Novel

Chapter 11: Menembus Benteng Terakhir

Arini berhasil mengejar van yang membawa Maya hingga ke estate, namun Bram menyandera Maya di depan polisi yang baru tiba. Arini kini menghadapi konfrontasi fisik terakhir dengan Bram yang terpojok.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Menembus Benteng Terakhir

Layar ponsel Arini berkedip, menampilkan notifikasi Upload Failed yang terasa seperti vonis mati. Sinyal satelit yang diupayakan Dito terputus total. Di depannya, Bram berdiri dengan pistol terarah, bayangannya memanjang di atas lantai beton gudang yang lembap. Di belakang Bram, van hitam—penjara berjalan bagi Maya—mesinnya menderu, siap melesat.

"Permainanmu berakhir, Arini," suara Bram dingin, tanpa sisa kepura-puraan sebagai paman yang berduka. "Buku besar yang kau temukan di estate itu hanyalah sampah. Umpan. Sementara kau sibuk membedah kebohongan, waktu Maya habis dalam dua hari ke depan."

Arini melirik jam tangannya. Dua hari. Empat puluh delapan jam sebelum deklarasi kematian Maya disahkan secara hukum dan seluruh aset keluarga jatuh ke tangan Bram. Di dalam van, ia melihat siluet Maya yang bergetar. Ini bukan lagi soal warisan; ini adalah eksekusi yang direncanakan dengan presisi.

Tiba-tiba, alarm gudang meraung. Lampu indikator di dinding berkedip merah—sebuah gangguan elektrik yang disengaja. Dito. Arini tidak membuang waktu. Ia menerjang ke arah pintu darurat yang terbuka otomatis. Suara tembakan Bram memecah udara, menghantam beton tepat di samping kepalanya, namun Arini sudah melompat keluar.

Ia memacu mobilnya, mengejar van hitam yang membelah kemacetan Jakarta menuju estate keluarga. "Dito, lacak posisinya!" teriak Arini melalui hands-free.

"Bram memblokir akses CCTV, tapi aku mengarahkan polisi jujur ke koordinatmu sekarang!" sahut Dito, suaranya pecah oleh kepanikan.

Van hitam itu berbelok tajam memasuki gerbang estate. Arini tahu, jika van itu masuk, Maya akan hilang di labirin dinding beton yang menyimpan rahasia kelam keluarga mereka. Tanpa ragu, Arini menginjak pedal gas, membanting setir, dan menabrakkan moncong mobilnya ke sisi van. Brak! Logam beradu, van itu oleng dan menghantam pilar gerbang hingga berhenti total.

Arini keluar, berlari melewati jalur rahasia yang ia rancang bertahun-tahun lalu—jalur yang tidak diketahui Bram. Ia menyusup ke ruang kerja lantai dua, tempat Bram menyimpan dokumen asli. Bau bensin menyengat. Bram sedang membakar tumpukan berkas di perapian.

"Sudah terlambat, Bram!" seru Arini, melompat dari balik lemari buku.

Bram menoleh, matanya liar. "Kau tidak akan pernah bisa membongkar ini!"

Arini memicu sistem pemadam kebakaran otomatis. Air menyembur, memadamkan api dan memaksa Bram mundur. Arini tidak mengejar Bram; ia melesat ke ruang bawah tanah. Namun, Bram lebih cepat. Ia sudah menarik Maya keluar, menodongkan pistol ke pelipis gadis itu saat polisi tiba di halaman depan.

Lampu rotator biru-merah membelah kegelapan. Bram terpojok, menggunakan Maya sebagai perisai manusia di depan pintu utama. "Mundur!" teriak Bram, suaranya parau. "Kalau kalian mendekat, dia mati sekarang!"

Arini melangkah keluar dari bayang-bayang, ponselnya menampilkan progres unggahan data yang terhenti di 98 persen. "Lepaskan dia, Bram. Semua orang sudah melihatmu," ucap Arini tegas. Bram menarik pelatuk sedikit, membuat Maya memekik tertahan. Di bawah todongan senjata, konfrontasi fisik mencapai puncaknya, dan nasib Maya kini berada di ujung pelatuk yang siap meledak kapan saja.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced