Novel

Chapter 12: Warisan yang Tersisa

Arini berhasil menyelamatkan Maya dan membongkar skandal Bram di pengadilan. Ia melepaskan hak warisnya dan meninggalkan estate selamanya, menutup kasus tepat sebelum batas waktu hukum berakhir.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Warisan yang Tersisa

Laras pistol Bram menekan tulang pelipis Maya begitu keras hingga kulit gadis itu memerah. Di halaman depan estate, lampu rotator polisi membelah kegelapan malam, menyapu wajah Bram yang kini tampak seperti topeng retak. Arini berdiri sepuluh meter di depan mereka, napasnya memburu. Ia tidak memegang senjata, hanya sebuah buku besar bersampul kulit—umpan palsu yang ia tahu sengaja ditinggalkan Bram untuk mengulur waktu hingga batas 48 jam deklarasi kematian Maya habis.

"Lepaskan dia, Bram!" teriak Kompol Hendra dari balik barikade mobil patroli. "Kau sudah terkepung. Tidak ada lagi celah untuk memalsukan kematian pewaris demi aset-aset haram itu!"

Bram tertawa, suara yang kering dan pecah. Ia menarik Maya mundur, sepatu kulitnya menggesek lantai beranda yang berdebu. "Kalian pikir kalian menang? Gadis ini pion. Arini juga pion. Warisan ini milikku, dan jika aku tidak bisa memilikinya, tidak akan ada yang tersisa untuk siapa pun!"

Arini menatap mata Bram. Ia melihat paranoia yang murni di sana. Bram tidak lagi takut pada polisi; ia takut pada kenyataan bahwa Dito telah berhasil menembus server internal kepolisian dan mengunggah bukti aliran dana haram ke portal publik. Arini tahu, Bram tidak akan membunuh Maya sekarang karena gadis itu adalah satu-satunya jaminan agar ia bisa terus menunda eksekusi hukum atas namanya. Arini memberi kode lewat kedipan mata yang tajam.

Maya menghentakkan tumitnya ke punggung kaki Bram sekuat tenaga. Pria itu mengaduh, kehilangan keseimbangan sepersekian detik. Arini menerjang, menabrak bahu Bram hingga pistol itu terlepas dan meluncur di lantai kayu. "Sekarang, Hendra!" teriak Arini.

Tim taktis mendobrak masuk. Bram mencoba merangkak menuju panel dinding, berusaha memusnahkan bukti fisik yang ia kira masih tersembunyi di balik kayu ek, namun tangan polisi lebih cepat. Bram diborgol di depan Arini. Pria itu menatapnya dengan kebencian yang hancur saat Kompol Hendra secara resmi membatalkan deklarasi kematian Maya di tempat.

Dua hari kemudian, ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta dipenuhi keheningan mencekam. Arini berdiri di podium saksi, memegang salinan digital transaksi yang ia susun bersama Dito—sebuah labirin korupsi yang selama ini menjadi fondasi kekayaan keluarganya.

"Apakah Anda bersedia memberikan keterangan atas aliran dana ini, Arini?" tanya jaksa.

"Saya bersedia," jawab Arini tegas. Ia menatap Bram yang tampak kuyu di kursi pesakitan. "Dokumen ini membuktikan bahwa Bram sengaja memalsukan deklarasi kematian Maya untuk mencairkan aset yang bukan miliknya. Buku besar yang ditemukan di dinding estate hanyalah umpan, sebuah skenario untuk mengalihkan perhatian dari kejahatan sistemik yang ia bangun selama bertahun-tahun."

Arini menolak bagian warisannya. Ia menyerahkan seluruh aset keluarga yang terlibat tindak pidana kepada negara dan yayasan sosial. Saat ia keluar dari ruang sidang, beban dua belas hari terakhir akhirnya terangkat. Ia kembali ke estate untuk terakhir kalinya. Ia berdiri di tengah aula besar, menatap jam dinding antik yang kini berhenti berdetak di angka dua belas. Tidak ada lagi detak yang memburu. Tidak ada lagi ancaman kehilangan segalanya.

Maya mendekat, memeluk lengan Arini dengan gemetar. "Kita sudah bebas, Arin," bisik Maya lirih.

Arini tidak menjawab. Ia menyerahkan kunci estate kepada pihak berwenang. Ia melangkah keluar dari gerbang besi yang berat itu, tidak menoleh ke belakang. Ia berjalan menjauh dari bayang-bayang mansion, meninggalkan warisan berdarah untuk memulai hidup yang tidak terbeli.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced