Novel

Chapter 2: Harga dari Sebuah Rahasia

Aruna mencoba menyalin data dari buku besar hitam milik ayahnya dengan bantuan Dika, namun sistem keamanan estate mendeteksi intrusi tersebut. Aruna berhasil melarikan diri sebelum tertangkap oleh Bram, tetapi ia menyadari bahwa Bram telah memajukan tenggat waktu pengesahan warisan menjadi 24 jam, mempersempit ruang gerak dan meningkatkan risiko secara drastis.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga dari Sebuah Rahasia

Bau apek kayu cendana dan debu tua menusuk hidung Aruna saat ia meringkuk di balik lemari arsip jati yang menempel di dinding ruang kerja ayahnya. Di luar, hujan badai menghantam kaca jendela estate dengan dentuman yang menyerupai tembakan, menutupi suara langkah kaki yang mendekat di koridor marmer. Aruna menahan napas, jemarinya mencengkeram buku besar bersampul kulit hitam—bukti bahwa hilangnya Citra bukanlah pelarian, melainkan likuidasi terencana.

Pintu ruang kerja terbuka. Bram masuk, langkahnya tenang namun berat. Aruna mengintip melalui celah sempit di antara kayu lemari. Bram tidak menyalakan lampu; ia berjalan menuju meja kerja, suara laci yang ditarik terbuka terdengar nyaring di keheningan ruangan. "Aku tahu kau tidak akan membiarkan ini terkubur begitu saja, Citra," gumam Bram pelan, suaranya dingin dan tanpa emosi.

Aruna gemetar. Begitu ia membuka halaman pertama buku itu, sebuah peringatan digital muncul di layar ponselnya—pesan dari Dika. 'Jangan bawa buku itu keluar dari perimeter estate. Sensor tekanan di bawah sampulnya terhubung langsung ke server keamanan. Jika buku itu berpindah lebih dari sepuluh meter dari brankas, sistem akan melakukan penghapusan data permanen secara otomatis.'

Jantung Aruna berdegup kencang. Ia tidak hanya terjebak dengan bukti pembunuhan saudarinya, ia juga terjebak dengan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa memusnahkan satu-satunya bukti yang ia miliki. Ia butuh bantuan, dan ia butuh sekarang.

Aruna mengetik cepat pada saluran terenkripsi yang ia curi dari catatan ayahnya. "Dika, saya butuh akses untuk menyalin isinya di tempat. Sekarang." Jawaban Dika datang sedetik kemudian, penuh ketakutan yang tersirat dari ketikan yang berantakan. 'Itu sistem enkripsi yang saya buat atas paksaan Bram. Saya tidak bisa memintasnya tanpa kunci induk yang ada di tangan dia. Aruna, tolong, berhenti. Jika dia tahu saya membantu, dia tidak akan hanya memecat saya. Dia menyandera keluarga saya di rumah.'

Aruna tertegun. Keterlibatan Dika bukan karena keserakahan, melainkan karena ia adalah pion yang terpojok. Aruna menatap perhiasan warisan di pergelangan tangannya—satu-satunya aset berharga yang ia miliki. Ia melepas gelang itu dan memotretnya, mengirimkan gambar tersebut ke Dika. 'Ini cukup untuk membayar perlindungan keluargamu. Berikan saya akses remote sekarang, atau kita berdua akan tamat sebelum matahari terbit.'

Keheningan menyiksa selama beberapa detik sebelum sebuah kode akses muncul di ponselnya. Aruna segera menyambungkan kabel data dari ponselnya ke port tersembunyi di sisi buku besar. Bilah progres di layar ponselnya merayap lambat. 10 persen. 20 persen. Namun, tiba-tiba, layar berubah merah. Sebuah notifikasi sistem muncul: ‘Intrusi Terdeteksi. Mengaktifkan Protokol Penghapusan Data Permanen.’

Napas Aruna tercekat. Bram masih berada di ruangan itu, sedang membelakangi lemari tempat Aruna bersembunyi. Aruna menyadari kengerian yang sesungguhnya: sistem ini tidak hanya menghapus data, tapi juga mengirimkan koordinat lokasi Aruna langsung ke perangkat Bram.

Ia harus memilih. Memutus koneksi berarti kehilangan data selamanya, namun tetap berada di sana berarti tertangkap basah. Aruna mencabut kabel dengan kasar, membiarkan data yang tersalin hanya sebagian kecil, dan segera menyelinap keluar melalui pintu rahasia di belakang lemari saat Bram mulai berbalik.

Sesampainya di kamar, Aruna menyadari bahwa langkahnya telah terlambat. Sebuah notifikasi hukum muncul di layar laptopnya. Pengadilan telah memproses surat kematian Citra lebih cepat dari jadwal semula—waktu pengesahan warisan yang tadinya 72 jam kini dipangkas drastis menjadi 24 jam. Bram tahu ia telah bergerak. Aruna menatap kalender dengan sisa waktu yang menipis, menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki ruang untuk kesalahan. Setiap detiknya kini adalah ancaman nyata.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced