Novel

Chapter 4: Harga Sebuah Kepercayaan

Arini berhasil meloloskan diri dari jebakan alarm di estate Bram melalui jalur servis, namun ia kini resmi menjadi buronan nasional setelah Bram memutarbalikkan fakta di media. Arini bersembunyi di motel murah bersama bukti buku besar, menyadari bahwa ia hanya memiliki delapan hari tersisa sebelum Maya dinyatakan mati secara hukum.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Kepercayaan

Sirene Estate Keluarga melengking, memecah kesunyian malam dengan ritme yang memekakkan telinga. Lampu rotasi merah menyapu dinding mahoni ruang kerja kakek, mengubah bayangan perabotan antik menjadi monster yang menari-nari. Arini mendekap buku besar hitam itu ke dadanya, merasakan tekstur kulit kusamnya yang dingin.

Klik.

Sistem keamanan pintar—yang dirancang Bram untuk mengunci rapat rahasia keluarga—telah menutup akses keluar. Arini menarik gagang pintu sekuat tenaga, namun mekanisme hidrolik itu tak bergeming. Di luar, derap sepatu bot satpam menghantam marmer lorong, mendekat dengan ritme eksekusi.

"Arini, menyerahlah!" Suara Bram menggema dari interkom, tenang dan penuh kemenangan. "Kau sudah terjebak. Jangan buat mereka harus membersihkan darahmu dari karpet ini."

Arini tidak menjawab. Sebagai arsitek yang pernah merenovasi sayap barat mansion ini, ia tahu setiap inci bangunan ini adalah labirin. Ia mengingat denah lama: jalur servis di balik rak buku raksasa. Dengan napas memburu, ia membongkar panel kayu, menyelinap ke dalam lorong pembuangan sampah yang sempit dan berdebu tepat saat pintu utama didobrak dengan dentuman keras.

Ia merangkak melalui lorong pengap, mengabaikan rasa perih di lututnya. Begitu mencapai halaman belakang, ia berlari menembus rimbun tanaman hias, namun pagar besi setinggi tiga meter tampak seperti benteng yang mustahil. Saat memanjat, percikan listrik statis menyambar telapak tangannya—sensor keamanan Bram telah aktif sepenuhnya. Arini memaksakan diri melompat, tubuhnya menghantam tanah basah di sisi luar pagar. Nyeri tajam menghujam pergelangan kakinya, namun ia menyeret diri menuju gang gelap tempat Dito menunggu di dalam sedan tua.

"Cepat!" Dito pucat pasi, tangannya gemetar di setir. "Kompol Hendra sudah mencium keterlibatan kita. Mereka mulai memantau setiap pergerakan di departemen arsip. Kita tidak punya waktu lagi."

Arini terdiam, menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar penyelidik, melainkan buronan. Ia bersembunyi di sebuah motel murah di pinggiran Jakarta, tempat di mana bau apek kasur pegas yang lembap menyengat hidungnya. Tangannya gemetar saat meletakkan buku besar hitam itu di atas meja kayu yang mulai keropos. Ia tidak punya waktu untuk beristirahat. Sisa waktu deklarasi kematian Maya kini hanya tinggal delapan hari.

Arini menyalakan televisi tabung tua di sudut ruangan. Jantungnya berhenti berdetak saat melihat wajahnya sendiri memenuhi layar. Foto lamanya saat menghadiri acara keluarga dipajang berdampingan dengan narasi yang mematikan.

"Polisi menetapkan Arini, sepupu dari mendiang Maya, sebagai tersangka utama dalam kasus penculikan berencana. Diduga, ia melarikan diri setelah menyekap korban demi menguasai aset warisan keluarga yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah," suara penyiar berita terdengar datar, menghakimi.

Arini mematikan televisi itu dengan kasar. Bram telah memenangkan babak ini dengan memutarbalikkan fakta. Ia menatap buku besar di depannya, menyadari bahwa di balik daftar suap yang rumit itu, terdapat kode lokasi yang mungkin menjadi satu-satunya petunjuk keberadaan Maya. Namun, dengan statusnya sebagai buronan nasional, setiap langkah yang ia ambil kini adalah pertaruhan nyawa. Waktu terus berdetak, dan ia hanya memiliki delapan hari sebelum Maya dinyatakan mati secara hukum dan harta keluarga jatuh sepenuhnya ke tangan Bram.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced