Terms Rewritten
Bau kaldu sapi yang pekat dan aroma rempah sangrai memenuhi dapur leluhur Wiratama, namun pagi ini, ketegangan di sana jauh lebih mencekik daripada uap panas yang mengepul dari kuali tembaga. Arga Pratama berdiri di depan meja stainless, jemarinya mengetuk map penilaian aset yang selama ini menjadi kunci rahasia keluarga.
Bu Ratna melangkah masuk, tumit sepatunya beradu keras dengan lantai marmer. "Jangan diangkat," perintahnya pada staf dapur saat telepon di sudut meja berdering. "Kalau itu pihak lelang, katakan kita sedang sibuk. Menantu yang hanya tahu cara numpang makan tidak punya urusan dengan tender ini."
Arga tidak menoleh. Ia mengangkat gagang telepon tepat sebelum tangan Bu Ratna menyentuhnya. "Verifikasi tender, selamat pagi," suara Rini dari pihak lelang terdengar di seberang, kaku dan penuh tekanan. "Kami butuh konfirmasi terakhir. Ada ketidaksesuaian data pada penilaian aset Anda. Jika dokumen asli tidak diverifikasi hari ini, status 'tertahan' akan kami ubah menjadi pembatalan permanen."
Bu Ratna mencoba menyambar gagang telepon, wajahnya memerah padam. "Tutup! Itu urusan saya!"
Arga memutar tubuh, membiarkan tangan mertuanya hanya menangkap udara kosong. Ia menatap lurus ke mata Bu Ratna dengan ketenangan yang jauh lebih mengintimidasi daripada teriakan. "Ibu tidak memegang nomor berkasnya. Nomor 07/WRT-DP/24. Saya yang memegang prosedurnya, dan saya yang akan memastikan tender ini tidak gugur karena kecerobohan Ibu."
Bu Ratna terdiam, napasnya memburu di depan para staf yang kini menunduk dalam-dalam. Arga menutup telepon dengan instruksi verifikasi lanjutan untuk sore nanti, meninggalkan Bu Ratna tanpa ruang untuk membantah tanpa mempermalukan diri sendiri di depan bawahannya.
Di lorong sempit menuju gudang, Maya berdiri mematung. Ia memegang salinan bukti tanda tangan ibunya yang dimanipulasi. Dimas, iparnya, berjaga di pintu dengan tatapan mengancam. "Serahkan, Maya," desis Bu Ratna yang menyusul mereka. "Nama keluarga ini dipertaruhkan. Jangan biarkan orang luar itu memegang kendali."
Maya melirik Arga yang muncul dari balik tikungan. Arga tidak berdebat. Ia hanya memberikan isyarat kecil—sebuah gerakan kepala yang memerintahkan Maya untuk tetap tenang. "Kalau Ibu ingin nama keluarga aman, seharusnya Ibu tidak memanipulasi berkas sejak awal," ujar Maya, suaranya kini lebih stabil. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Dimas yang terperangah dan Bu Ratna yang hanya bisa menatap pintu gudang terkunci yang kini tak lagi bisa ia akses.
Pukul tiga sore, ruang administrasi menjadi arena penentuan. Arga melangkah masuk, membawa map asli. Kurir kantor lelang sudah menunggu di sana. Bu Ratna mencoba merebut map itu, namun Arga membukanya dengan gerakan lambat dan pasti. Ia memamerkan lembar penilaian dengan tanda tangan Bu Ratna yang asli, tepat di samping salinan yang kini disodorkan Maya.
"Ini bukan urusan keluarga lagi, Bu," kata Arga datar. "Ini urusan legalitas tender. Pihak lelang sudah memegang salinan yang cocok dengan dokumen ini."
Suasana ruang administrasi mendadak hening. Staf administrasi dan kurir lelang menatap lembar tersebut, lalu beralih ke Bu Ratna yang kini terdiam kaku. Untuk pertama kalinya, otoritas mutlak sang ibu mertua runtuh di depan orang luar. Tender resmi dinyatakan tertahan, dan Arga telah mengirimkan bukti pendukung yang membuat posisi tawar keluarga Wiratama kini sepenuhnya berada di bawah kendali proseduralnya.
Namun, kemenangan itu tidak membawa kedamaian. Saat Arga dan Maya keluar dari ruang administrasi, Dimas mencegat mereka di depan pintu dapur. "Jangan masuk ke dapur lagi," ancam Dimas, suaranya bergetar karena malu yang dipaksakan. "Gudang arsip sudah terkunci. Semua akses usaha keluarga tertutup untukmu."
Arga tidak terkejut. Ia justru menatap kunci gembok baru yang tergantung di sana. Di tengah ketegangan itu, ponselnya bergetar. Panggilan dari Pak Hendra Suroto—sosok di balik layar yang menentukan siapa yang layak memegang tender besar kota ini—masuk ke layar. Arga tersenyum tipis. Ia tahu bahwa penutupan akses ini hanyalah awal dari perang yang lebih besar. Saat ia berbalik, matanya menangkap buku catatan tua di laci dapur yang terbuka sedikit oleh Dimas, menunjukkan pola penutupan angka yang selama ini disembunyikan. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Arga tidak lagi menjadi pion.