Sandiwara di Bawah Sorot Kamera
Cermin di suite hotel itu memantulkan sosok yang hampir tak dikenali Arini. Gaun sutra midnight blue yang membalut tubuhnya bukan sekadar pakaian; itu adalah perisai. Di balik kain yang dingin itu, ia menyembunyikan luka pengkhianatan Dito yang masih terasa segar—sebuah lubang di dada yang perlahan ia tutup dengan ambisi.
Ketukan pintu terdengar presisi, memutus lamunannya. Bramantyo masuk tanpa menunggu jawaban, auranya memenuhi ruangan dengan ketegangan yang menuntut kepatuhan. Ia tidak membuang waktu dengan basa-basi atau tatapan kagum yang klise. Matanya menyapu penampilan Arini dengan kalkulasi seorang pebisnis yang sedang memeriksa aset berharga.
"Waktu kita sepuluh menit sebelum wartawan memenuhi lobi," ujar Bramantyo dingin. Ia meletakkan tablet di atas meja rias. "Ini akses hukum penuh atas perlindungan aset yang tersisa di rekening pribadimu. Begitu kita melangkah keluar, Dito tidak akan bisa menyentuh satu sen pun dari sisa warisan itu tanpa berhadapan langsung dengan tim hukumku. Tapi ingat, Arini, ini bukan amal. Aku tidak sedang menyelamatkan seorang wanita, aku sedang mengamankan posisi dalam permainan yang kau mulai."
Arini menerima tablet itu, jemarinya sedikit gemetar bukan karena takut, melainkan karena besarnya taruhan yang kini ia pegang. Ini bukan pertunangan; ini adalah deklarasi perang. "Aku mengerti, Bram. Aku bukan lagi wanita yang menunggu belas kasihan Dito," balas Arini. Ia menatap bayangannya sekali lagi, membuang sisa keraguan yang sempat tertinggal di ruang pengantin itu.
Lobi Hotel Mulia malam ini adalah medan perang yang dibungkus aroma parfum mahal dan kilatan lampu kamera. Saat mereka melangkah keluar dari lift, kerumunan wartawan yang tadinya bising mendadak terpecah seperti air yang dibelah kapal pesiar. Arini tahu taruhannya: jika ia goyah sedikit saja, rumor tentang 'istri yang dicampakkan' akan menjadi narasi permanen.
Lalu, matanya menangkap sosok Dito. Pria itu berdiri di dekat meja registrasi, tangan kirinya melingkar di pinggang wanita lain. Saat Dito melihat mereka, seringai angkuhnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan bingung yang cepat berubah menjadi amarah.
"Lihat siapa yang datang," suara Dito membelah kesunyian lobi, cukup keras untuk menarik perhatian kamera. "Arini, aku tidak menyangka kau punya keberanian untuk muncul setelah skandal keuangan yang kau buat sendiri. Atau kau ke sini untuk mengemis agar aku mengembalikan sisa asetmu?"
Kilatan lampu kamera menyambar, menangkap momen yang dirancang Dito untuk menghancurkan martabat Arini di depan publik. Arini merasakan otot lengannya menegang. Sebelum ia sempat membuka mulut untuk membalas, Bramantyo sudah bergerak. Ia tidak membalas provokasi Dito dengan kata-kata. Sebaliknya, ia meraih tangan Arini dan menggenggamnya dengan erat—genggaman yang bukan sekadar formalitas, melainkan pernyataan kepemilikan yang dominan.
"Harga yang saya tawarkan adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau pahami, Dito," suara Bramantyo rendah, namun cukup tajam untuk memotong keriuhan. "Dan mengenai kekacauan, kurasa kau yang harus mulai khawatir tentang apa yang akan ditemukan auditor setelah malam ini."
Di dalam ballroom, bisik-bisik para sosialita Jakarta menyebar lebih cepat daripada api. Mereka menatap Arini bukan lagi sebagai pengantin yang ditinggalkan, melainkan sebagai teka-teki berjalan di samping pria yang paling disegani di kota ini. Bramantyo tidak melepaskan genggamannya. Telapak tangannya yang hangat menempel di pinggang Arini, sebuah gestur posesif yang dirancang dengan presisi untuk membungkam spekulasi.
Arini menyadari agenda tersembunyi Bramantyo: pria itu menggunakan dirinya sebagai umpan. Bramantyo sengaja membiarkan Dito melihat kemesraan palsu mereka, memancing pria itu agar melakukan kesalahan di depan kamera. Saat Dito mencoba mendekat sekali lagi untuk mengintimidasi, Bramantyo menarik Arini lebih dekat, membuat Dito terpaksa berhenti di tengah langkahnya karena terhalang oleh pengawal dan sorot kamera yang kini memuja pasangan baru tersebut.
Arini menatap Dito yang membeku karena amarah. Di balik senyum tenang yang ia paksakan, Arini meraba kunci brankas di dalam tas kecilnya. Ia tahu, di dalam brankas keluarga Wijaya itu, terdapat data pajak yang akan mengakhiri karier Dito selamanya. Malam ini, ia bukan lagi bidak. Ia adalah pemegang kunci yang akan memastikan Dito tidak pernah bisa bangkit lagi.