Negosiasi Berdarah
Bau solar dan amis laut menusuk tajam, seolah pelabuhan ini sedang mencoba menelan Arini hidup-hidup. Di depan sana, lampu buritan kapal kargo yang seharusnya membawa Maya menjauh, membelah kegelapan Teluk Jakarta. Itu bukan penyelamatan. Itu adalah pengalihan. Di sudut matanya, sebuah van hitam melesat dari balik gudang, membawa satu-satunya nyawa yang tersisa untuk membongkar kebusukan keluarga. Delapan hari. Hanya delapan hari tersisa sebelum deklarasi kematian Maya disahkan, dan Arini baru saja kehilangan satu-satunya kartu as yang ia miliki.
Jantungnya berdegup liar, memukul rusuknya seperti lonceng peringatan yang tak kunjung berhenti. Ia membuka koper yang ditinggalkan di dekat tiang pancang, jemarinya gemetar hebat saat merogoh dasar koper. Ia mencari buku besar—bukti transaksi aliran dana haram yang dijanjikan Dito. Namun, yang ia temukan hanyalah tumpukan kertas kosong dengan stempel palsu yang sengaja diletakkan untuk mengejeknya.
"Mencari sesuatu yang berharga, Arini?"
Suara itu membelah kesunyian, dingin dan penuh kemenangan. Arini membeku. Dari balik bayangan gudang, Bram melangkah keluar, setelan jas mahalnya tampak absurd di tengah debu pelabuhan. Dua pria berbadan tegap berdiri di belakangnya, tangan mereka tersembunyi di balik pinggang, siap mencabut senjata.
"Buku besar itu?" Bram tertawa kecil, suara yang tidak mengandung humor sedikit pun. "Itu hanyalah umpan untuk memastikan kau datang ke sini, ke tempat di mana kau tidak bisa berteriak minta tolong. Kau terlalu mudah ditebak, persis seperti ayahmu."
Arini memaksakan diri untuk berdiri tegak, meski kakinya terasa lemas. Ia harus tetap tenang. "Aku punya salinan lain, Bram. Jika aku tidak memberi kabar dalam satu jam, sistem otomatis akan menyebarkan semua data transaksi intelijenmu ke media nasional. Kau akan hancur sebelum deklarasi kematian Maya disahkan."
Bram hanya tersenyum, seringai yang membuat bulu kuduk Arini berdiri. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari saku jasnya dan menekannya. "Sinyal di area ini sudah mati sejak sepuluh menit lalu, Arini. Tidak ada yang akan terkirim. Tidak ada yang akan membantumu."
Arini menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan yang sempurna. Maya tidak ada di kapal; Maya telah dibawa pergi jauh, dan aset informasi yang ia banggakan hanyalah sampah. Keputusasaan mulai merayap, namun ia tidak punya ruang untuk menyerah. Saat pengawal Bram mulai mendekat, Arini menendang tabung gas di dekat tumpukan palet kayu dengan sekuat tenaga.
BOOM!
Ledakan itu mengguncang gudang, menciptakan bola api yang menyambar langit-langit dan membutakan para pengawal. Arini tidak menunggu. Ia berlari menembus asap pekat, membelah labirin kontainer dengan napas yang memburu. Di tengah pelariannya, ia merogoh saku koper dan menemukan perangkat pelacak kecil berbentuk koin yang tertanam di sana. Bram telah melacak setiap langkahnya sejak awal.
Ia melempar perangkat itu ke bawah roda truk yang melintas, mendengar bunyi logam hancur terlindas. Namun, rasa ngeri itu tetap ada. Ia berlindung di sudut gelap, mencoba menghubungkan kembali ponselnya ke server publik. Layar ponselnya berpendar biru. Proses unggah data transaksi yang tersisa dari koper mulai berjalan. 20%... 40%... 60%.
Di luar sana, langkah sepatu pantofel Bram bergema di atas beton. Pria itu mendekat, tenang dan pasti. Arini menekan tombol 'upload' dengan jempol yang bergetar. 90%... 99%...
Lalu, layar itu padam. Sinyal terputus total. Arini menatap layar hitam itu dengan napas tertahan saat bayangan Bram muncul di ambang pintu gudang, menutup satu-satunya jalan keluar.