Novel

Chapter 11: Chapter 11

Arga berhasil memojokkan Bu Ratna dan Dimas di kantor lelang dengan bukti manipulasi tender yang tak terbantahkan. Kemenangan ini memicu audit forensik terhadap aset Wiratama, memecah loyalitas mitra bisnis, dan menempatkan Arga sebagai pemegang kendali atas masa depan rumah makan tersebut.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 11

Bau hangus dari dapur Wiratama bukan berasal dari masakan yang gagal, melainkan dari mesin penghancur kertas yang dipaksa bekerja melampaui kapasitasnya. Di ruang kerja belakang, Bu Ratna berdiri mematung, menatap Arga yang baru saja meletakkan map berisi bukti audit di atas meja kayu jati yang kokoh.

"Ini bukan ancaman, Bu," suara Arga tenang, memotong napas pendek Bu Ratna yang tersengal. "Ini adalah laporan yang sudah dikirim ke kantor lelang kota satu jam lalu. Mereka tidak akan menerima revisi lagi."

Dimas, yang berdiri di sudut ruangan, mencoba meraih map itu, namun Arga menatapnya dengan dingin—sebuah tatapan yang membuat Dimas membeku. Arga tidak berteriak, tidak memaki. Ia hanya menunjukkan stempel resmi dari pihak lelang pada salinan berkas yang ia pegang. "Tender renovasi dapur ini sudah ditandai 'tertahan'. Jika kalian mencoba memalsukan dokumen lagi, bukan hanya tender yang batal, tapi izin operasional rumah makan ini akan dicabut permanen."

Maya masuk ke ruangan, wajahnya pucat namun matanya tajam. Ia membawa bukti tambahan: catatan transaksi fiktif yang ia temukan di laci Dimas. "Ibu, aku sudah memberikan kesaksian awal pada auditor. Arga benar. Kita tidak bisa lagi bersembunyi di balik nama besar Wiratama jika pondasinya sendiri sudah busuk karena korupsi Dimas."

Bu Ratna gemetar, tangannya mencengkeram pinggiran meja. "Kau menghancurkan keluarga sendiri demi menantu yang tidak punya apa-apa ini, Maya?"

"Aku menyelamatkan keluarga ini dari kehancuran yang kalian buat sendiri," jawab Maya tegas.

Suara ketukan di pintu depan menghentikan perdebatan. Pak Hendra Suroto masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi keringat. Ia melihat map di meja Arga, lalu menatap Bu Ratna dengan tatapan memohon. "Bu Ratna, pihak lelang menolak intervensi saya. Mereka meminta kehadiran Arga Pratama untuk verifikasi fisik berkas asli. Mereka... mereka tahu tentang manipulasi tanda tangan itu."

Arga berdiri, merapikan kemejanya. Ia tidak memandang Pak Hendra sebagai lawan yang layak ditakuti, melainkan sebagai pion yang akan segera tumbang. "Ayo, Pak Hendra. Anda yang mengatur lelang ini, bukan? Mari kita lihat apakah stempel Anda masih punya harga di depan auditor kota."

Di kantor lelang, suasana jauh lebih dingin. Pejabat kota duduk di balik meja panjang, menatap tajam ke arah Bu Ratna dan Dimas yang duduk di kursi pesakitan. Arga menyerahkan berkas asli—bukti tanda tangan yang dimanipulasi—yang kini menjadi senjata pembalik status.

"Ibu Ratna Wiratama," ujar pejabat itu, suaranya menggema di ruangan sunyi. "Data ini menunjukkan ketidaksesuaian fatal. Tender ini dibatalkan, dan kami akan memulai audit forensik penuh terhadap seluruh aset Wiratama."

Mitra bisnis yang duduk di barisan belakang mulai berbisik, satu per satu mulai menjauh dari kursi Dimas. Pak Hendra Suroto, yang mencoba membela diri, justru tersudut saat Arga menyodorkan catatan Pak Darmo yang merinci keterlibatan sang kolektor dalam transaksi fiktif tersebut.

Arga berdiri di tengah ruangan, bukan lagi sebagai menantu yang numpang hidup, melainkan sebagai orang yang memegang kendali atas nasib keluarga Wiratama. Saat ia menatap jam dinding yang menunjukkan waktu menuju penutupan tender besok siang, ia tahu ini adalah titik balik. Keluarga Wiratama kini terbelah, dan di tangan Arga, kunci masa depan rumah makan itu bukan lagi sekadar warisan, melainkan tanggung jawab yang harus ia tata ulang dari nol.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced