Novel

Chapter 5: Chapter 5

Arga menghadapi isolasi fisik dari Dimas, namun berhasil membalikkan situasi dengan menunjukkan bukti manipulasi keuangan sistematis kepada Maya. Maya akhirnya berpihak pada Arga setelah menyadari bahwa rumah makan keluarga terancam lelang paksa akibat ulah ibunya sendiri.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 5

Pagi itu, dapur utama Wiratama bukan lagi tempat yang hangat. Pintu besinya telah digembok dengan rantai baru yang kasar. Di sebelahnya, gudang arsip disegel dengan plastik segel resmi—sebuah pernyataan bisu dari Dimas bahwa menantu yang dianggap 'tak berguna' ini kini benar-benar telah kehilangan akses ke jantung operasional keluarga.

Dimas berdiri di depan pintu, menyilangkan tangan dengan senyum yang dipaksakan. Ujung kemejanya belum sepenuhnya rapi, menyisakan noda semen tipis—tanda ia lebih banyak bermain sandiwara daripada bekerja. "Kamu lihat sendiri, Arga," suaranya sengaja dikeraskan agar pegawai cuci piring di lorong mendengarnya. "Mulai hari ini, jangan mimpi masuk dapur atau menyentuh arsip. Urusan keluarga biar diselesaikan oleh mereka yang punya nama Wiratama."

Arga tidak membalas dengan amarah. Ia hanya menatap gembok itu, lalu ke arah Dimas dengan pandangan yang membuat pria itu sedikit mundur. Arga menyimpan map penilaian di balik jasnya. Ia tidak butuh akses fisik lagi; ia sudah memiliki catatan transaksi fiktif yang ditulis tangan oleh Bu Ratna sendiri—sebuah bukti sistematis yang jauh lebih tajam daripada kunci gudang manapun.

Arga melangkah pergi, meninggalkan Dimas yang kebingungan. Ia langsung menuju ruang kerja Maya. Begitu pintu tertutup, Arga meletakkan buku catatan kulit hitam itu di meja mahoni istrinya. "Baca ini, Maya. Ini bukan soal siapa yang memegang kunci, tapi siapa yang akan menyeret keluarga ini ke pengadilan saat tender ditutup besok siang."

Maya gemetar saat membuka lembaran buku itu. Pola manipulasi angka yang sistematis, aliran dana fiktif, dan tanda tangan ibunya di dokumen rahasia terpampang nyata. "Ibu tidak mungkin melakukan ini..." bisik Maya, suaranya tercekat. Arga menatapnya dengan ketenangan yang dingin. "Ibumu mempertaruhkan rumah makan ini untuk menutupi hutangnya sendiri. Dia memakai tender ini sebagai jebakan, dan besok siang, pihak lelang akan datang untuk menagih kebenaran."

Saat itu, pintu ruang kerja digebrak. Bu Ratna masuk dengan wajah kaku. "Maya, serahkan semua salinan itu sekarang!" serunya, matanya beralih tajam ke Arga. "Kamu mau nama ayahmu jatuh karena suamimu sok jadi pahlawan?"

Maya berdiri, tangannya mengepal di dalam saku, menyembunyikan salinan bukti yang ia pegang. "Ibu yang menandatangani ini. Arga hanya menunjukkan kebenaran yang selama ini kita abaikan."

Bu Ratna terdiam sejenak, kewibawaannya retak saat Arga melangkah maju, meletakkan dokumen transfer bank di atas meja. "Bukan hanya tanda tangan, Bu. Jejak pembayaran dari supplier fiktif ke rekening orang dekat Pak Hendra Suroto sudah saya pegang. Tender ini bukan lagi tentang renovasi dapur, tapi tentang siapa yang akan masuk penjara jika data ini sampai ke pihak lelang."

Bu Ratna memucat. Ia menyadari bahwa menantu yang dulu dianggap beban kini memegang tali yang bisa menjerat lehernya sendiri. Arga tidak berteriak; ia hanya berdiri di sana, menguasai ruangan dengan presisi seorang ahli strategi. Di luar, jam dinding berdetak menuju batas waktu tender besok siang. Arga telah mengunci targetnya, dan saat ia menatap Maya, istrinya itu akhirnya mengerti: Arga tidak sedang menebus harga diri saja—ia sedang mengamankan aset yang bisa menyelamatkan rumah makan itu dari kehancuran total.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced