Dinding yang Menyimpan Dosa
Langkah sepatu pantofel Kompol Hendra beradu nyaring dengan lantai keramik kantor arsip, ritme yang terasa seperti detak jam yang mencuri sisa napas Arini. Punggungnya menempel dingin pada lemari arsip kayu jati yang berbau apek. Di tangan Arini, map cokelat berisi salinan aliran dana haram Bram terasa berat—sebuah tiket menuju keadilan yang kini berbalik menjadi surat kematiannya sendiri.
"Dia tidak mungkin jauh. Periksa pintu belakang!" suara Hendra menggelegar, dingin dan absolut.
Arini melirik ponselnya. Sisa waktu deklarasi kematian Maya tinggal sebelas hari lagi. Jika dia tertangkap sekarang, Bram akan memastikan dia terkubur dalam jeruji besi sebelum surat warisan itu berpindah tangan. Dito, yang berdiri pucat di ujung lorong, memberikan kode mata: sekarang atau tidak sama sekali. Arini menyelinap ke celah pintu darurat. Begitu kakinya menyentuh aspal basah, notifikasi perbankan muncul di ponselnya. Akses dibekukan. Identitasnya bukan lagi sekadar warga negara, melainkan subjek yang ditandai dalam sistem kepolisian.
Arini memacu kendaraan menuju estate keluarga. Sesampainya di sana, suasana peringatan hilangnya Maya terasa menyesakkan. Bau melati yang menyengat dari rangkaian bunga duka cita di ruang tamu terasa seperti aroma pemakaman yang dipaksakan. Arini berdiri di sudut, merapatkan syal untuk menutupi wajahnya. Bram berdiri di dekat perapian, menebar senyum dermawan yang terasa seperti ancaman fisik.
"Arini," suara berat Bram memecah percakapan. Pria itu mendekat, langkahnya beradu keras dengan marmer. "Senang kau datang. Meski aku tahu, kau selalu lebih peduli pada proyek arsitekturmu daripada warisan keluarga ini."
Arini merasakan jantungnya berpacu. "Aku hanya ingin memastikan Maya baik-baik saja, Paman."
Bram tertawa kecil, suara yang tidak mencapai matanya yang tajam. "Maya sudah pergi, Arini. Dan warisan ini... tidak akan jatuh ke tangan mereka yang tidak setia. Jangan berkeliaran di lantai dua. Itu area privat."
Itu adalah tantangan. Saat Bram dipanggil kolega bisnis, Arini bergerak cepat ke lantai dua. Ruang kerja kakeknya sunyi, menyimpan rahasia di balik panel dinding kayu. Sesuai instruksi samar dalam rekaman Maya, Arini meraba celah mikroskopis di antara ukiran motif sulur. Jarinya gemetar, menyentuh tonjolan kayu yang terasa lebih dingin. Dengan sekali tekan, mekanisme pegas berderit, memuntahkan kompartemen rahasia yang tersembunyi puluhan tahun.
Di sana, tergeletak buku besar bersampul kulit hitam. Arini menariknya keluar. Saat membuka halaman pertama, napasnya tercekat. Itu adalah daftar suap terperinci, lengkap dengan inisial pejabat tinggi kepolisian dan nominal fantastis. Nama Kompol Hendra tercantum berkali-kali, bersanding dengan transaksi milik Bram.
Baru saja Arini hendak memasukkan buku itu ke dalam tas, sebuah bunyi nyaring merobek kesunyian. Alarm keamanan estate meraung, lampu merah berputar di dinding, mengubah ruangan menjadi zona peringatan yang mencolok. Arini membeku. Bram tidak mungkin sebodoh itu membiarkan sistem keamanan dipicu oleh kecelakaan. Ini adalah jebakan.
“Arini, menyerahlah. Kau tidak punya jalan keluar,” suara Bram menggema melalui interkom, dingin dan penuh kemenangan. Langkah sepatu bot satpam terdengar berderap di koridor, semakin mendekat. Arini menoleh ke jendela lantai dua, menyadari bahwa dia kini bukan lagi sekadar pencari kebenaran, melainkan buronan yang terjebak dalam labirin dosa keluarganya sendiri.