Detik yang Menyempit
Lampu neon motel di pinggiran Jakarta berkedip ritmis, menyiramkan cahaya pucat ke wajah Dika yang basah oleh keringat dingin. Di luar, hujan badai menghantam atap seng dengan suara yang menyesakkan, seolah langit sedang berusaha menenggelamkan jejak Aruna. Namun, suara itu tidak mampu meredam detak jam di kepala Aruna.
"Data ini terkunci, Aruna. Bram memutus akses server internal segera setelah kita keluar dari estate," suara Dika bergetar. Tangannya menari di atas tuts laptop yang retak, mencoba menembus lapisan enkripsi yang ia rancang sendiri di bawah paksaan paman Aruna. "Sistem keamanan itu bukan sekadar alarm. Begitu aku memicu intrusi, protokol penghapusan otomatis aktif. Kita hanya punya fragmen yang tersalin."
Aruna menatap layar itu tajam. Data yang berhasil mereka curi hanyalah daftar transaksi anonim dan koordinat properti yang tampak seperti teka-teki. Ia tidak bisa membawa buku besar itu keluar—risikonya adalah penghapusan total—namun tetap di sana berarti membiarkan Citra lenyap selamanya. Ponsel Aruna bergetar. Sebuah notifikasi dari pengacara keluarga muncul: Tenggat waktu pengesahan warisan dimajukan menjadi 24 jam.
Aruna merasakan tenggorokannya tercekat. "Buka koordinat itu sekarang," perintahnya dingin. "Jika Bram menyembunyikan Citra, dia tidak akan meletakkannya jauh dari jangkauannya sendiri."
"Kau tidak mengerti! Sistem ini mengenali sidik jari digital pribadiku. Bram sudah tahu ini aku. Jika kita terus mencoba membongkar ini, dia akan menghabisi keluargaku," Dika memutar kursi, matanya merah karena kurang tidur.
Aruna mendekat, mencengkeram bahu pria itu hingga ia meringis. "Lalu apa pilihan kita? Menunggu sampai dia menyita segalanya? Besok malam, dia akan menjadi pemilik sah atas segalanya, termasuk nyawa Citra." Ia menekan ponselnya ke dada Dika, memperlihatkan bukti pencucian uang yang pernah Dika bantu manipulasi. "Jika kau tidak memecahkan kodenya, aku akan mengirimkan catatan ini ke kejaksaan. Kau akan busuk di penjara sebelum Bram sempat menyentuh keluargamu. Pilih mana?"
Dika menelan ludah, lalu kembali menghadap layar. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, satu titik koordinat muncul: sebuah gudang tua di distrik pelabuhan.
Aruna bergegas menuju lokasi tersebut di bawah guyuran hujan lebat. Setiap detik yang berlalu adalah detik yang terbuang. Saat ia tiba di gudang yang beraroma amis dan karat itu, ia merasa ada yang salah. Tempat itu terlalu sepi. Ia melangkah masuk, sepatunya menginjak genangan air yang tercampur oli. Senter ponselnya menyapu ruangan kosong—tidak ada rantai, tidak ada bekas ikatan, bahkan debu di lantai tampak sengaja dibersihkan.
Di tengah ruangan, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti bernapas: sebuah bekas ban mobil yang masih segar, kontras dengan lantai yang seharusnya sudah lama ditinggalkan. Aruna mendekati meja kayu lapuk dan menemukan selembar kertas dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal—rapi, tegas, dan dingin. Tulisan Bram.
*"Waktu adalah kemewahan yang tidak kau miliki, Aruna. 24 jam tersisa."
Jantung Aruna seolah berhenti. Koordinat ini bukan tempat penyekapan, melainkan umpan untuk memancingnya keluar. Sebelum ia sempat berbalik, lampu gudang tiba-tiba menyala terang, membutakan matanya. Ia menyadari sepenuhnya: ia bukan lagi pemburu, melainkan mangsa yang baru saja masuk ke dalam perangkap yang sudah dipersiapkan dengan presisi mematikan.