Chapter 12
Pukul sembilan pagi, ruang lelang di samping dapur leluhur Wiratama terasa seperti ruang interogasi. Aroma kaldu yang biasanya membangkitkan selera kini tertutup bau apek kertas tua dan ketegangan yang menyesakkan. Di bawah lampu neon yang berkedip, petugas lelang kota membalik map tebal berstempel merah dengan gerakan efisien. Bu Ratna berdiri kaku di ujung meja, jemarinya mencengkeram tas kulitnya hingga buku jarinya memutih. Dimas, di sampingnya, terus melirik pintu keluar, wajahnya pucat pasi.
Arga Pratama berdiri di seberang meja, tenang. Ia tidak butuh suara keras untuk mendominasi ruangan. Ia meletakkan amplop cokelat tersegel lakban arsip di atas meja stainless. "Ini catatan transaksi fiktif yang divalidasi Pak Darmo," ucap Arga datar. "Di dalamnya, ada salinan tanda tangan Bu Ratna yang digunakan untuk memanipulasi tender. Semuanya sudah sinkron dengan audit forensik yang sedang berjalan."
Bu Ratna membelalak, suaranya tercekat. "Itu fitnah! Arga, kau hanya menantu yang tidak punya hak—"
"Hak saya adalah menyelamatkan aset yang hampir kalian hancurkan," potong Arga. Ia menatap petugas lelang. "Silakan verifikasi. Saya sudah siapkan salinan pendukung untuk mempercepat proses ini sebelum tenggat siang nanti."
Di gudang arsip, Maya melangkah maju, memegang amplop plastik berisi bukti yang selama ini disembunyikan ibunya. Bu Ratna mencoba menghalangi, namun tatapan tajam Maya menghentikannya. "Sudah cukup, Bu," ujar Maya tegas. "Arga benar. Jika kita tidak menyerahkan ini sekarang, nama keluarga kita bukan lagi sekadar tercemar, tapi akan berurusan dengan hukum pidana." Maya menyerahkan bukti itu kepada petugas, memutus rantai kendali ibunya di depan staf yang selama ini tunduk pada rasa takut.
Kembali ke area servis dapur, Dimas mencoba serangan terakhir. "Kamu pikir dengan buku catatan kusam ini kamu bisa menguasai rumah makan ini?" tantang Dimas, suaranya bergetar. Arga membuka buku catatan Pak Darmo, menunjukkan entri demi entri yang mencatat aliran dana fiktif ke rekening pribadi Pak Hendra Suroto dan Dimas. "Ini bukan sekadar catatan dapur, Dimas. Ini adalah bukti pengkhianatan kalian terhadap warisan keluarga."
Petugas lelang kembali dengan wajah serius. Ia tidak lagi memandang Bu Ratna atau Dimas. Ia menyerahkan otorisasi operasional kepada Arga. "Tender renovasi dibatalkan. Audit forensik menyatakan bahwa pengelolaan aset harus dialihkan untuk menjaga kelangsungan usaha."
Pak Hendra Suroto, yang berdiri di sudut ruangan, hanya bisa mematung saat petugas lelang mengonfirmasi keterlibatannya dalam skema tersebut. Saat palu terakhir jatuh, menandai berakhirnya tender dan dimulainya era baru, Arga menatap Bu Ratna yang kini terduduk lemas di kursi kasir. Rumah makan leluhur tetap berdiri, tetapi kali ini Arga yang memegang kunci ruang belakang, kunci nama, dan kunci keputusan. Perang besar baru saja dimulai, dan kali ini, ia bukan lagi orang yang numpang duduk di meja keluarga.