Novel

Chapter 8: Ujung Pelabuhan

Arini tiba di pelabuhan hanya untuk menyaksikan kapal kargo yang membawa Maya berangkat, menyadari bahwa itu hanyalah pengalihan. Ia menemukan koper berisi bukti transaksi data intelijen, namun Bram muncul dan mengungkapkan bahwa buku besar yang ia miliki hanyalah umpan palsu, memperburuk posisi Arini saat waktu terus berjalan menuju batas 8 hari.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Ujung Pelabuhan

Bau solar yang terbakar dan amis air laut menusuk paru-paru Arini. Ia baru saja merangkak keluar dari gorong-gorong di bawah gudang pelabuhan, tubuhnya kotor oleh lumpur hitam, namun rasa perih di kulitnya tidak sebanding dengan detak jantung yang menghantam rusuknya. Di depan sana, lampu mercusuar berputar, menyapu dermaga yang sepi. Arini memaksakan kakinya bergerak, mengejar siluet kapal kargo yang ia yakini membawa Maya.

Namun, dermaga itu kosong. Kapal kargo dengan kode lambung yang ia pecahkan dari buku besar hitam itu baru saja memutar haluannya. Mesinnya menderu rendah, membelah kabut malam Jakarta, bergerak menjauh ke tengah laut. Arini berlari hingga ke tepi beton, sepatu ketsnya tergelincir di atas pelat besi yang licin. Ia terlambat. Maya ada di balik baja kapal itu, disekap dan dibawa menjauh dari jangkauan hukum.

Jam di pergelangan tangannya berkedip: 8 hari tersisa. Delapan hari sebelum deklarasi kematian Maya menjadi sah di mata hukum, dan seluruh warisan estate jatuh ke tangan Bram.

Saat ia hendak berbalik, matanya menangkap sesuatu di balik tumpukan kontainer biru yang berkarat. Sebuah koper kulit tua tergeletak miring. Arini mendekat, tangannya gemetar saat membuka kunci koper tersebut. Isinya bukan pakaian, melainkan dokumen yang terbungkus plastik kedap air: paspor Maya dan catatan tangan mengenai transaksi penjualan data intelijen negara. Ini adalah kepingan puzzle yang selama ini dicari Bram untuk melenyapkan Maya.

"Mereka mengawasi, Mbak. Saya bisa mati kalau bicara," sebuah suara parau memecah keheningan. Seorang buruh pelabuhan bertubuh kurus muncul dari balik gudang, matanya liar ketakutan.

Arini menyodorkan sisa uang di dompetnya—uang yang seharusnya ia gunakan untuk menyuap akses ke arsip kepolisian besok. "Katakan apa yang kau lihat."

Buruh itu menyambar uang tersebut. "Perempuan yang Anda cari... dia tidak ada di kapal itu. Mereka membawanya turun lima menit sebelum jangkar diangkat. Orang-orang berjas hitam membawanya masuk ke dalam mobil van hitam yang menunggu di balik kontainer nomor dua belas."

Seluruh usahanya mengejar kapal itu hanyalah pengalihan. Arini merasa dunianya runtuh. Saat ia berbalik untuk lari, sebuah suara berat menghentikannya.

"Terlambat, Arini. Seperti biasa, kau selalu mengejar bayangan yang sengaja kubuat untukmu."

Bram berdiri sepuluh meter di belakangnya, dikawal dua pria berbadan tegap. Ia tampak santai, seolah baru saja menyelesaikan urusan bisnis rutin. Arini mencengkeram buku besar yang ia curi dari dinding estate, namun Bram hanya tertawa kecil.

"Buku itu? Kau pikir kau berhasil mencurinya dari dinding estate? Itu hanyalah umpan, Arini. Salinan yang aku letakkan agar kau merasa memiliki kendali. Setiap langkah yang kau ambil—vila di Puncak, gudang ini, semua adalah skenario." Bram melangkah maju, sepatu kulitnya beradu dengan beton dermaga. "Sisa waktu delapan hari sebelum deklarasi kematian Maya akan menjadi akhir bagi kita berdua. Dan kali ini, tidak ada lagi jejak yang tersisa untuk kau ikuti."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced