Chapter 10
Pukul tiga lewat dua belas sore, di dapur tua Rumah Makan Wiratama yang masih menyimpan bau kaldu lama dan sisa-sisa kejayaan keluarga, Arga Pratama dihentikan tepat saat ia hendak membuka map cokelat dari Pak Darmo. Bu Ratna sudah berdiri di sisi meja stainless, telapak tangannya menekan punggung telepon kantor seolah itu palu sidang. Sekali tekan, sambungan ke ruang arsip terputus.
“Mulai sekarang, semua akses arsip lewat saya,” kata Bu Ratna datar. Suaranya tidak tinggi, tapi justru itu yang membuat para staf lama menunduk. “Arga tidak lagi berhak menyentuh berkas keluarga.”
Di ujung lorong dapur, Pak Darmo berdiri kaku dengan lengan menyilang di dada, map A-402 menempel di bawah siku seperti barang curian yang belum sempat diserahkan. Maya ada di belakang pintu swing, wajahnya pucat tapi matanya tetap tajam. Di layar ponselnya, Arga melihat satu notifikasi masuk dari pihak lelang kota: permintaan konfirmasi tambahan atas paket bukti yang tadi sudah ia kirim. Mereka belum menutup perkara ini.
“Arga,” Bu Ratna menoleh tanpa melihat anaknya sendiri, “kalau kau masih ingin dianggap keluarga, berhenti memancing orang luar. Tender itu ditahan. Nama Wiratama belum habis dihukum.”
Arga tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menatap Bu Ratna, lalu membalikkan badan, meninggalkan dapur dengan langkah tenang yang justru membuat Bu Ratna terdiam cemas.
Malam belum benar-benar jatuh ketika Maya mendorong pintu ruang makan kosong itu dengan bahu. Lampu di atas meja kasir hanya menyorot setengah permukaan kayu, meninggalkan kursi-kursi tersusun rapi dalam bayangan. Di ujung ruang, Arga sudah menunggu.
“Ini,” Maya berbisik, menyelipkan selembar salinan ke atas map Arga. Kertas itu tidak besar, hanya fotokopi tanda tangan Bu Ratna yang diambil dari laci Dimas, tetapi di ruangan itu rasanya lebih berat daripada dompet penuh uang.
“Dari laci Dimas?” tanya Arga.
Maya mengangguk. “Aku ambil saat dia sibuk menelepon orang lelang. Kalau ketahuan, aku yang diseret duluan. Jadi jangan pakai ini untuk bicara besar. Pakai untuk menutup mulut orang yang tepat.”
Arga menggeser kertas itu ke dalam map, tepat di bawah catatan Pak Darmo. Ia tahu, dengan bukti ini, ia tidak hanya memegang kertas, ia memegang leher keluarga Wiratama. Namun, sebelum ia sempat beranjak, pintu depan berderit. Pak Hendra Suroto masuk dengan langkah cepat, setelan rapi, wajah yang masih mencoba terlihat berwenang. Matanya langsung menemukan Arga, lalu map di tangannya.
“Masih bisa dibicarakan,” kata Pak Hendra, suaranya rendah tapi mengandung tekanan administratif yang ia kira ampuh. “Kalau Anda mau, kita tunda verifikasi sampai sore. Ada ketidaksesuaian kecil yang perlu dirapikan. Bapak paham, kan?”
Arga menatap Pak Hendra, lalu tersenyum tipis. “Ketidaksesuaian itu sudah sampai di meja lelang, Pak Hendra. Dan mereka tidak suka dirapikan dengan cara Anda.”
Keesokan paginya, pukul 10.17, di lobi Kantor Lelang Kota yang dingin, Arga berdiri dengan map cokelat di tangan kanan dan amplop tersegel di tangan kiri. Di layar depan, status tender Wiratama masih tertulis: tertahan. Tepat di samping meja verifikasi, seorang petugas menggeser telepon speaker-nya menjauh saat nama Bu Ratna muncul untuk ketiga kalinya.
“Kalau ada keberatan, silakan tulis resmi,” kata petugas itu datar. Dari ujung sambungan, suara Bu Ratna pecah oleh amarah yang ditahan paksa.
“Dokumen yang Bapak kirim sudah diterima. Dan ada tambahan dari saksi,” potong petugas itu tanpa mempedulikan teriakan Bu Ratna di seberang sana.
Arga menyerahkan amplop terakhirnya. Saat layar sistem menampilkan status pemeriksaan dipercepat, Arga tahu satu hal pasti: sebelum tenggat kota ditutup, ia baru saja mengirimkan bom waktu yang akan memecah keluarga dari dalam. Kemenangan ini bukan akhir, melainkan awal dari perang yang akan memaksa setiap mitra dan pejabat untuk memilih sisi.