Dinding yang Berbisik
Hujan menghantam atap seng estate keluarga dengan irama brutal, seolah ingin merobohkan struktur tua ini sebelum fajar. Aruna melirik jam tangan analognya: 02.14. Tersisa tepat tujuh puluh dua jam sebelum tanda tangan hukum Bram meresmikan pengalihan seluruh aset keluarga. Di atas meja, surat pernyataan 'kepergian sukarela' saudarinya, Citra, tergeletak—sebuah kebohongan administratif yang akan menjadi kebenaran mutlak jika Aruna gagal menemukan bukti sebaliknya dalam tiga hari ke depan.
Aruna tidak percaya pada kepergian sukarela. Ia percaya pada retakan di dinding ruang kerja ayahnya yang tidak tercatat dalam denah arsitektur resmi. Dengan jemari yang gemetar karena dingin dan adrenalin, ia meraba panel kayu mahoni di balik meja besar. Bunyi klik mekanis yang tajam membelah kesunyian saat ia menekan tuas tersembunyi di balik bingkai foto keluarga. Panel dinding itu bergeser, mengeluarkan aroma apek kertas tua dan bau logam yang tajam.
Di balik rongga dinding tersebut, terselip sebuah buku besar bersampul kulit hitam. Saat Aruna menariknya keluar, ia menyadari buku itu tidak berdebu. Seseorang baru saja menyimpannya di sana. Ia menyalakan senter kecil, menyorot debu yang menari di udara pengap. Buku itu terkunci dengan sistem enkripsi mekanis yang rumit. Aruna memutar gerigi kunci tersebut dengan napas tertahan. Bunyi logam yang beradu terdengar terlalu nyaring, nyaris menutupi gemuruh badai di luar. Saat pengaitnya lepas, buku itu terbuka.
Napasnya tercekat. Ini bukan buku catatan keuangan biasa. Ini adalah ledger hitam—catatan sistematis tentang 'penghapusan' aset manusia yang dikelola keluarga besarnya. Lembar demi lembar berisi daftar nama orang-orang yang menghilang dalam dua dekade terakhir. Di halaman terakhir, matanya terpaku pada satu nama yang ditulis dengan tinta merah tajam: Citra. Nama saudarinya tercatat dalam kolom 'Depresiasi Aset' dengan tanggal eksekusi yang bertepatan dengan hilangnya gadis itu. Bukan kecelakaan. Itu adalah likuidasi. Di antara catatan tersebut, terselip sebuah dokumen legal: surat kematian palsu yang ditandatangani oleh Bram.
Aruna baru saja ingin memotret halaman tersebut saat suara ketukan keras menggema di pintu kayu jati ruang kerja. Ketukan itu tidak sopan, berwibawa, dan absolut.
"Aruna? Kamu di dalam?" Suara Bram terdengar berat dari balik pintu, disusul oleh derap langkah kaki yang teratur. "Pengacara keluarga sudah tiba. Kita tidak punya waktu untuk mengenang masa lalu. Proses pengesahan warisan harus diselesaikan sebelum hujan reda, atau semuanya akan menjadi sengketa yang tak berujung."
Aruna membeku. Ia menyembunyikan buku besar itu di balik jaketnya tepat saat gagang pintu mulai berputar. Bram berdiri di ambang pintu, matanya yang dingin menelusuri ruangan, mencari sesuatu yang tidak seharusnya ada. Aruna menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam perangkap yang memperpendek sisa waktunya. Setiap detak jam kini bukan lagi sekadar penanda waktu, melainkan hitung mundur menuju penghapusannya sendiri.
Saat Bram melangkah masuk, ponsel Aruna bergetar di saku. Sebuah pesan singkat dari Dika muncul di layar: *"Jangan bawa buku itu keluar dari estate. Sistem enkripsinya akan menghapus data permanen jika sensor gerak mendeteksi perpindahan aset. Kamu terjebak di sana."