil mengamankan buku besar hitam dari ruang kerja Clara, namun penemuan tersebut mengungkap bahwa Raka S., kepala administrasi estate, adalah orang dalam yang membantu Om Bram memalsukan denah dan mencuci uang melalui proyek renovasi. Aris terpaksa melarikan diri melalui lorong servis setelah Bram memergokinya, menyadari bahwa pengacara keluarga kini menjadi target berikutnya dalam upaya Bram mematikan jejak hukum Clara sebelum tenggat 12 hari berakhir.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Buku Besar di Balik Dinding

Aris menatap jam di pergelangan tangannya. Sisa waktu: 11 hari, 4 jam, 12 menit. Setiap detik terasa seperti koin yang jatuh ke sumur tanpa dasar. Di bawah jaketnya, buku besar hitam itu terasa berat, seolah membebani tulang rusuknya dengan bukti kejahatan yang tak seharusnya ia miliki.

Di luar pintu ruang kerja Clara, langkah kaki itu berhenti. Rapi. Terukur. Sepatu pantofel yang tidak pernah menginjak tanah tanpa tujuan. Aris menahan napas, membiarkan lampu meja Clara yang redup menyembunyikan kepanikan yang mulai merambat di tenggorokannya.

“Aris,” suara Om Bram menembus celah pintu, tenang dan mematikan. “Aku tidak suka mengulang perintah. Keluar sekarang.”

Nada itu lebih buruk daripada bentakan. Bram tidak marah; ia sedang melakukan eliminasi. Aris merasakan getaran di saku celananya. Sebuah pesan anonim muncul di layar ponselnya:

Bram tahu kau memegang kuncinya. Keluar sekarang, atau perlindungan hukummu diputus.

Aris membaca pesan itu dua kali. Perlindungan hukum. Bram tidak hanya mengincar nyawanya, tapi juga jalur resminya: pengacara keluarga, akses dokumen, dan satu-satunya celah hukum sebelum tenggat 12 hari itu menutup segalanya. Ia melirik meja Clara yang tertata terlalu rapi—sebuah panggung yang disiapkan untuk meyakinkan publik bahwa Clara hanya pergi sebentar.

Di antara map-map kosong, sebuah amplop tipis terselip. Tulisan tangan Clara tegas, miring, dan mendesak:

Kalau kau sampai di sini, jangan percaya denah. Cari dinding barat. Jangan buka semua halaman di sini. Ini bom waktu.

Aris membuka buku besar itu. Halaman pertama bukan berisi warisan, melainkan daftar aliran dana dan kode proyek yang ditulis dengan tangan disiplin.

PROYEK D-17 — renovasi dinding barat — dana keluar via tiga rekening penyangga.

Di bawahnya, catatan tinta hitam yang lebih tua: Pindahkan sebelum pengesahan notaris. Jangan biarkan ada nama muncul di pengadilan.

Ini bukan buku warisan. Ini buku operasi. Aris membalik halaman demi halaman. Setiap lembar adalah pengakuan: aliran dana ke perusahaan cangkang, renovasi interior yang ternyata jalur pencucian uang, dan nama-nama yang dicoret tipis—cukup rapi untuk lolos dari audit awam, cukup jelas untuk mengikat keluarga itu ke konspirasi yang tidak boleh tersentuh hukum.

Di pinggir halaman, kode D-17 berulang tiga kali. Aris mulai melihat polanya. Dinding barat bukan sekadar tempat persembunyian; itu adalah bagian dari mesin pencucian uang. Clara tidak hanya menemukan catatan ini; ia sengaja menyimpannya di tempat yang terkait langsung dengan kebohongan itu.

Ponselnya bergetar lagi. Jangan salin semuanya. Ada pemantauan file. Ambil nama yang mengarah ke orang dalam.

Aris menyalakan kamera ponsel. Ia memotret rekening, kode proyek, dan satu nama yang berulang di pinggir catatan: Raka S.

Kepala administrasi estate. Orang yang selama ini tampak terlalu kecil untuk dicurigai, terlalu sopan untuk dilawan. Raka S. adalah penghubung transfer dan pihak yang menandatangani dokumen renovasi. Pemalsuan denah bukan kerja mendadak; itu kerja dari dalam yang sudah lama berjalan.

Kalau kau menemukan nama itu, jangan ke pengacara dulu. Bram akan memutus jalurnya, tulis Clara di sisi halaman.

Aris membeku. Clara tahu pengacara keluarga bisa dibungkam sebelum sempat bicara. Itu berarti ada berkas lain yang lebih berbahaya. Bram sedang bergerak bukan hanya untuk merebut buku ini, tapi untuk menutup semua pintu sebelum tenggat deklarasi habis.

Pintu berderit. Celahnya terbuka, memperlihatkan ujung mata Bram yang tajam seperti pisau. “Aris. Aku tahu kau suka main rapi. Jangan paksa aku memanggil mereka masuk. Serahkan apa pun yang kau ambil dari ruang Clara.”

Aris tidak punya waktu untuk memilih. Ia menyapu halaman-halaman penting dengan kamera ponsel, lalu menekan buku itu ke dadanya. Dalam gerakan tergesa, amplop Clara jatuh ke bawah kaki lampu. Aris ingin meraihnya, tapi suara Bram berubah menjadi perintah dingin: “Jangan biarkan dia keluar!”

Aris menerjang kabinet arsip di sisi kiri ruangan. Ia menendang panel ventilasi rendah yang ia tahu dari denah asli. Logamnya terlepas dengan dentuman keras. Ia menyelipkan bahu ke celah sempit itu, kulit jaketnya tersangkut di tepi karat. Di belakangnya, kursi diseret, langkah kaki penjaga mendekat.

“Kalau buku itu keluar dari estate ini,” suara Bram menggema di lorong, “kamu yang akan disalahkan.”

Aris merangkak masuk ke lorong servis yang gelap dan berdebu. Ia ingat pesan anonim itu: Pengacara keluarga menunggumu—dia baru sadar berkas Clara hilang lebih dulu dari jadwal.

Aris berhenti sejenak di kegelapan lorong. Jadi ada berkas lain yang hilang. Seseorang sudah memotong jalur hukum Clara sebelum waktunya. Ia menekan tasnya ke dada. Buku besar hitam itu masih ada padanya, tapi sekarang ia tidak punya perlindungan. Ia hanya punya satu nama, satu pola uang, dan satu pengacara yang mungkin masih cukup takut untuk bicara.

Di estate itu, kebenaran baru saja membuatnya jauh lebih sendirian.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced