Labirin Arsip yang Korup
Jalanan Jakarta pukul dua pagi tidak pernah benar-benar mati, namun bagi Arini, lampu-lampu kota yang memantul di kaca spion kini terlihat seperti mata predator. Sebuah sedan hitam membuntuti sejak ia keluar dari apartemen. Bram tidak lagi bermain halus; paman itu sedang mengirim pesan bahwa ruang gerak Arini telah habis. Arini memacu mobilnya membelah keremangan Jalan Gatot Subroto. Ia tidak bisa membawa penguntit ini ke kantor polisi. Jika mereka tahu ia menemui Dito, nyawa pria itu menjadi taruhan.
Sisa waktu 12 hari menuju deklarasi kematian Maya bukan sekadar angka; itu adalah hitung mundur menuju penyitaan aset dan penghapusan jejak kejahatan yang tersisa di dinding mansion. Arini melakukan manuver nekat, membelokkan setir tajam ke arah gang sempit di kawasan Senayan tepat saat lampu lalu lintas berubah merah. Ban mobilnya berdecit, meninggalkan jejak hitam di aspal. Sedan hitam itu mencoba mengikuti, namun Arini sudah lebih dulu mematikan lampu depan, membiarkan kegelapan menelan mobilnya di antara tumpukan rongsokan. Sedan itu melambat, ragu, sebelum akhirnya perlahan berputar balik. Arini tidak menunggu. Ia memacu mobilnya menuju area parkir belakang kantor kepolisian, menyadari bahwa ia kini berada dalam daftar pantau mereka yang berkuasa.
Arini mendorong pintu besi ruang arsip yang sudah berkarat, bau debu lama langsung menusuk hidungnya. Dito sudah menunggu di balik meja logam, wajahnya pucat di bawah lampu neon yang berkedip.
"Kamu terlambat lima menit," bisik Dito sambil menutup pintu dengan cepat. "Setiap detik di sini bisa jadi kesalahan fatal. Berkas Maya... hampir semuanya sudah dihapus secara sistematis."
Arini menatap Dito dengan tajam. "Aku butuh apa pun yang tersisa. Jejak bank, laporan hilang, apa saja."
Dito menggeleng, tangannya gemetar saat membuka laci kunci. "Akses tidak gratis, Rin. Atasan sudah dapat amplop tebal dari orang-orang Bram. Kalau aku kasih kamu data ini, aku butuh jaminan. Rekening pribadimu. Nomor, PIN, semuanya. Aku akan lacak aliran dana dari sisi sana. Kalau aku tertangkap, setidaknya aku punya cara untuk kabur."
Arini merasa dadanya sesak. Memberikan akses rekening berarti membuka pintu bagi siapa pun yang punya koneksi untuk membekukan hidupnya dalam hitungan jam. Tapi menolak berarti buku besar di dinding estate tetap terkubur selamanya. Ia mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi bank, dan menyerahkan kode verifikasi digital dengan jari yang dingin. "Ini," katanya datar. "Sekarang ambil berkasnya."
Dito mengetik cepat, wajahnya yang pucat kini diterangi cahaya monitor. "Sudah dihapus, Arini. Semua jejak digital Maya setelah malam hilangnya itu telah dibersihkan secara sistematis," bisik Dito, matanya melirik gelisah ke arah pintu kaca ruang arsip yang buram. "Seseorang dengan otoritas tinggi telah memerintahkan penghapusan ini. Ini bukan sekadar kesalahan teknis."
Arini mengepalkan tangan. "Cari lagi. Pasti ada cadangan di server fisik atau log transaksi keuangan. Bram tidak mungkin bisa menghapus semuanya tanpa meninggalkan jejak aliran dana ke oknum di sini."
Dito menelan ludah, memasukkan kata sandi akses tingkat tinggi yang ia curi dari atasan mereka. Layar pun berubah. Sebuah daftar transaksi muncul, menunjukkan aliran dana dalam jumlah besar dari perusahaan properti milik Bram ke rekening pribadi Kepala Unit. Dito menyerahkan sebuah map cokelat lusuh. "Ini salinan asli aliran dana yang dihapus dari sistem pusat. Jika kamu memegang ini, kamu bukan lagi sekadar sepupu yang ingin tahu. Kamu adalah target."
Baru saja Arini hendak memasukkan dokumen itu ke dalam tas, pintu besi ruang arsip berderit nyaring. Suara langkah sepatu pantofel yang tegas menggema di lantai beton. Di ambang pintu, Kompol Hendra berdiri dengan tatapan dingin, tangannya bersedekap di dada. Di belakangnya, dua petugas berseragam mengapit pintu dengan posisi siaga. Wajah Hendra tidak menunjukkan keterkejutan, hanya amarah yang terkendali.
"Dito," suara Hendra berat dan mematikan. "Ternyata tikus kecil ini masih berani menggali lubang yang sudah kita tutup."