Tiga Hari Menuju Penghapusan
Lampu neon di koridor lantai tiga berkedip, menciptakan ritme yang menyiksa saraf Aris. Di luar, hujan menghantam kaca dengan suara gemuruh yang seolah menelan sisa kewarasannya. Aris menempelkan kartu identitasnya ke pemindai pintu akses staf untuk ketiga kalinya. Lampu indikator tetap merah. Bip pendek yang tajam terdengar—akses ditolak secara permanen.
"Sial," desis Aris. Ia berbalik, punggungnya menempel pada pintu logam yang dingin. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan detak jam dinding yang terdengar lebih keras dari biasanya. Ia tidak hanya terkunci di luar area administratif; ia kini terisolasi di dalam gedung yang perlahan berubah menjadi penjara. Protokol pembersihan otomatis sistem telah dimulai, dan setiap detik yang terbuang adalah celah bagi Direktur Hendra untuk menghapus jejak malpraktik yang ia simpan di dalam flash drive di saku jaketnya.
Aris menatap layar monitor di dinding koridor. Kamera pengawas di sudut ruangan berputar perlahan, lensa kacanya menyorot tepat ke arahnya. Ia sadar, seseorang di ruang kontrol keamanan sedang memantaunya secara real-time. Sensor gerak di setiap sudut koridor mulai mengeluarkan bunyi dengungan halus, menandakan tim keamanan telah diberi instruksi untuk menyisir area ini.
Ia tidak bisa kembali ke ruang staf. Ia juga tidak bisa turun melalui lift utama yang sudah dinonaktifkan. Pilihannya hanya satu: mencapai lantai tujuh untuk memverifikasi apakah Budi Santoso yang terdaftar dalam sistem rawat inap adalah orang yang sama dengan pasien yang telah ia saksikan kematiannya. Namun, tanpa akses kartu, setiap langkahnya adalah taruhan nyawa.
Sebuah langkah kaki yang berat terdengar dari ujung koridor. Aris segera merunduk, napasnya tertahan. Ia melihat bayangan sepatu bot petugas keamanan yang melintas di balik kaca buram pintu di seberangnya. Kepanikan mulai merayap, namun ia memaksanya turun. Ia butuh tempat persembunyian yang tidak terdeteksi oleh sensor gerak konvensional.
Matanya tertuju pada pintu kayu yang sedikit terbuka di ujung lorong—ruang arsip fisik yang seharusnya sudah tidak digunakan lagi. Itu adalah area buta, tempat di mana sistem digital tidak sepenuhnya menjangkau sensor gerak. Dengan gerakan cepat dan senyap, Aris berlari kecil menuju pintu tersebut. Begitu ia masuk dan menutup pintu, bau disinfektan bercampur debu tua menyambutnya.
Di dalam kegelapan ruang arsip yang lembap, Aris mengeluarkan flash drive-nya. Ia harus segera menemukan fragmen data yang tersisa sebelum sistem menghapusnya dalam 71 jam 42 menit. Saat ia menyalakan tablet kecilnya, sebuah notifikasi muncul di layar: Data Terenkripsi Ditemukan. Namun, tepat di bawahnya, daftar pasien rawat inap hari ini terpampang jelas. Nama Budi Santoso tercantum di sana, aktif, berada di ruang isolasi lantai tujuh. Aris membeku. Jika ini benar, maka ia sedang berhadapan dengan konspirasi yang jauh lebih besar dari sekadar catatan medis yang dipalsukan.
Belum sempat Aris mencerna kenyataan itu, sirine darurat tiba-tiba melengking tajam, memecah keheningan bawah tanah. Lampu koridor yang tadinya redup berubah menjadi merah berkedip. Sistem keamanan telah mendeteksi akses paksa di ruang arsip. Aris menyadari jebakannya: ia tidak hanya melacak data, ia sedang dipancing ke ruang tertutup ini untuk dikunci.
Ia berbalik, namun suara langkah kaki berat sepatu bot keamanan mulai bergema di lorong tangga darurat. Aris menatap layar ponselnya. Hitung mundur protokol pembersihan data otomatis kini berkedip merah: 48 jam tersisa. Waktunya bukan lagi 72 jam. Mereka telah mempercepat penghancurannya karena ia telah menyentuh dokumen yang salah.
Aris menyambar map tersebut dan berlari menuju celah ventilasi di sudut ruangan. Ia tidak bisa kembali ke atas melalui lift. Ia harus mencapai lantai tujuh, tempat di mana seseorang yang seharusnya sudah menjadi mayat, kini terdaftar hidup. Ia memanjat railing tangga, melompat ke koridor servis yang jarang dilalui. Di sana, sebuah monitor CCTV tua masih menyala, menampilkan sudut-sudut rumah sakit yang steril.
Langkahnya terhenti tepat di depan layar. Di sana, ia melihat sosok pria berjas rapi yang sedang berdiri di depan ruang isolasi lantai tujuh. Pria itu—salah satu kepala keamanan—menoleh perlahan, seolah tahu ada mata yang sedang mengintip melalui lensa kamera. Tatapannya dingin, menusuk langsung ke arah Aris melalui layar monitor. Aris tersentak, menyadari bahwa ia tidak sedang berburu dalam kegelapan; ia sedang digiring masuk ke dalam perangkap yang sudah dipersiapkan sejak awal.