Perburuan di Pinggiran Kota
Bau amis lumpur pelabuhan dan solar yang terbakar menusuk hidung Arini, jauh lebih tajam daripada aroma parfum mahal di koridor estate keluarganya. Di luar gudang tua Sektor B Pelabuhan Sunda Kelapa, deru sirine polisi membelah keheningan malam, semakin mendekat. Arini menekan map cokelat berisi bukti transaksi rahasia itu ke dadanya, merasakan detak jantungnya yang beradu dengan sisa waktu delapan hari sebelum hak waris Maya dinyatakan hangus dan jatuh ke tangan Bram.
"Arini! Keluar sekarang. Jangan membuat saya terpaksa menggunakan prosedur kekerasan!" Suara Kompol Hendra menggema dari luar, dingin dan penuh otoritas yang sengaja dipersenjatai. Arini tidak menjawab. Ia tahu Hendra bukan datang untuk menangkapnya secara prosedural. Pria itu datang untuk memastikan Arini tidak pernah sampai ke kantor kejaksaan dengan bukti yang ia pegang. Ia memindai sekeliling gudang yang gelap. Sebagai seorang arsitek, ia terbiasa melihat struktur bangunan bukan sebagai dinding, melainkan sebagai aliran ruang. Di sudut barat, ia melihat tumpukan peti kemas tua yang bersandar miring pada dinding bata yang mulai rapuh. Saluran pembuangan tua, peninggalan era kolonial, terletak tepat di bawah fondasi yang retak itu. Ia bergerak lincah, mengabaikan debu yang menyesakkan paru-parunya. Saat pintu besi gudang berderit keras, Arini sudah lenyap ke dalam kegelapan lubang drainase, meninggalkan Hendra yang marah di balik pintu yang terkunci.
Arini melaju menembus kabut tebal menuju Puncak. Sesuai instruksi Dito—sebelum pria itu menghilang ke dalam bayang-bayang ketakutan—vila di kawasan ini hanyalah panggung sandiwara. Namun, ia harus memastikan apakah ini sekadar umpan atau ada jejak nyata yang tertinggal. Saat Arini menginjakkan kaki di teras vila yang dingin dan lembap, detak jantungnya berpacu seirama dengan jarum jam dinding yang menggantung di ruang tamu. Vila itu tampak mewah namun mati. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada napas manusia. Hanya aroma parfum mahal yang tertinggal di udara—aroma kayu cendana dan tembakau yang menjadi ciri khas Bram. Pria itu sudah di sini.
Arini segera menyisir ruangan dengan gerakan taktis. Di sudut ruang kerja, matanya menangkap sesuatu yang ganjil: sebuah kamera pengintai yang terpasang kasar di balik kap lampu. Ini bukan sekadar vila; ini adalah pusat kendali. Kabel-kabel berserakan menuju ke arah modem yang terhubung langsung ke server eksternal. Bram tidak hanya menyekap Maya, dia sedang memantau setiap inci pergerakan Arini dari jauh. Di balik cermin besar ruang tamu yang retak, Arini menemukan secarik kertas yang diselipkan dengan terburu-buru. Tulisan tangan Maya terlihat bergetar: 'Jangan cari di sini. Mereka memindahkan semuanya ke Sektor B. Jika kau membaca ini, aku sudah di pelabuhan.'
Arini kembali ke area pelabuhan dengan napas memburu. Delapan hari tersisa sebelum deklarasi kematian Maya disahkan secara hukum. Ia merayap di antara tumpukan kontainer yang berkarat, matanya memindai setiap sudut gudang Sektor B. Suasana di sini sunyi, namun keheningan itu justru menyesakkan. Saat ia mendekati pintu kayu yang tergantung miring, aroma Santal 33 yang identik dengan Bram kembali menyergap indranya. Ia menendang pintu gudang hingga terbuka. Ruangan itu kosong, namun di atas meja kayu yang terguling, ia menemukan koper kulit milik Maya yang terbuka lebar, isinya berserakan. Di dasar koper, sebuah pesan tertulis ditinggalkan, menunjuk ke arah kapal kargo yang baru saja melepas jangkar di dermaga ujung. Arini berlari ke tepian, menatap kapal yang perlahan menjauh ke tengah samudra, menyadari bahwa ia hanya terlambat beberapa menit dan waktu kini kian menipis.