Pilihan Terakhir
Ledakan tangki bahan bakar di sisi utara gudang logistik Tanjung Priok bukan sekadar pengalihan; itu adalah dentuman yang meruntuhkan sisa-sisa keberanian Arini. Di balik tumpukan kontainer besi yang berkarat, ia terengah-engah, memeluk ponselnya seolah itu adalah satu-satunya nyawa yang tersisa. Layar retak itu berkedip lemah, menampilkan bilah progres unggahan data transaksi intelijen yang ia curi dari koper Maya.
87%... 88%...
Sinyal seluler hilang total. Bram telah mengaktifkan jammer frekuensi di seluruh area pelabuhan. Arini terjepit di antara dinding beton dan deru mesin van hitam yang membawa Maya menjauh—sebuah van yang kini ia sadari bukan menuju kapal kargo, melainkan ke gudang penyimpanan rahasia milik keluarga di pinggiran kota. Waktu terus menipis. Hanya tersisa dua hari sebelum deklarasi kematian Maya disahkan secara hukum, yang berarti seluruh aset akan jatuh ke tangan Bram tanpa bisa diganggu gugat.
Langkah kaki berat mendekat. Suara sepatu bot Bram menghentak beton, ritmis dan penuh ancaman. Arini tahu ia tidak bisa melawan secara fisik. Ia butuh koneksi satelit.
"Arini!" Suara Bram menggema, dingin dan tanpa emosi. "Buku besar yang kau temukan di estate itu hanyalah sampah. Kau membuang waktu yang tidak kau miliki."
Arini memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Tiba-tiba, sebuah tangan menariknya ke dalam celah gelap di antara dua kontainer. Dito. Wajah pria itu pucat, seragamnya kotor oleh jelaga.
"Mereka memecatku, Arini. Hendra tahu aku membocorkan akses gudang," bisik Dito, tangannya gemetar saat menyodorkan sebuah perangkat kotak hitam kecil. "Ini hub satelit pribadi. Tidak terhubung dengan menara lokal. Sekali kau aktifkan, mereka akan melacak sinyal ini dalam hitungan detik. Kau hanya punya satu kesempatan untuk mengunggah sisa data itu."
Arini menatap perangkat itu. "Kenapa kau membantuku?"
"Karena aku sudah lelah menjadi pion dalam sejarah busuk keluarga ini," jawab Dito. Ia berbalik, mencabut kabel alarm gudang untuk menciptakan kekacauan, lalu berlari ke arah berlawanan untuk memancing anak buah Bram.
Arini berlari menuju titik akses satelit di gudang ujung. Ia menempelkan perangkat itu ke ponselnya. Bilah progres kembali bergerak. 92%... 94%...
"Jangan bergerak, Arini."
Bram berdiri di ambang pintu, memegang pemancar sinyal portabel yang mematikan segala komunikasi di ruangan itu. Arini menatap layar ponselnya yang mulai meredup. 97%... 98%...
"Dunia tidak akan pernah tahu, Arini," ujar Bram sambil melangkah maju, sepatunya beradu dengan pecahan kaca. "Karena kau tidak akan pernah keluar dari sini."
Arini menekan tombol 'upload' dengan sisa tenaga terakhirnya, namun tepat sebelum data terkirim, layar ponselnya mati total. Sinyal diputus. Ia terpojok, namun di balik pintu gudang, ia mendengar sirine polisi jujur yang akhirnya tiba—terlambat, namun cukup untuk membuat Bram menoleh dengan panik. Arini melihat Bram mengeluarkan senjata, mengarahkannya ke arah van hitam yang baru saja berbelok, di mana Maya terlihat di balik kaca yang pecah.