Perang Dingin di Ruang Makan
Pintu kayu jati ruang rapat restoran Wiranata terdorong terbuka dengan dentuman keras, memutus diskusi gelisah yang sejak tadi menggantung di udara. Arga Pratama melangkah masuk tanpa mengetuk. Di tangannya, sebuah map cokelat tebal dengan stempel penyitaan polisi yang masih basah menjadi pusat perhatian. Di belakangnya, dua staf dapur berhenti di ambang pintu, wajah mereka pucat pasi—mereka bukan lagi melihat menantu yang dianggap aib, melainkan sosok yang memegang nasib gedung ini.
Hendra Wiranata menegang di kursinya. Laporan kas harian yang ia coba rapikan tampak berantakan di hadapannya. Kepercayaan diri palsu yang ia bangun sejak siang tadi—bahwa restoran ini akan segera terjual ke Tuan Rafi Kencana—runtuh seketika saat tatapannya jatuh pada map di tangan Arga.
"Rapat darurat," ujar Arga datar. Suaranya rendah, namun tajam seperti pisau bedah. "Mulai detik ini, semua keputusan operasional berhenti di sini."
Hendra tertawa pendek, sebuah upaya kikuk untuk menutupi getaran di tangannya. "Kamu datang cuma untuk mengulang mimpi? Restoran ini dijalankan keluarga Wiranata sejak sebelum kamu tahu cara memegang sendok."
Arga tidak membalas dengan kata-kata. Ia meletakkan map itu di tengah meja, lalu menekan sisi atasnya dengan dua jari. Lambang kepolisian yang menempel pada surat di dalamnya tampak mencolok. Staf yang berdiri di dekat pintu langsung menunduk; mereka tahu stempel itu bukan gertak sambal, melainkan tindakan hukum resmi.
"Ini surat perintah penyitaan dokumen operasional," suara Arga memecah keheningan. "Termasuk audit forensik atas kontrak ilegal, aliran dana yang tidak dibukukan, dan bukti sabotase bahan makanan yang hampir membunuh tamu VIP kita."
Maya Wiranata, yang duduk di ujung meja, mencengkeram ponselnya hingga buku jarinya memutih. "Kamu sengaja mempermalukan keluarga sendiri di depan staf?"
Arga menoleh, tatapannya dingin dan menilainya secara klinis. "Keluarga?" Satu kata itu membuat Maya terdiam. Arga melanjutkan, "Kepala keluarga tidak menandatangani nota pasok palsu. Kepala keluarga tidak menyembunyikan pembukuan dari pajak. Dan kepala keluarga tidak membiarkan dapur memakai bahan yang mengandung protein kacang untuk pelanggan dengan riwayat alergi berat."
Arga membuka map dan mengeluarkan salinan audit yang sudah diberi tanda stabilo. Ia menyebutkan angka-angka dengan presisi yang mematikan: transfer ke rekening cangkang, biaya pemasok fiktif, dan kontrak luar yang ditandatangani Hendra dengan perusahaan milik Rafi Kencana. Setiap lembar yang ia buka seperti mencabut fondasi kursi yang diduduki Hendra.
"Dua belas juta untuk bahan yang tak pernah masuk gudang. Delapan kali pengiriman palsu. Dan di sini—" Arga mengetuk satu halaman, "—laporan retur yang dipalsukan untuk menutupi pembelian kacang yang dilarang masuk ke dapur."
Hendra menatap kertas itu, lalu menatap Maya. Ia tahu bukti ini tak terbantahkan. "Itu bisa dijelaskan. Ada salah hitung. Orang dapur ceroboh."
"Polisi sudah menyita dokumen asli," potong Arga. "Saksi kunci sudah memberi kesaksian resmi. Kamu tidak sedang dituduh ceroboh, Paman. Kamu sedang dipetakan sebagai tersangka."
Maya mencoba melawan, "Kalau kamu buka mulut soal aku, kamu juga jatuh."
Arga mengeluarkan satu lembar terakhir, meletakkannya di depan Maya. Itu adalah nota pasok dengan inisial yang hanya digunakan Maya saat mengesahkan pesanan kilat. "Aku tidak perlu buka mulut. Kamu sudah menulis namamu sendiri di atas bukti kejahatan ini."
Keheningan menyelimuti ruangan. Arga menatap sekeliling. "Mulai malam ini, struktur kerja berubah. Semua transaksi bahan di bawah pengawasan saya. Semua pesanan luar harus lewat verifikasi ganda. Tidak ada pemasok yang masuk tanpa dokumen asli. Siapa pun yang melanggar, keluar."
"Kamu pikir restoran ini bisa jalan dengan aturan rumah sakit?" tantang Hendra.
"Kalau tidak bisa jalan dengan aturan, berarti selama ini restoran ini hidup dari kebocoran," jawab Arga. Ia mengeluarkan kunci brankas tua dari saku jasnya. Logam itu memantulkan cahaya lampu gantung. Kunci itu adalah simbol bahwa semua yang disembunyikan di balik etalase warisan kini berada di tangannya.
Arga berjalan menuju kantor pemilik. Di sana, ia memasukkan kombinasi angka brankas dengan tenang. Klik. Pintu logam terbuka, memperlihatkan sertifikat tanah dan buku kas asli yang selama ini disembunyikan Hendra.
Arga mengambil buku kas paling atas. "Restoran ini bukan milikmu, Hendra. Ini milik mendiang ayah saya. Pengalihan yang kalian pakai untuk menguasainya selama ini tidak pernah sah secara hukum. Kalian hanya memanfaatkan kekacauan setelah beliau meninggal."
Setelah memastikan polisi menerima salinan dokumen tersebut, Arga kembali ke kantor. Ponselnya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar.
"Arga Pratama," suara di seberang terdengar tenang dan penuh otoritas. "Saya sudah melihat apa yang Anda lakukan malam ini. Restoran hanyalah pintu masuk. Kalau Anda mau, saya bisa memberi Anda kendali yang jauh lebih besar daripada sekadar rumah makan ini."
Arga menatap brankas yang kini terkunci rapat di bawah kendalinya. Di balik suara di telepon, ada dunia yang lebih besar, lebih berbahaya, dan lebih menjanjikan daripada sekadar memenangkan perang di meja makan keluarga.