Chapter 4
Bau kaldu tulang yang pekat dan aroma rempah kering yang mengendap di dinding kayu dapur Wiratama bukan lagi sekadar aroma masakan; itu adalah bau sejarah yang sedang membusuk. Pagi ini, udara di dapur terasa tajam, menusuk paru-paru dengan ketegangan yang nyata.
Dimas berdiri di depan pintu gudang arsip, tangannya yang gemetar menekan gembok baru. Di belakangnya, dua pegawai dapur menunduk dalam, menghindari tatapan mata. Mereka tahu, ketika pewaris keluarga mulai mengunci pintu, artinya ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
"Mulai detik ini, akses ke arsip dan dapur belakang saya kunci," suara Dimas memecah kesunyian, sengaja dikeraskan agar menggema hingga ke ruang makan utama. "Tidak ada lagi yang boleh menyentuh berkas tanpa izin saya. Terutama kamu, Arga."
Arga berdiri tenang, membiarkan Dimas menikmati rasa kuasanya yang rapuh. Di saku jasnya, salinan bukti manipulasi yang diberikan Maya terasa seperti beban yang menagih janji. Arga tidak membalas dengan kata-kata kasar. Ia hanya menatap gembok itu, lalu beralih ke rak catatan manual yang terabaikan di sudut ruangan—sebuah artefak dari masa ketika dapur ini masih dikelola dengan disiplin, bukan tipu daya.
"Kamu pikir dengan mengunci pintu, kamu bisa mengunci kebenaran?" tanya Arga datar. "Minggu lalu, selisih pengadaan bawang mencapai dua puluh persen. Kalau pihak lelang meminta audit mendadak besok siang, apa yang akan kamu tunjukkan? Catatan palsu yang dibuat terburu-buru?"
Dimas tertegun. Wajahnya yang semula angkuh memucat. Ia tahu Arga tidak sedang menggertak; Arga memegang memori operasional yang selama ini hanya tersimpan di kepala pria itu.
Di area belakang, Maya muncul dengan napas tersengal. Ia melihat Arga yang dikepung, namun tidak tampak kalah. Saat Dimas lengah, Maya mendekat dan menyelipkan sesuatu di bawah map menu tua di meja kecil. "Ibu sudah tahu soal salinan itu," bisik Maya cepat. "Dia akan mencoba merebut map penilaian dari tanganmu sebelum besok siang. Arga, kita tidak punya banyak waktu sebelum tender ditutup."
Arga menatap Maya. Tatapan mereka bertemu—sebuah persekutuan yang lahir dari keterpaksaan. Arga tahu, Bu Ratna tidak hanya ingin mengusirnya; wanita itu ingin menghapus jejak manipulasi yang ia tandatangani sendiri. Jika Arga menyerah sekarang, rumah makan ini akan jatuh ke tangan pihak lelang, dan keluarga Wiratama akan berakhir sebagai debitur yang bangkrut.
"Maya, simpan salinan itu di tempat yang hanya kamu tahu," instruksi Arga. "Jangan biarkan Ibu menyentuhnya. Aku akan masuk ke dapur bagian dalam. Masih ada satu buku catatan yang belum mereka temukan—buku catatan yang mencatat alur uang yang sebenarnya."
Arga melangkah melewati Dimas yang masih membeku. Ia masuk ke bagian dapur yang paling dalam, tempat kompor tua masih menyala. Di balik rak panci yang berdebu, ia menemukan buku catatan bersampul kulit kusam. Saat ia membukanya, pola manipulasi itu terungkap dengan jelas: transaksi fiktif yang konsisten setiap kali tender renovasi akan dimulai. Ini bukan sekadar kesalahan administratif; ini adalah skema sistematis.
Dimas menyusul ke dalam, wajahnya dipenuhi amarah. "Kembalikan itu, Arga! Kamu tidak punya hak menyentuh arsip pribadi keluarga!"
Arga membalik halaman, menandai tiga transaksi besar yang akan menjadi bukti kunci. Ia menatap Dimas dengan dingin. "Ini bukan arsip pribadi. Ini bukti pidana. Kalau kamu ingin rumah makan ini selamat, mundurlah. Atau, kita lihat siapa yang akan lebih dulu diseret oleh pihak lelang besok siang."
Di ambang pintu, Maya berdiri mematung, menatap Arga yang kini memegang kendali atas masa depan mereka. Ia menyadari bahwa suaminya bukan sekadar menantu yang sedang menebus harga diri—Arga sedang mengamankan aset yang bisa menyelamatkan rumah makan itu dari lelang paksa. Perang ini baru saja dimulai, dan Arga Pratama baru saja menggenggam kartu as yang akan mengubah segalanya.