Chapter 8
Pagi itu, pukul sembilan lewat sedikit, Arga berdiri di jalur paling sempit rumah makan Wiratama: antara pintu gudang arsip yang disegel, meja stainless yang dingin, dan tatapan Bu Ratna yang seolah menilai berapa lama ia pantas menahan napas di rumah itu.
Di belakangnya, dapur leluhur—sumber martabat keluarga—kini terasa asing. Bunyi panci yang dibanting dan radio yang dimatikan paksa menciptakan ketegangan yang nyata. Di depannya, pintu baja gudang arsip tertutup rapat dengan stiker segel auditor yang mulai terkelupas. Tender renovasi dapur ditunda. Investor utama sudah menarik diri. Namun, Bu Ratna masih berdiri tegak, memegang kendali atas papan permainan yang sebenarnya sudah retak.
“Jangan buang waktu di situ,” suara Bu Ratna dingin, memotong kesunyian. “Gudang itu bukan milikmu. Kalau mau cari muka, cari di luar rumah.”
Dimas menyandarkan bahu di kusen ruang administrasi, senyum tipisnya seperti pisau tumpul. “Kalau masih ngotot, nanti dikira kamu punya hak waris.”
Arga tidak menoleh. Ia tidak butuh panggung. Ia butuh lampiran penilaian yang menyilang dengan surat internal lama—bukti yang akan memastikan posisi Bu Ratna terkunci saat tenggat tender besok siang tiba. Ia mengulurkan tangan ke gagang pintu arsip, hanya untuk memastikan. Terkunci. Catatan keluar-masuk berkas telah dipalsukan semalam. Itu adalah kepanikan yang terukur.
“Arga.”
Suara Maya datang dari lorong belakang, pelan tapi tegang. Ia mendekat dengan map tipis menempel di dadanya. Wajahnya tidak selembut biasa; ada keputusan yang dipaksa tumbuh terlalu cepat. Ia berdiri di antara Arga dan ibunya.
Bu Ratna menatap putrinya. “Serahkan salinan itu ke ruang keluarga. Sekarang.”
Maya tidak menjawab. Keheningan itu adalah penghinaan bagi Bu Ratna.
“Maya, jangan ikut permainan dia,” sela Dimas. “Kalau dokumen itu dipindah, auditor bisa anggap kita menghalangi.”
Maya mengencangkan jemarinya. “Kalau Ibu tidak menandatangani yang seharusnya, tidak ada yang perlu dipindah.”
Arga melihat sekilas ke wajah Maya. Ada letih di sana, tapi juga garis yang tidak mau dibengkokkan. Bu Ratna mendekat setengah langkah. “Kamu bicara seperti orang luar.”
“Karena sejak tadi Ibu memperlakukan saya seperti bukan anak sendiri,” jawab Maya tegas.
Bu Ratna mengatupkan rahang. Ia menoleh pada Arga. “Kamu datang untuk apa? Mengemis lagi?”
“Mengambil lampiran yang hilang,” kata Arga datar. “Lalu mengirim salinan pendukung ke pihak lelang sebelum besok siang.”
Dimas terkekeh. “Dengan akses apa?”
Arga mengeluarkan ponselnya, menahan layar di bawah meja stainless. Ia menunjukkan sudut foto surat internal lama—yang disembunyikan Bu Ratna—bersanding dengan catatan nomor referensi dari buku lama. Cukup untuk membuat Bu Ratna melihat bahwa ia tidak datang dengan tangan kosong.
Untuk pertama kali, wajah Bu Ratna bergerak. Itu bukan cemas biasa; itu reaksi orang yang tahu sebuah tanda tangan sedang berdiri di ujung lehernya sendiri. Arga tidak memberi jeda. Ia mengambil satu foto cepat lagi—cap tinta di log keluar-masuk berkas yang tidak cocok.
“Jangan ikut campur lagi, Maya,” kata Arga tanpa mengalihkan mata dari Bu Ratna. “Kalau mereka mulai menekan, biar jelas siapa yang menekan siapa.”
Maya menggeser map tipis itu ke belakang tubuhnya. Bukan tindakan besar, tapi di rumah itu, itu adalah pernyataan perang.
Arga masuk ke meja kerja administrasi. Ia membentangkan surat internal lama dan buku catatan tua, menyesuaikan nomor referensi. Angka itu menautkan pinjaman tersembunyi atas nama usaha keluarga dengan pembelian material renovasi fiktif. Ia bekerja cepat: memindai, mengarsip, mengenkripsi. Paket digital dikirim ke kontak lelang kota dan jalur audit.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh satu. Status pesan: Diterima.
Arga mengembuskan napas. Satu langkah kecil, tapi cukup untuk menancapkan pisau ke jadwal Bu Ratna.
“Kalau Ibu tahu kamu kirim salinan itu, dia akan ambil paksa yang di tangan saya,” bisik Maya.
“Dia sudah mencoba,” jawab Arga. “Sekarang dia harus memilih: menutup rumah ini rapat-rapat, atau membuka kartu lain yang lebih kotor.”
Tak lama kemudian, Bu Ratna memerintahkan seluruh kerabat inti berkumpul di ruang tengah. Aroma kaldu lama bercampur bau kertas di ruangan yang kini terasa sempit. Bu Ratna ingin mengembalikan urutan. Ia ingin mempermalukan Arga.
“Dia sudah mencuri nama Wiratama untuk menyerang rumah makan leluhur,” kata Bu Ratna, suaranya sengaja keras. “Mulai hari ini, dia tidak masuk ke urusan dapur, arsip, atau tamu bisnis.”
Dimas menambahkan, “Kalau arus dokumen ini berhenti di dia, kita selamat.”
Maya berdiri, memegang map tipis itu. “Kalau Ibu bicara soal nama keluarga, tanya dulu kenapa ada surat internal yang disembunyikan. Tanya kenapa angka penilaian aset tidak cocok. Jangan pura-pura semua ini terjadi karena Arga.”
“Kamu dipengaruhi suamimu,” desis Bu Ratna.
“Tidak,” jawab Maya. “Saya akhirnya membaca sendiri.”
Arga maju selangkah. “Saya tidak mencuri nama keluarga ini. Saya hanya menunjukkan apa yang selama ini disembunyikan di balik nama itu.”
Dimas menyeringai. “Dengan buku catatan tua? Itu cukup buat menakut-nakuti orang bawah, bukan buat menjatuhkan keluarga.”
“Kalau begitu, jelaskan kenapa transaksi fiktif yang kamu tandatangani di bagian penerimaan bahan ada di halaman yang sama dengan pembelian renovasi fiktif,” balas Arga tenang. “Jelaskan juga kenapa nama Pak Hendra muncul berulang kali di jalur pembayaran yang sama.”
Nama itu menghantam ruang tengah. Bu Ratna merapatkan rahang. “Cukup. Kalian semua lupa siapa yang membesarkan rumah makan ini. Nama Wiratama bukan milik suamimu. Ini nama keluarga.”
Arga meletakkan surat internal lama itu di meja. “Kalau begitu, baca sendiri siapa yang memakai nama keluarga untuk menyembunyikan hutang.”
Bu Ratna membeku. Ia mengenali kertas itu. Tangan Arga menahan ujung kertas sebelum ditarik sepenuhnya. “Saya justru berhak karena ini yang Anda sembunyikan.”
Di sekeliling meja, orang-orang mulai saling pandang. Bu Ratna menarik napas panjang, mencoba mengubah nadanya. “Semua ini urusan dalam keluarga. Arga, kamu tetap menantu di rumah ini. Ingat posisimu.”
“Kalau Ibu masih menyebut dia menantu seolah itu ancaman,” sela Maya, “berarti Ibu sudah kalah dari fakta.”
Saat itu, pintu samping terbuka. Seorang staf lama, wajahnya pucat, menunduk pada Arga. “Kalau Mas Arga bisa jamin saya aman, saya tahu satu berkas lagi yang hilang waktu audit. Ada saksi yang juga mau bicara, tapi dia takut sama Bu Ratna.”
Bu Ratna menoleh tajam. “Siapa yang mengajarimu membuka mulut?”
Arga menatap staf itu, lalu ke arah map tua yang terselip di meja—map dengan cap keluarga lama dan tanda tangan Bu Ratna yang selama ini ia pakai untuk menekan staf. Bu Ratna mematung, kehilangan ruang untuk berkelit.