Pengkhianatan Dito
Kafe di pinggiran Jakarta itu berbau kopi tubruk hangus dan sisa hujan yang terjebak di lantai kayu. Arini duduk mematung, menatap Dito yang tampak seperti orang yang baru saja melihat hantu. Setiap kali lonceng pintu berdentang, mata Dito melesat ke arah pintu masuk dengan kepanikan yang tidak bisa disembunyikan.
"Katakan, Dito," suara Arini memecah kesunyian, tajam dan dingin. "Apakah vila di Puncak itu tempat Maya disekap, atau aku sedang berjalan menuju lubang kuburku sendiri? Delapan hari sebelum deklarasi kematian Maya disahkan, aku tidak punya waktu untuk tebak-tebakan."
Dito menelan ludah, jakunnya naik-turun. Tangannya gemetar di bawah meja, namun ponsel di sakunya terus bergetar—sebuah notifikasi yang tak henti-hentinya menuntut perhatian. Arini bergerak lebih cepat. Ia menyambar ponsel itu dari atas meja. Layarnya menyala, menampilkan pesan singkat yang membuat jantung Arini seolah berhenti: 'Pastikan dia masuk ke dalam vila. Jika dia lolos, keluargamu yang akan menanggung akibatnya.'
Arini melempar ponsel itu kembali ke meja. "Bram?"
Dito menunduk, bahunya merosot. "Dia mengancam istri dan anakku, Arini. Aku tidak punya pilihan."
Arini membanting map berisi salinan aliran dana haram Bram ke meja. "Lihat ini. Ini daftar orang-orang yang Bram lenyapkan tahun lalu. Kamu pikir kamu berbeda? Begitu aku sampai di vila itu dan kamu menyerahkanku, kamu adalah saksi hidup yang paling berbahaya. Kamu tahu sistem arsip yang dia manipulasi. Kamu adalah residu yang harus dia bersihkan."
Keheningan mencekam menyelimuti mereka. Arini menatap lurus ke mata Dito yang mulai berkaca-kaca. "Pilihannya sederhana: mati sebagai pion Bram, atau hidup sebagai saksi kunci. Aku butuh data intelijen terakhir yang kamu curi dari kepolisian."
Dito terdiam lama, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan sebuah flashdisk kecil. "Ini data asli dari log akses menara pemancar seluler. Vila di Puncak itu... itu hanya umpan. Maya tidak ada di sana. Koordinat sebenarnya terselip di dalam data ini."
Arini segera meninggalkan kafe, melaju membelah kabut menuju koordinat baru yang merujuk pada gudang pelabuhan tua. Setibanya di sana, gudang itu berbau amis pelabuhan yang menyesakkan. Arini melangkah hati-hati, senternya menyorot tumpukan peti kayu kosong. Di balik papan dinding yang lapuk, ia menemukan secarik kertas yang diselipkan Maya—bukti kunci bahwa Bram secara sistematis menjual data intelijen negara. Namun, sebelum ia sempat mencerna isi pesan itu, langkah kaki berat menggema dari luar. Polisi telah mengepung area tersebut. Arini terpojok, menyadari bahwa konspirasi ini jauh lebih besar dari yang ia bayangkan, dan waktu delapan hari itu kini terasa seperti sisa napas terakhirnya.