Novel

Chapter 1: Pesan dari Balik Kubur

Arini menerima pesan suara dari sepupunya, Maya, yang mengungkap keberadaan buku besar rahasia di estate keluarga sebelum batas waktu 12 hari deklarasi kematian. Paman Bram datang mengintimidasi Arini di apartemennya, memicu Arini untuk segera menyusup ke estate, di mana ia menyadari dirinya telah diawasi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pesan dari Balik Kubur

Layar ponsel Maya retak seribu, namun suaranya masih terdengar jernih, memotong kesunyian apartemen Arini yang sesak oleh tumpukan maket arsitektur. Arini menahan napas. Ini adalah pesan kelima yang ia terima malam ini, dan yang terakhir sebelum koneksi benar-benar mati.

"Arini, jika kau mendengar ini, jangan percaya pada pengumuman pengadilan. Mereka bukan mencari keberadaanku, mereka hanya menunggu waktu. Dua belas hari lagi, hak waris akan beralih secara otomatis. Mereka sudah menanam semuanya di balik dinding estate... catatan hitam itu, Arini. Semuanya ada di sana. Jangan biarkan Paman Bram—"

Suara Maya terputus, digantikan oleh dengung statis yang tajam. Arini membeku. Dua belas hari. Itu adalah tenggat waktu hukum sebelum deklarasi kematian pewaris disahkan, yang berarti seluruh aset keluarga—termasuk rahasia kotor yang selama ini coba ia hindari—akan jatuh ke tangan Paman Bram. Arini melempar ponsel itu ke meja, tangannya gemetar. Ia telah menghabiskan lima tahun terakhir membangun karier sebagai arsitek independen untuk menjauh dari nama besar keluarganya yang busuk. Namun, rekaman itu bukan sekadar drama keluarga. Itu adalah ancaman eksistensial. Jika Bram menguasai estate, jejak aliran dana haram yang melibatkan keluarga mereka akan terkubur selamanya.

Ketukan di pintu apartemen Arini terdengar ritmis, tiga kali, tegas, dan dingin. Arini tersentak. Di atas meja, ponsel Maya masih menyala. Ia menyambarnya, menyembunyikannya di balik tumpukan sketsa, lalu menarik napas panjang. Ia membuka pintu.

Bram berdiri di sana, mengenakan setelan jas yang tampak terlalu mahal untuk koridor apartemen kelas menengah ini. Matanya yang tajam menyapu ruangan, seolah sedang menghitung setiap jengkal ruang untuk mencari sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

"Arini? Paman tahu kamu di dalam," suara Bram berat, menembus pintu. "Kita perlu bicara tentang Maya. Polisi sudah mulai menanyai keluarga besar. Jangan membuat ini semakin sulit untukmu."

Bram melangkah masuk tanpa diundang, aroma parfum mahalnya yang tajam seketika mendominasi udara pengap. Ia tidak duduk. Ia berjalan menuju jendela, menatap ke bawah ke arah jalanan yang basah. "Orang-orang mulai bergosip tentang hilangnya sepupumu. Mereka bilang dia kabur karena hutang. Kamu tahu sesuatu, bukan?"

Arini menelan ludah, menjaga suaranya tetap datar. "Aku tidak bicara dengan Maya sejak bulan lalu, Paman. Aku sibuk dengan proyekku."

Bram berbalik, senyumnya tidak mencapai mata yang sedingin es. "Tentu. Tapi ingat, Arini, keluarga adalah satu-satunya pelindungmu. Jangan sampai kamu terjebak dalam masalah yang tidak bisa kamu selesaikan sendiri." Bram pergi dengan janji yang terasa seperti ancaman, meninggalkan Arini dalam ketakutan yang nyata.

Tanpa membuang waktu, Arini memacu motornya menuju estate keluarga. Gerbang besi hitam setinggi tiga meter itu tampak angker di bawah lampu jalan yang berkedip. Sisa waktu 12 hari yang diberikan hukum untuk deklarasi kematian Maya terasa berdenyut di pelipisnya, seperti detak jam yang dipercepat. Arini turun dari motor, menyampirkan jaket hitam. Dia tidak datang untuk berkabung; dia datang karena pesan suara Maya yang terdistorsi masih menggema di kepalanya: Jangan percaya siapa pun di dalam, Arini. Buku besar itu... di balik dinding ruang kerja lantai dua.

Estate ini seharusnya menjadi tempat dia dibesarkan, namun kini, setiap sudutnya terasa seperti jebakan. Arini memanjat pagar sisi samping, tempat di mana pagar besi bertemu dengan tembok bata tua yang ditumbuhi tanaman rambat. Saat kakinya menapak di tanah properti, bau tanah basah bercampur aroma parfum mahal yang familiar namun memuakkan menyambutnya. Tiba-tiba, ia melihat siluet seseorang berdiri di balik pilar teras, mengawasi setiap gerakannya. Pesan suara Maya terputus di pikirannya saat Arini menyadari ada bayangan yang mengawasi dari balik pagar estate, memastikan bahwa dia kini menjadi target buruan langsung sebelum dia sempat melangkah lebih jauh ke dalam labirin rahasia itu.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced