Data yang Menolak Mati
Bau disinfektan di ruang arsip digital Rumah Sakit Metropolitan selalu terasa seperti aroma kematian yang disterilkan. Di luar, Jakarta sedang dihajar badai. Hujan lebat menghantam kaca jendela, menciptakan ritme konstan yang terdengar seperti detak jam dinding yang berpacu. Aris menatap layar monitornya, jemarinya membeku di atas papan ketik.
Di depannya, dua data beradu. Laporan fisik kematian Budi Santoso—pasien kamar 402—menyatakan gagal jantung alami pada pukul 02.15. Namun, log digital yang baru saja ia akses dari server terenkripsi menunjukkan pemberian Potassium Chloride dosis tinggi pada pukul 02.10. Itu bukan upaya medis. Itu adalah eksekusi yang disamarkan dengan rapi.
Aris menelan ludah. Tenggorokannya kering. Ia adalah penyelidik internal yang dibayar untuk memastikan prosedur berjalan sesuai aturan, bukan untuk menemukan bahwa rumah sakit tempatnya bekerja adalah tempat pembantaian. Ia menekan tombol copy untuk memindahkan log tersebut ke flash drive pribadinya.
Progres: 1%... 5%...
Layar monitor mendadak berkedip. Cahaya biru yang tenang berubah menjadi merah pekat yang menyakitkan mata. Sebuah jendela peringatan muncul, menutupi seluruh layar:
ACCESS DENIED: SECURITY PROTOCOL 77-B TRIGGERED. Sistem Pembersihan Otomatis: 72 Jam Tersisa.
Jantung Aris seakan berhenti. Ini bukan sekadar kesalahan sistem. Ini adalah fitur penghancur bukti otomatis yang dirancang untuk membersihkan jejak sistemik setiap kali ada akses ilegal yang terdeteksi. Ia mencoba menekan tombol escape, namun sistem telah mengunci seluruh akses. Ia bukan lagi auditor. Ia adalah target.
Aris menyambar flash drive yang baru saja selesai menyalin data, lalu melangkah keluar ke lorong yang remang-remang. Suasana rumah sakit malam ini terasa mencekam; lorong-lorong panjang yang biasanya steril kini tampak seperti perangkap. Ia harus segera pergi sebelum Direktur Hendra atau tim keamanan menyadari ada akses ilegal dari akunnya.
Saat ia mencapai pos pemeriksaan di ujung lorong, Aris menempelkan kartu identitasnya ke pemindai. Bunyi bip yang seharusnya bernada ramah justru berubah menjadi dengungan rendah yang panjang. Lampu merah menyala terang di atas pintu. Aksesnya telah dinonaktifkan.
Dari balik tikungan lorong di belakangnya, suara langkah kaki berat yang teratur mulai terdengar. Itu bukan langkah kaki perawat. Itu adalah langkah kaki tim keamanan. Aris menoleh ke belakang, ke arah ruang arsip yang kini terkunci rapat, lalu ke arah pintu keluar yang menolak membukanya. Waktu 72 jam itu baru saja dimulai, dan ia sudah terjebak di dalam kandang yang ia coba bongkar.