Novel

Chapter 9: Tekanan dari Pihak Atas

Arga mengonsolidasikan kekuasaannya di restoran Wiranata dan mematahkan upaya suap Tuan Rafi Kencana. Ia menghadapi konglomerat di balik sabotase tersebut, mengungkap keterkaitan klinik mereka dengan wabah medis kota, dan menerima ancaman langsung yang menandakan eskalasi konflik ke level yang lebih berbahaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tekanan dari Pihak Atas

Ruang belakang restoran Wiranata masih menyisakan aroma tajam minyak wijen dan pembersih lantai kimia. Arga Pratama duduk di kursi direktur yang baru ia duduki dua jam lalu, menatap tumpukan berkas audit yang ia sita dari brankas besi di sudut ruangan. Di bawah lampu neon yang berdengung, angka-angka itu bukan sekadar data; itu adalah jejak pengkhianatan Hendra dan Maya.

Ponselnya bergetar di atas map sitaan polisi. Sebuah nomor tanpa nama.

Belum sempat ia menggeser layar, pintu terbuka kasar. Maya Wiranata melangkah masuk, wajahnya yang biasanya tenang kini terdistorsi oleh amarah yang tertahan. "Kamu pikir dengan memegang buku kas itu kamu sudah menang?" desisnya. "Kamu cuma menantu yang menumpang hidup. Restoran ini akan hancur jika kamu terus memaksakan audit yang tidak perlu."

Arga tidak mendongak. Ia menandai satu transaksi janggal yang mengarah ke rekening fiktif milik Rafi Kencana. "Audit ini bukan untuk menang, Maya. Ini untuk memastikan kalian tidak bisa lagi menjual aset ayahku ke tangan sindikat kriminal." Ia menatap sepupunya dengan dingin. "Polisi sudah memegang salinan ini. Pilihan kalian sekarang hanya dua: bekerja sama untuk membongkar siapa yang ada di atas Rafi, atau menunggu jemputan di depan pintu restoran."

Maya terdiam, napasnya memburu. Ia menyadari otoritasnya telah luruh. Arga bukan lagi pria yang bisa ia hina di meja makan.

*

Dua jam kemudian, Arga berdiri di lobi hotel yang steril. Di ruang pertemuan lantai dua belas, Tuan Rafi Kencana duduk dengan wajah pucat, sementara seorang pria berambut perak—pemilik konglomerat yang sebenarnya—menatap Arga dengan rasa ingin tahu yang dingin.

"Pak Arga," pria itu memulai, suaranya halus namun menekan. "Tawaran kami untuk mengambil alih lahan itu naik tiga kali lipat. Anda bukan tipe orang yang cocok mengurus warisan tua. Saya bisa beri Anda posisi di jaringan kami yang jauh lebih luas."

Arga meletakkan map cokelat di meja kaca. Ia tidak duduk. "Lahan ini bukan untuk dijual. Dan saya tahu, Rafi hanyalah pion yang kalian pakai untuk menutupi jejak sabotase medis di restoran saya."

Pria itu terdiam. Arga membuka map tersebut, memaparkan hasil lab yang disahkan oleh Dr. Nadia Siregar. "Protein kacang yang disengaja dalam distribusi bahan, klinik afiliasi kalian yang menangani kasus keracunan dengan prosedur yang salah... saya tidak datang untuk bernegosiasi. Saya datang untuk menunjukkan bukti bahwa kalian sedang diawasi oleh otoritas yang lebih tinggi dari uang kalian."

Keheningan menyelimuti ruangan. Pria itu memberi isyarat kepada bawahannya. "Tunda penandatanganan," perintahnya singkat. Arga baru saja membalikkan papan catur mereka.

*

Keesokan paginya, kantor operasional restoran menjadi medan tempur. Hendra dan Maya berdiri di depan meja, mencoba menyangkal bukti-bukti yang Arga gelar. Dr. Nadia Siregar muncul di ambang pintu, membawa dokumen tambahan yang mengonfirmasi bahwa sumber wabah medis di kota ini berasal dari rantai pasok yang sama dengan yang digunakan konglomerat tersebut.

Saat malam kembali turun, Arga berada sendirian di kantor yang sunyi. Telepon bergetar lagi. Nomor yang sama.

"Anda cukup merepotkan, Pak Arga," suara di seberang kini terdengar tajam. "Rafi hanyalah pion kecil. Tapi Anda mulai mengganggu gambaran yang lebih besar. Restoran itu berdiri di atas tanah yang menyimpan rahasia sejarah kota ini. Jika Anda menolak tawaran kami, Anda tidak akan hanya kehilangan restoran, tapi juga karier medis Anda."

Arga memegang kunci brankas dengan erat. "Klinik kalian bukan sekadar klinik, bukan? Itu pusat dari semua wabah medis yang kalian rekayasa untuk menguasai aset properti di kota ini."

Ada jeda panjang. Suara di seberang tertawa pelan. "Anda tahu terlalu banyak. Dan itu adalah kesalahan fatal."

Arga menutup telepon. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced