Chapter 9
Bau asap sisa pembakaran kayu di dapur Wiratama pagi itu terasa menyesakkan. Arga berdiri di depan pintu ruang arsip yang kini disegel dengan gembok besi baru. Di belakangnya, suara langkah kaki Bu Ratna terdengar tajam, disusul oleh napas Dimas yang memburu.
"Jangan mencoba masuk, Arga," suara Bu Ratna dingin, namun ada getaran halus di ujung kalimatnya. "Audit independen sudah menyita akses. Kamu bukan siapa-siapa di sini."
Arga tidak menoleh. Ia menatap segel kertas yang ditempelkan auditor di pintu. "Audit menyita dokumen, Bu. Tapi mereka tidak menyita ingatan Pak Darmo di gudang pendingin. Dia tahu di mana map A-402 disimpan sebelum segel ini dipasang."
Dimas tertawa sumbang, meski tangannya gemetar saat memegang ponsel. "Pak Darmo sudah dipecat semalam. Dia tidak akan bicara."
"Dia dipecat karena dia tahu terlalu banyak," potong Arga, akhirnya berbalik. Tatapannya tenang, sebuah kontras tajam dengan wajah Dimas yang pucat. "Dan dia sudah menghubungiku. Dia punya salinan catatan transaksi fiktif yang kalian buat untuk menutupi hutang renovasi."
Keheningan menyergap lorong itu. Bu Ratna terdiam, matanya menyipit, mencoba menimbang apakah Arga sedang menggertak atau benar-benar memegang kartu as. Arga tidak memberi waktu bagi mereka untuk bereaksi. Ia melangkah pergi, meninggalkan ibu dan anak itu dalam kepanikan yang mulai merayap.
Di gang servis yang sempit, Maya sudah menunggu. Ia tampak lelah, namun matanya menyala dengan tekad baru. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal.
"Ini salinan tanda tangan Ibu pada dokumen hutang tersembunyi itu," bisik Maya. "Aku menemukannya di laci kerja Dimas. Jika auditor melihat ini, mereka akan tahu bahwa manipulasi ini bukan sekadar kesalahan teknis, tapi kesengajaan."
Arga menerima amplop itu. "Ini cukup untuk menahan tender, tapi belum cukup untuk menjatuhkan mereka sepenuhnya. Kita butuh kesaksian Pak Darmo."
"Dia takut, Arga," sahut Maya. "Dia punya keluarga. Dia takut mereka akan menghancurkan hidupnya jika dia bicara."
"Kalau begitu, kita harus menjamin keselamatannya," jawab Arga tegas. "Bawa dia ke tempat aman. Sebelum tenggat tender besok siang, aku akan mengirimkan paket bukti ini ke meja otoritas lelang kota. Begitu mereka menerima ini, posisi Bu Ratna sebagai pengelola Wiratama akan tamat."
Sari, staf senior yang berdiri di balik pintu pengiriman, muncul dengan wajah pucat. "Arga, Pak Hendra Suroto sedang dalam perjalanan ke sini. Dia tahu ada kebocoran informasi. Dia tidak akan membiarkan bukti ini sampai ke pihak lelang."
Arga mengangguk. "Biarkan dia datang. Kita sudah tidak punya waktu untuk bersembunyi."
Arga kembali ke ruang utama. Di sana, suasana sudah berubah menjadi medan perang. Bu Ratna sedang berdebat sengit dengan perwakilan auditor melalui telepon. Dimas mencoba menghalangi jalan Arga, namun Arga hanya meletakkan surat internal lama di atas meja stainless. Surat itu membuktikan hutang tersembunyi yang selama ini disembunyikan dari auditor.
"Dimas, lihat tanggalnya," ujar Arga datar. "Ini bukti bahwa kalian sudah merencanakan kebangkrutan palsu ini sejak enam bulan lalu."
Dimas tertegun, surat itu jatuh dari tangannya. Arga tidak membuang waktu. Ia segera menuju meja kerjanya, membuka laptop, dan melakukan enkripsi terakhir pada paket bukti digital. Ia tidak lagi berdebat. Ia hanya menatap jam dinding yang terus berdetak menuju tenggat waktu.
"Kalian kira bisa mengatur kami dengan kertas?" teriak Bu Ratna dari ambang pintu, suaranya melengking penuh amarah.
Arga menekan tombol send pada laptopnya. "Ini bukan sekadar kertas, Bu. Ini adalah pengakuan yang akan menutup rumah makan ini selamanya jika kalian tidak menyerah sekarang."
Paket itu meluncur menuju meja otoritas lelang kota. Arga tahu, ini adalah titik balik. Namun, ia juga sadar bahwa Pak Hendra Suroto tidak akan tinggal diam. Jika ia gagal menjamin keselamatan Pak Darmo sebelum besok siang, seluruh bukti ini bisa dianggap tidak sah oleh pihak berwenang. Arga harus bertindak cepat; satu kesalahan langkah, dan dia akan kehilangan segalanya.