Intervensi di Ruang Operasi
Bau minyak jelantah di dapur Wiranata belum sepenuhnya hilang saat ponsel Maya bergetar di atas meja marmer. Suara di seberang sana memutus ketegangan yang sempat menggantung.
"Pasien saksi kunci mengalami kejang hebat. Tekanan darah drop. Jika dalam sepuluh menit tidak ada tindakan bedah darurat, dia tidak akan bertahan," suara Dr. Nadia Siregar terdengar dingin dan tanpa basa-basi.
Hendra Wiranata, yang sedari tadi mondar-mandir memikirkan cara mengamankan kontrak penjualan restoran, berhenti seketika. Wajahnya memucat. "Jangan sampai Tuan Rafi tahu. Jangan sampai polisi masuk ke UGD sekarang. Tutupi!"
Maya menatap Arga. Pria itu berdiri tenang, memegang map hasil lab yang baru saja membongkar sabotase internal restoran. "Kamu dengar?" desis Maya, suaranya bergetar antara panik dan benci. "Kalau saksi itu mati, semua kesepakatan malam ini batal. Kita akan hancur."
Arga tidak membalas tatapan Maya. Ia menatap layar ponsel yang masih tersambung dengan Nadia. "Kejang setelah fase stabil. Ada riwayat anafilaksis protein kacang. Jika kalian memberikan anestesi standar tanpa koreksi elektrolit, aritmia akan membunuhnya dalam hitungan menit," ucap Arga datar.
Nadia terdiam di ujung sana. "Kamu yakin?"
"Data lab tidak berbohong. Kalian butuh presisi, bukan prosedur birokrasi," jawab Arga. Ia melangkah menuju pintu keluar.
"Jangan berani-berani ikut campur!" bentak Hendra. "Itu pasien hukum, bukan urusan menantu gagal!"
Arga berhenti, menoleh sedikit. "Jika dia mati, restoran ini bukan hanya gagal dijual, tapi akan menjadi bukti kriminalitas keluarga kalian. Aku satu-satunya yang bisa memastikan dia tetap hidup untuk bicara."
Maya menelan ludah. Ia tahu Arga benar. Tanpa kata, Maya memberi isyarat pada Hendra untuk diam. Arga melangkah keluar, diikuti tatapan benci namun putus asa dari keluarga Wiranata.
*
UGD terasa seperti ruang eksekusi. Lampu neon yang terlalu terang menyinari brankar tempat saksi kunci terbaring. Dr. Satria, dokter bedah jaga, menghalangi jalan Arga di depan ruang operasi. "Dia bukan bagian dari tim. Saya tidak akan membiarkan orang luar mengacaukan prosedur saya."
"Prosedur Anda akan membunuhnya," potong Arga. Ia menyodorkan map hasil lab. "Lihat catatan alergi dan pola elektrolitnya. Jika Anda memotong di sana tanpa menutup jalur perdarahan tersembunyi, dia akan syok."
Satria ragu, namun Nadia segera mengambil alih. "Saya yang bertanggung jawab atas keputusan klinis ini. Arga masuk sebagai pengarah prosedur. Jika ada masalah, catat nama saya dalam laporan."
Di balik kaca observasi, Hendra dan Maya menonton dengan napas tertahan. Arga masuk ke ruang operasi, mencuci tangan dengan gerakan efisien, dan mengenakan sarung steril. Tidak ada keraguan. Saat pisau bedah menyentuh jaringan, Arga memberikan instruksi dengan nada rendah namun mutlak.
"Geser dua milimeter ke kiri. Itu pembuluh darah utama," perintah Arga. Satria yang tadinya meremehkan, kini patuh tanpa sadar. Kecepatan tangan Arga dan ketepatan diagnosanya membuat ruang operasi bekerja dalam ritme yang tidak lazim.
Sepuluh menit kemudian, monitor menunjukkan ritme jantung yang stabil. Arga melepaskan sarung tangan. "Observasi ketat. Jangan naikkan cairan terlalu cepat."
Saat Arga keluar dari ruang operasi, ia mendapati saksi kunci telah sadar. Pria itu mencengkeram lengan jas Arga dengan sisa tenaga. "Bukan mereka... ada orang di atas Rafi. Mereka menggunakan restoran ini untuk jaringan yang lebih besar..."
Kalimat itu terputus oleh batuk, namun cukup untuk membuat Hendra dan Maya di balik kaca membeku. Arga menatap mereka dengan dingin. Di ujung koridor, dua polisi muncul. Mereka tidak datang untuk menangkap Arga, melainkan berjalan lurus ke arahnya.
"Arga Pratama?" tanya salah satu polisi. "Kami butuh bantuan profesional Anda untuk membaca bukti medis dan keterangan saksi ini. Anda satu-satunya yang memahami alur sabotase ini."
Arga menatap polisi itu, lalu melirik Hendra dan Maya yang kini tampak seperti orang yang baru saja kehilangan pijakan. Malam ini bukan lagi tentang menyelamatkan restoran, melainkan tentang membongkar jaringan yang jauh lebih berbahaya.