Chapter 7
Bau kaldu ayam yang biasanya menjadi kebanggaan keluarga Wiratama kini terasa menyesakkan, bercampur dengan aroma keringat dingin yang menguap di ruang belakang yang pengap. Arga berdiri di depan meja kayu jati tua, di hadapan Pak Hendra Suroto yang tampak gelisah, dan Bu Ratna yang wajahnya memucat namun tetap berusaha mempertahankan martabat dengan dagu yang terangkat tinggi.
"Arga, keluar. Ini urusan internal keluarga. Kau tidak punya hak berada di meja lelang ini, apalagi menyentuh berkas tender," desis Dimas. Tangannya mencengkeram bahu Arga, namun Arga tidak bergeming. Ia justru meletakkan secarik kertas di atas meja, tepat di depan petugas audit.
"Hak saya ada di sini, Dimas. Tepat di angka-angka yang kalian manipulasi," ujar Arga tenang. Suaranya kontras dengan suasana tegang di ruangan itu. "Pak Hendra, Anda pasti ingat transaksi fiktif senilai dua ratus juta rupiah tertanggal bulan lalu? Angka yang Anda klaim sebagai biaya renovasi pipa dapur, padahal dapur ini bahkan belum tersentuh satu paku pun."
Pak Hendra terkesiap, wajahnya yang semula angkuh berubah menjadi pias. Ia melirik Bu Ratna, mencari dukungan, namun wanita itu justru membuang muka, jari-jarinya gemetar hebat di balik lipatan kebaya.
Di koridor samping rumah makan, Maya berdiri tegak di balik bayang-bayang rak arsip, memeluk map biru berisi salinan bukti transaksi fiktif yang baru saja memicu penundaan tender dapur. Bu Ratna melangkah mendekat, napasnya memburu. "Serahkan map itu, Maya. Kamu tidak mengerti risiko apa yang kamu bawa ke keluarga ini," desis Bu Ratna. Jemari yang biasanya memegang kendali penuh atas dapur leluhur kini gemetar menahan amarah.
"Aku mengerti sepenuhnya, Bu," jawab Maya tenang. "Aku mengerti bahwa map ini adalah bukti mengapa tender dapur ditahan. Dan aku mengerti bahwa jika map ini jatuh ke tangan yang salah, keluarga kita bukan hanya kehilangan tender, tapi juga reputasi di depan audit independen."
Dimas muncul dari ujung koridor, wajahnya pucat pasi. "Bu, mereka sudah mengunci data! Arga tidak hanya merusak tender, dia membuka kotak pandora yang tidak bisa kita tutup lagi!"
Arga melangkah maju, membiarkan kehadirannya menekan atmosfer koridor yang sempit. "Kotak itu sudah terbuka sejak kalian memutuskan untuk memalsukan tanda tangan di atas aset keluarga ini," ujar Arga dingin. Ia membiarkan ancaman itu menggantung di udara. Bu Ratna terdiam, matanya menatap Arga dengan kebencian yang baru—bukan lagi sebagai menantu yang tidak berguna, melainkan sebagai musuh yang memegang belati di lehernya.
Sore merapat cepat. Ruang depan rumah makan diubah jadi meja pertemuan darurat. Bu Ratna mencoba membalik keadaan dengan nama besar Wiratama, tetapi Arga sudah selangkah lebih maju. Di atas meja, auditor independen menatap layar tablet dengan alis berkerut. "Ini tidak masuk akal. Data yang diberikan keluarga Wiratama hari ini berbeda dengan laporan yang kami terima kemarin. Ada selisih hampir tiga puluh persen pada biaya material renovasi."
Dimas mencoba memotong, suaranya mencoba terdengar berwibawa namun justru terdengar panik. "Itu hanya penyesuaian teknis. Harga pasar fluktuatif."
Arga, yang berdiri di sudut ruangan, mendekat ke meja. Ia tidak perlu berteriak. "Harga pasar tidak fluktuatif hingga tiga puluh persen dalam dua puluh empat jam, Pak Dimas. Terutama jika angka tersebut merujuk pada material yang tidak pernah ada dalam daftar inventaris gudang." Arga menyebutkan angka spesifik dari buku catatan lama yang ia temukan—angka yang mustahil diketahui orang luar.
Seketika, calon pembeli utama yang duduk di seberang meja menarik diri. Kursinya berderit saat ia berdiri. "Jika data ini tidak valid, saya tidak bisa melanjutkan penawaran. Saya tidak ingin berurusan dengan audit kriminal."
Meja pertemuan membeku. Auditor meminta seluruh surat internal lama disita. Bu Ratna sadar, serangan berikutnya bukan lagi tentang tender, melainkan tentang kelangsungan hidup keluarga mereka. Saat ia hendak memprotes, Arga mengeluarkan satu dokumen terakhir dari saku jasnya—sebuah surat internal lama yang selama ini disembunyikan Bu Ratna untuk menutupi hutang mendiang suaminya.