Harga Sebuah Akses
Layar terminal di Ruang Arsip 4B berkedip merah, memancarkan cahaya dingin yang menyapu wajah Aris. Di sudut kanan bawah, jam digital sistem menunjukkan sisa waktu 71 jam 42 menit sebelum protokol pembersihan otomatis menghapus seluruh jejak rekam medis Budi Santoso. Jantung Aris berdegup kencang, seirama dengan tetesan hujan yang menghantam kaca jendela ruang arsip dengan ritme yang menusuk.
"Akses Ditolak. Hubungi Administrator untuk otorisasi lebih lanjut," bunyi peringatan itu, kaku dan tanpa emosi.
Aris menekan tombol refresh dengan jemari yang gemetar. Flash drive di saku kemejanya terasa seperti bara api yang membakar kulit. Itu adalah satu-satunya bukti nyata bahwa dosis obat Budi Santoso sengaja digandakan untuk menutupi kesalahan prosedur bedah. Ia mencoba memintas firewall menggunakan bypass keamanan tingkat rendah yang ia pelajari selama masa orientasi. Namun, alih-alih akses, layar justru menampilkan pesan baru yang lebih mengerikan: Aktivitas Ilegal Terdeteksi. Identitas Pengguna: Aris. Lokasi: Ruang Arsip 4B. Notifikasi dikirim ke Pusat Keamanan.
Aris membeku. Ia baru saja menandai dirinya sendiri sebagai target. Di balik layar, ia menyadari bahwa 'Administrator' yang dimaksud sistem adalah Direktur Hendra sendiri. Tanpa membuang waktu, Aris mencabut flash drive-nya dan melesat keluar ruang arsip tepat saat lampu lorong mulai berkedip, menandakan sistem keamanan telah mengunci area tersebut.
Langkah kakinya menggema di lorong bangsal bedah yang dingin, beradu dengan suara dengung lampu neon yang tidak stabil. Di ujung lorong, Dr. Maya berdiri membelakangi pintu ruang operasi, tangannya gemetar saat ia melepas sarung tangan karetnya. Aris mencegat wanita itu sebelum ia sempat menghilang ke dalam ruang istirahat.
"Dokter Maya," panggil Aris, suaranya rendah namun tajam. "Saya butuh penjelasan soal protokol dosis Budi Santoso. Laporan di sistem tidak sesuai dengan catatan manual yang saya temukan."
Maya terkesiap, memutar tubuhnya dengan kasar. Wajahnya yang biasanya dingin tampak pucat pasi, matanya menyapu lorong sepi itu dengan ketakutan yang melumpuhkan. "Siapa kau? Jangan bicara soal nama itu di sini."
"Saya penyelidik internal. Saya punya bukti manipulasi data. Tapi saya butuh pengakuan Anda agar ini tidak terkubur," desak Aris.
Maya tertawa getir, suara yang terdengar seperti pecahan kaca. "Pengakuan? Direktur Hendra sudah memegang segalanya, Aris. Karierku, rumahku, bahkan keselamatan keluargaku. Laporan yang kau lihat itu bukan sekadar kesalahan medis. Itu adalah bagian dari sistem pembersihan yang lebih besar. Kau bukan sedang menyelidiki kematian seorang pasien, kau sedang mengusik predator yang memakan orang-orang seperti kita."
Sebelum Aris sempat membalas, Maya berbalik dan berlari menjauh, meninggalkan Aris sendirian di lorong yang kini mulai dipantau oleh kamera keamanan yang berputar perlahan ke arahnya. Aris tahu ia tidak bisa lagi menggunakan jalur utama. Ia berbelok tajam ke koridor menuju pintu keluar darurat di sisi timur, namun saat ia menempelkan kartu aksesnya ke panel pembaca, lampu merah menyala dengan bunyi bip yang memekakkan telinga.
Akses Ditolak. ID Pengguna Dinonaktifkan.
Aris menyentak kartu itu, menempelkannya kembali dengan lebih keras. Tetap merah. Dari balik lorong steril, suara langkah sepatu bot tim keamanan bergema. Iramanya teratur, berat, dan semakin mendekat. Mereka tidak sedang berpatroli; mereka sedang berburu. Aris berbalik, punggungnya menempel pada pintu logam yang dingin. Ia terjebak di antara keamanan yang mematikan dan sistem yang perlahan menghapus jejak kebenaran yang ia pegang.
Di saat keputusasaan memuncak, matanya tertuju pada papan pengumuman digital di samping pintu. Layar itu menampilkan daftar pasien rawat inap yang baru masuk malam ini. Jantungnya berhenti berdetak saat melihat satu nama yang tercantum di urutan teratas: Budi Santoso. Pasien yang seharusnya sudah meninggal dua hari lalu, kini terdaftar berada di ruang isolasi lantai tujuh.