Sisa Dingin di Ruang Pengantin
Gaun pengantin sutra itu terasa seperti gips yang membekukan tubuh Arini. Di dalam ruang pengantin hotel bintang lima yang aromanya didominasi wangi melati dan kepalsuan, ia tidak sedang menanti suaminya untuk perayaan ulang tahun pernikahan. Ia sedang menatap layar laptop yang menampilkan detail transfer aset ilegal: rekening perusahaan atas namanya telah dikuras habis oleh Dito.
Pintu terbuka tanpa ketukan sopan. Dito masuk, penampilannya sempurna dengan setelan jas bespoke, namun matanya menunjukkan kelelahan seorang pria yang lelah berpura-pura.
"Media sudah menunggu di bawah, Arini. Jangan buat adegan," suara Dito datar, seolah ia sedang mendiskusikan daftar menu katering, bukan kehancuran hidup istrinya sendiri. "Tanda tangani surat pelepasan aset ini, dan aku akan membiarkanmu tetap memiliki apartemen di Senopati itu. Itu kesepakatan yang adil untuk wanita yang tidak lagi memiliki posisi di perusahaan."
Arini tidak menangis. Air mata adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli hari ini. Ia menatap Dito, mengamati bagaimana pria yang pernah ia cintai itu kini hanya tampak seperti predator kecil yang ketakutan akan bayangannya sendiri.
"Kamu tidak hanya mencuri uangku, Dito. Kamu mencuri masa depanku," jawab Arini, suaranya tenang, tajam seperti kaca pecah. "Tapi kamu lupa satu hal. Kamu butuh reputasi keluarga besarku untuk merger bulan depan. Tanpa aku di sampingmu sebagai istri yang sah, investor akan mencium bau busuk dari kegagalanmu sendiri."
Dito tertawa sinis, langkahnya mendekat, namun Arini tidak mundur. "Aku sudah punya penggantimu, Arini. Seseorang yang jauh lebih kooperatif. Kau sudah habis." Dito berbalik, meninggalkan Arini sendirian tepat saat suara bisik-bisik media mulai terdengar di luar pintu, seolah serigala yang mencium bau darah.
Namun, pintu itu tidak terbuka untuk media. Seorang pria masuk dengan langkah tenang yang mematikan. Bramantyo. Musuh bebuyutan Dito yang selalu berdiri di bayang-bayang, kini berdiri tepat di depan Arini.
"Dito sudah berada di lobi, memamerkan kemenangan kecilnya setelah mentransfer aset perusahaanmu," suara berat Bramantyo memecah keheningan. Ia bersandar di ambang pintu, kemejanya yang kaku tampak kontras dengan dekorasi pernikahan yang serba putih. "Jika kau keluar sekarang tanpa pendamping, kau hanya akan menjadi bahan tertawaan media sebagai janda yang kehilangan segalanya."
Arini membalikkan tubuh, menatap pria yang selama ini hanya ia kenal sebagai rival bisnis suaminya. "Kenapa kau? Kau bisa saja membiarkan reputasiku hancur dan mengambil alih pangsa pasar Dito dengan jauh lebih mudah."
Bramantyo melangkah mendekat. Ia tidak mendekat untuk merayu, melainkan untuk menegaskan dominasi ruang. Ia berhenti tepat di samping Arini, menatap pantulan mereka di cermin besar. "Aku tidak butuh pasar Dito. Aku butuh seseorang yang memiliki akses ke data pajak Dito yang tersimpan di brankas keluarga Wijaya. Kau punya kuncinya, dan aku punya perlindungan yang kau butuhkan untuk tetap berdiri tegak di depan wartawan itu."
Arini merasakan napasnya tertahan. Ini bukan penyelamatan; ini adalah negosiasi kekuasaan. "Perlindungan aset bukan opsional, Bram," ujar Arini. Ia menunjuk klausul nomor empat pada draf kontrak yang kini tergeletak di atas meja rias, di antara sisa parfum mahal dan kotak cincin yang kini kosong. "Aku tidak hanya butuh namamu untuk menutupi skandal ini. Aku butuh jaminan bahwa warisan keluarga Wijaya tetap utuh meski Dito mencoba mengurasnya lewat pengalihan saham ilegal itu."
Bramantyo menyesap napas, matanya yang tajam menelusuri wajah Arini, mencari retakan ketakutan. Ia tidak menemukannya. Yang ia lihat hanyalah seorang wanita yang telah selesai berduka dan kini tengah menghitung biaya kerugiannya. Aroma kayu cendana yang dingin menyelimuti ruangan itu, membuat udara terasa sesak namun penuh dengan janji kekuatan baru.
"Kamu meminta perlindungan atas aset yang hampir saja hilang karena ketidakmampuanmu mengawasi suamimu sendiri," balas Bramantyo, suaranya rendah, penuh tantangan. "Tapi aku setuju. Kita akan menjadi pasangan yang paling ditakuti di kota ini, Arini. Selama kau patuh pada kontrak ini, aku akan memastikan Dito tidak akan pernah bisa menyentuh sepeser pun uangmu lagi."
Arini mengambil pena. Ia tidak lagi melihat meja rias itu sebagai saksi janji suci yang dikhianati, melainkan sebagai meja pertempuran. Dengan tangan yang stabil, ia menandatangani kontrak di atas meja yang pernah menjadi saksi janji suci yang dikhianati, mengunci komitmen transaksional mereka. Di luar, pintu terbuka, dan kilatan lampu kamera mulai menyambut.