Novel

Chapter 7: Kartu As di Balik Berkas

Arga mengamankan kesaksian saksi kunci dan bukti sabotase, lalu menggunakan otoritas polisi untuk membatalkan paksa transaksi Tuan Rafi Kencana, sekaligus mengambil alih kendali administratif restoran.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kartu As di Balik Berkas

Lampu neon ruang observasi UGD berdengung rendah, memantulkan cahaya dingin di atas wajah pucat saksi kunci yang baru saja melewati masa kritis. Arga Pratama berdiri di sisi tempat tidur, jemarinya yang terampil baru saja melepaskan monitor detak jantung yang kini menunjukkan ritme stabil. Di depannya, seorang detektif kepolisian dengan seragam yang kusut tampak menunggu dengan tidak sabar.

"Dia sudah sadar, tapi ingatannya tentang malam itu masih terfragmentasi," ujar Arga, suaranya datar dan tenang. Ia menyerahkan sebuah map tipis berisi catatan medis yang ia susun sendiri. "Namun, pemindaian toksikologi menunjukkan sesuatu yang lebih berbahaya daripada sekadar keracunan makanan. Ada sisa senyawa organofosfat dalam darahnya. Ini adalah sabotase sistematis, bukan kelalaian dapur biasa."

Saksi itu—seorang pria paruh baya yang gemetar—menatap Arga dengan mata yang menyiratkan ketakutan mendalam. "Mereka bilang... jika aku bicara, keluarga Wiranata akan habis. Bukan hanya restoran itu, tapi nyawa kami semua," bisiknya parau.

Arga tidak membuang waktu dengan empati yang sia-sia. Ia mendekat, menatap lurus ke mata pria itu. "Keluarga Wiranata saat ini sedang dalam proses likuidasi paksa oleh Tuan Rafi Kencana. Jika kau diam, kau hanyalah pion yang akan dibuang setelah mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Namun, jika kau bicara, kau adalah saksi utama yang dilindungi negara. Pilihannya sederhana: mati sebagai rahasia mereka, atau hidup sebagai saksi yang memegang kendali." Pria itu menelan ludah, lalu perlahan mengangguk, menyebutkan nama sindikat yang selama ini membayangi operasional restoran. Arga segera merekam pengakuan itu di ponselnya. Statusnya bukan lagi sekadar menantu gagal; ia adalah pemegang kunci keadilan.

*

Bau minyak wijen dan kayu manis yang biasanya menenangkan di Restoran Wiranata kini terasa mencekik. Arga melangkah masuk, sepatunya beradu keras dengan lantai marmer yang mulai kusam. Di balik meja kasir, Hendra dan Maya tidak sedang melayani pelanggan; mereka sedang sibuk memilah tumpukan dokumen pasokan bahan baku, wajah mereka pucat pasi di bawah cahaya neon yang berkedip.

"Berhenti," suara Arga memecah kesunyian dapur. Dingin, datar, namun mutlak. Maya tersentak, hampir menjatuhkan bundel nota yang ia pegang. Hendra berbalik dengan rahang mengeras, matanya menyipit penuh kebencian. "Berani-beraninya kau masuk ke sini, Arga? Ini area privat keluarga. Kau sudah bukan siapa-siapa di sini."

"Aku datang bukan sebagai menantu yang kalian remehkan," Arga mendekat, langkahnya tenang namun menekan, "tapi sebagai saksi ahli yang diminta polisi untuk mengamankan bukti sabotase yang kalian coba lenyapkan." Di belakang Arga, dua petugas polisi melangkah masuk. Kehadiran seragam itu mengubah suhu ruangan seketika. Hendra mencoba berdiri tegak, meski tangannya gemetar saat menyembunyikan dokumen di bawah meja. Arga mengeluarkan tablet dari tasnya, menunjukkan hasil tes laboratorium dan pengakuan saksi kunci. "Saksi kunci sudah bicara, Paman. Dan dia menyebutkan keterlibatan orang dalam. Polisi sudah punya cukup bukti untuk menyegel tempat ini sebagai TKP. Hendra, Maya, permainan kalian berakhir di sini."

*

Lobi Restoran Wiranata kini terasa seperti ruang eksekusi. Tuan Rafi Kencana melangkah masuk dengan setelan jas mahal, diikuti dua pengacara yang tampak siap merobek kontrak kepemilikan restoran itu. Wajah Rafi memerah karena ambisi. "Hendra, jangan buang waktu lagi. Tandatangani dokumen pengalihan aset ini sebelum aku kehilangan kesabaran!"

Ia melirik Arga dengan tatapan menghina. "Kau lagi? Menantu gagal yang bahkan tidak diizinkan masuk ke ruang operasi keluarga?" Rafi tertawa sinis. "Pengacaraku sudah siap. Tidak ada yang bisa menghentikan aku mengambil alih tempat ini."

Arga hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang justru membuat nyali Rafi menciut. Tiba-tiba, pintu lobi terbuka lebar. Bukan tamu, melainkan detektif yang tadi menemui Arga di UGD. Namun, alih-alih mendekati Arga untuk menangkapnya, sang detektif justru memberi hormat singkat kepada Arga sebelum menatap Rafi dengan tajam.

"Tuan Rafi Kencana, kami memerlukan keterangan ahli dari Dokter Arga Pratama mengenai kasus keracunan massal yang melibatkan aset yang sedang Anda beli ini," ujar detektif tersebut dengan suara lantang. "Dan berdasarkan bukti baru yang diberikan Dokter Arga, kami harus memeriksa seluruh catatan keuangan perusahaan Anda."

Rafi ternganga, wajahnya berubah pucat pasi. Arga melangkah melewati Rafi, mengambil kunci brankas restoran dari meja yang ditinggalkan Hendra dengan tangan gemetar. "Kontrak ini batal, Tuan Rafi. Dan sekarang, mari kita bicara tentang utang ilegal Anda di kantor polisi." Arga berjalan keluar, meninggalkan keluarga Wiranata yang terpaku melihat statusnya meroket, sementara ia bersiap untuk mengambil alih kendali administratif penuh atas masa depan restoran.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced