Novel

Chapter 5: Paranoia di Balik Layar

Arini memecahkan kode dalam buku besar dan menemukan lokasi penyekapan Maya di Puncak. Namun, saat melarikan diri bersama Dito, ia menyadari bahwa sekutunya tersebut telah dipaksa oleh Bram untuk menjebaknya di lokasi tersebut.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Paranoia di Balik Layar

Lampu neon di luar jendela motel berkedip ritmis, menyiramkan cahaya biru pucat ke atas meja kayu yang lapuk. Arini tidak peduli pada bau apek kasur atau suara langkah kaki di lorong luar. Di depannya, buku besar hitam itu terbuka lebar, halamannya yang menguning tampak seperti nisan yang menolak bicara. Televisi tabung di sudut ruangan menyala tanpa suara, menampilkan wajahnya sendiri yang dibingkai teks merah mencolok: BURONAN NASIONAL: TERDUGA PENCULIKAN PEWARIS ESTATE.

Bram benar-benar telah membalikkan keadaan. Delapan hari. Hanya delapan hari tersisa sebelum hukum menyatakan Maya resmi hilang dan seluruh aset keluarga berpindah tangan ke tangan Bram. Jika itu terjadi, Maya tidak akan pernah ditemukan, dan Arini akan membusuk di penjara.

Jarinya gemetar saat menelusuri koordinat yang tertera di halaman empat puluh dua. Ia bukan sekadar arsitek; ia mengenal gaya desain ayahnya. Angka-angka ini bukan data keuangan biasa. Ini adalah kode grid arsitektur yang sering digunakan mendiang ayahnya untuk menandai denah rahasia di balik bangunan utama keluarga.

"Ini bukan catatan suap," gumam Arini, suaranya parau. "Ini adalah denah."

Ia mengambil pensil, mencoba memetakan angka-angka itu ke atas sketsa kasar di buku catatannya. Pikirannya berlari cepat. Begitu ia memasukkan koordinat tersebut ke perangkat lunak pemetaan, sebuah titik merah berkedip di area terpencil di Puncak. Itu adalah vila tua yang terdaftar atas nama perusahaan cangkang—entitas yang digunakan Bram untuk menyembunyikan aliran dana haramnya. Maya tidak diculik ke luar negeri; dia disekap tepat di bawah hidung mereka.

Keberhasilan itu terasa seperti racun. Begitu koordinat itu terkunci, sebuah notifikasi peringatan muncul di layar—jejak digitalnya terdeteksi. Seseorang di luar sana, mungkin tim IT bayaran Bram, sedang memantau lalu lintas data dari motel ini. Baru saja Arini hendak mematikan koneksi, lampu rotator merah-biru menyapu dinding kamar dari balik tirai tipis. Suara sirine polisi meraung pelan, memecah kesunyian malam di pinggiran Jakarta. Mereka tidak sekadar berpatroli; mereka sedang memburu.

Ketukan pintu terdengar, cepat dan mendesak. Arini mencengkeram pisau lipatnya, napasnya tertahan.

"Arini, buka! Cepat!" Suara itu milik Dito.

Arini membuka pintu selebar bahu. Dito menyelinap masuk dengan napas tersengal, kemejanya basah oleh keringat. "Kompol Hendra menangkapku tadi sore. Aku kabur lewat pintu belakang sebelum mereka mengunci ruang interogasi."

Arini menatap mata Dito yang gelisah. Sekutu satu-satunya ini sudah kehilangan banyak—pekerjaan, nama baik, mungkin nyawa. "Kenapa kau masih datang? Kau bisa lari saja, Dito."

"Karena aku masih punya hutang sama Maya," jawab Dito, menyerahkan kunci mobil. "Bawa mobilku. Aku sudah mematikan pelacaknya, tapi kita harus segera pergi dari sini. Bram sudah memerintahkan orang untuk menyisir area ini."

Arini mengangguk, memasukkan buku besar itu ke dalam tas ranselnya. Di dalam mobil yang melaju membelah kegelapan menuju Puncak, ketegangan di antara mereka meningkat. Arini menatap buku besar di pangkuannya, sementara Dito terus melirik spion tengah dengan gelisah. Arini merasakan kecurigaan yang merayap di tengkuknya. Dito yang biasanya tenang kini terlihat seperti orang yang sedang menanti vonis mati.

"Kau sudah memeriksa koordinat ini?" tanya Arini tajam. "Kenapa kau terlihat seperti orang yang sedang dikejar hantu?"

Dito membanting setir ke bahu jalan, mematikan mesin secara tiba-tiba. Kesunyian di dalam mobil terasa mencekik. Ia mengeluarkan ponselnya yang menyala, memperlihatkan pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal—instruksi dari Bram.

"Arini, aku tidak punya pilihan," suaranya pecah, hampir seperti isak tangis yang tertahan. "Bram tahu aku yang membantu pencurian data ini. Dia memaksaku menjebakmu di tempat persembunyian ini. Mereka sudah menunggu kita di sana."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced